Kompas.com - 05/06/2014, 12:52 WIB
EditorI Made Asdhiana

Keindahan yang tersaji seolah bergegas cepat menyergap seluruh panca indera. Sungguh sebuah keindahan yang nyata yang membuat napas seolah terhenti ketika menyaksikannya. Resapi dan nikmati hingga ke tulang sumsum, lalu dekap di dada sebagai sebuah pengalaman yang tak lekang.

Apabila matahari semakin tinggi, keindahan itu tetap ada. Terekam di hamparan sawah yang luas menghijau, sosok Gunung Sesean yang berdiri kokoh di antara awan dan panorama Rantepao dari kejauhan. Kehidupan warga yang bersahaja, melengkapi keindahan yang ada.

Salah seorang penjaga Mentirotiku guest house, Paulus Payung (25), menuturkan, satu tahun terakhir, semakin banyak wisatawan berkunjung ke Batutumonga. Tidak hanya pada saat akhir pekan, kunjungan wisatawan juga tercatat di hari-hari biasa. ”Biasanya mereka menginap dua-tiga hari untuk menikmati pemandangan Toraja dari Batutumonga,” kata Paulus.

Tak hanya tongkonan milik Pong Tiku, ratusan tongkonan lain tersebar di bukit-bukit Batutumonga. Banyak dari tongkonan itu merupakan bangunan baru yang dibangun oleh orang-orang Toraja yang merantau di perkotaan. Mereka biasanya pulang pada akhir tahun, meluangkan beberapa hari tinggal di tongkonan sebelum kembali merantau.

Tokoh masyarakat Toraja yang menerima anugerah kebudayaan 2004 dari pemerintah pusat Tinting Sarungallo (63) yang telah beberapa kali membuat tongkonan—salah satunya di museum nasional Jepang—menyatakan bahwa nenek moyang orang Toraja sengaja membuat rumah tongkonan berbentuk mirip kapal. ”Kakek kami dari langit, nenek dari dalam air. Ketemu di sumur lahirlah saya. Banyak anak Toraja walau hidup di gunung, tapi jadi pelaut andal,” tambah Tinting.

Tongkonan ini memiliki perbandingan ukuran satu banding 2-3 (panjang banding lebar). Untuk membuat tongkonan berukuran 4 meter x 10 meter butuh total biaya hingga Rp 400 juta. Ruang di tongkonan terdiri tiga bagian yang biasanya difungsikan sebagai dapur, ruang tidur, dan ruang makan.

Awal tahun 1960-an, tongkonan sempat dianggap sebagai rumah berhala. Seiring munculnya kesadaran untuk melestarikan tradisi diiringi membaiknya perekonomian, semakin banyak generasi muda Toraja tertarik membangun Tongkonan. ”Mereka mulai mencintai tongkonannya. Kembali ke Toraja melihat tongkonan seolah melihat orangtuanya,” tambah Tinting.

Makam tua

Di Batutumonga pula, wisatawan bisa dengan mudah berkunjung ke makam-makam kuno yang berceceran di kiri kanan jalan. Makam tua yang menarik untuk disinggahi adalah Bori Parinding di Kecamatan Sesean dan Lo’ko Mata di Kecamatan Sesean Suloara.

Bori Parinding adalah sebuah kompleks pemakaman tua yang mulai dipakai pada tahun 1717. Jenazah yang dimakamkan di Bori Parinding merupakan keluarga bangsawan keturunan Nenek Ramba. Salah satu yang unik di pemakaman ini adalah keberadaan batu-batu menhir berukuran raksasa yang terletak di halaman depan Bori Parinding.

KOMPAS/LASTI KURNIA Salah satu pintu kuburan batu di kompleks pemakaman Lo’ko Mata, Lembang Tonga Riu, Kecamatan Sesean, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Rabu (30/4/2014).
Batu-batu menhir tersebut digunakan sebagai tiang untuk mengikat hewan-hewan yang akan disembelih saat upacara pemakaman atau rambu solo digelar. Hewan-hewan tersebut antara lain kerbau, anoa, dan sapi. Untuk kalangan bangsawan, kerbau yang disembelih jumlahnya 24 ekor dengan harga kerbau mulai dari Rp 20 juta hingga Rp 1 miliar per ekor.

Di Bori Parinding, selain terdapat makam-makam tua untuk orang dewasa, juga terdapat makam untuk bayi yang ditanam di dalam tubuh pohon tarra. Usia pohon tarra diperkirakan sudah mencapai ratusan tahun. Berbeda dengan Bori Parinding, Lo’ko mata hanya menyajikan bongkahan batu sebesar satu bukit kecil yang bisa memuat ratusan makam dengan 30-40 jasad per lubang. (Dwi As Setianingsih & Mawar Kusuma)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.