Kompas.com - 09/06/2014, 08:41 WIB
Pasangan turis dari Belanda memanfaatkan waktu singgah kapal pesiar yang membawa mereka dengan berjalan-jalan di Kawasan Kota Lama, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/1/2012). KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASAPasangan turis dari Belanda memanfaatkan waktu singgah kapal pesiar yang membawa mereka dengan berjalan-jalan di Kawasan Kota Lama, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (6/1/2012).
EditorI Made Asdhiana
PADA pertengahan abad ke-18, nama Semarang tersohor sebagai kota modern yang menguasai perdagangan dunia, yang dikendalikan dari sebuah kawasan kecil di pesisir pantai utara Jawa. Kawasan itu dijuluki ”Little Netherland” atau Belanda Kecil.

Namun, semenjak penjajah angkat kaki dari negeri ini, kemegahan kota yang dibangun dari hasil bumi, seperti gula, kapuk, karet, kopra, dan rempah-rempah, melalui kerja paksa kaum pribumi, itu pudar dan nyaris hilang dari ingatan orang.

Kawasan yang disebut Venesia dari Timur itu—karena mempunyai kanal dan kali yang menjadi sarana transportasi dari laut menuju perkotaan—kini berubah. John Joseph Stockdale dalam buku Island of Java menulis bahwa pada zaman kolonial di sekitar Jembatan Mberok, yang berdiri di atas Kali Semarang, dipenuhi kapal pedagang dari Eropa, Tiongkok, India, dan pulau lain di Nusantara. Kini, kali tersebut dipenuhi sedimen. Airnya berwarna kehitaman dan menebarkan bau tidak sedap. Wajah sungai pun tertutup bangunan liar.

Banjir rob (limpasan air pasang laut) dan waktu terus memakan semua bangunan peninggalan penjajah itu. Ditambah ambisi sejumlah investor merombak wajah kota dengan bangunan modern, menjadikan Kota Lama Semarang bagai berada di tengah persimpangan jalan. Tak jelas ke mana arahnya.

Sejauh ini, upaya Pemerintah Kota Semarang dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk merevitalisasi kawasan ini nyaris tak kelihatan. Kecuali membangun paving block di jalan dan kawasan kota tua serta membentuk Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), belum ada program konkret terkait penyelamatan kota lama.

Kendati memiliki daya tarik wisata yang kuat sebagai kota tua yang dipenuhi bangunan dengan arsitektur Eropa yang menawan, upaya Pemkot Semarang untuk mendorong kawasan ini sebagai destinasi pariwisata masih terlihat setengah hati. Semua berujung pada alasan klasik, tak punya anggaran.

Masa lalu

Heeren Straat atau Jalan Toean-Toean Besar (kini Jalan Letjen Suprapto) masih ada. Di situ berjejer gedung bertingkat yang berfungsi sebagai perkantoran, pertokoan, tempat ibadah, dan rumah tinggal orang kaya. Begitu juga Hogendorp Straat (kini Jalan Kepodang) yang dipenuhi gedung bertingkat untuk kantor perbankan dan perusahaan besar, seperti perusahaan milik raja gula Oei Tiong Ham, juga masih berdiri.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Warga keturunan Tionghoa mengikuti tradisi peringatan kedatangan Kongco Sam Poo Tay Djien atau dikenal sebagai Cheng Ho di kawasan Pecinan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (6/8/2013). Diperkirakan pada abad XV, Laksamana Cheng Ho dengan armada baharinya mengarungi samudra untuk mengunjungi Asia dan Afrika.
Beberapa bangunan dengan balkon, yang beberapa bagiannya sudah lapuk, seakan menjadi saksi romantisisme noni Belanda yang duduk santai di atas balkon menanti tenggelamnya sang mentari.

Bahkan, Remy Sylado dalam novelnya, Namaku Mata Hari, menggambarkan Mata Hari, seorang penari keturunan Jawa-Belanda yang menjadi mata-mata Perancis sekaligus Jerman, pernah berjalan-jalan di kawasan Kota Lama Semarang. Dengan menggunakan cikar (pedati), dia berkeliling kota melalui Jembatan Mberok (dari bahasa Belanda burg yang berarti ’jembatan’) hingga Gereja Blenduk (Koepelkerk) di tengah Heeren Straat.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Satu Kapal Feri Per Hari Disiapkan untuk Travel Bubble Indonesia-Singapura

Satu Kapal Feri Per Hari Disiapkan untuk Travel Bubble Indonesia-Singapura

Travel Update
Minho SHINee Jadi 'Guide' untuk Gwanghwamun, Korea Selatan

Minho SHINee Jadi "Guide" untuk Gwanghwamun, Korea Selatan

Travel Update
Asita Sambut Baik Uji Coba Travel Bubble Indonesia-Singapura, tetapi...

Asita Sambut Baik Uji Coba Travel Bubble Indonesia-Singapura, tetapi...

Travel Update
Zeround EduPark Pangandaran Segera Buka, Kenalkan Aneka Jenis Reptil

Zeround EduPark Pangandaran Segera Buka, Kenalkan Aneka Jenis Reptil

Jalan Jalan
Berburu Kuliner Legendaris di Kwitang Jakarta Pusat, Ada Es Krim Baltic sejak 1939

Berburu Kuliner Legendaris di Kwitang Jakarta Pusat, Ada Es Krim Baltic sejak 1939

Jalan Jalan
5 Fakta Menarik Gedung Sarinah yang Akan Dibuka Kembali Maret 2022

5 Fakta Menarik Gedung Sarinah yang Akan Dibuka Kembali Maret 2022

Jalan Jalan
13 Wisata di Majalengka Jawa Barat, dari Curug hingga Terasering

13 Wisata di Majalengka Jawa Barat, dari Curug hingga Terasering

Jalan Jalan
Abang Expo 2022 di Lhokseumawe, Ada Pameran Foto sampai Pemuataran Film

Abang Expo 2022 di Lhokseumawe, Ada Pameran Foto sampai Pemuataran Film

Jalan Jalan
Bukit Jamur Ciwidey, Wisata Alam Pohon Cemara dan Kebun Teh

Bukit Jamur Ciwidey, Wisata Alam Pohon Cemara dan Kebun Teh

Jalan Jalan
Thamrin Skycrapers, Kenali Sejarah Gedung-gedung Pencakar Langit Sambil Jalan Kaki

Thamrin Skycrapers, Kenali Sejarah Gedung-gedung Pencakar Langit Sambil Jalan Kaki

Jalan Jalan
Makan Steak Anti-mainstream di Docafe Surabaya

Makan Steak Anti-mainstream di Docafe Surabaya

Jalan Jalan
6 Wisata Sekitar Gunung Bromo, Ada Air Terjun Tertinggi di Jawa

6 Wisata Sekitar Gunung Bromo, Ada Air Terjun Tertinggi di Jawa

Jalan Jalan
Sandiaga Uno: TMII Sedang Ditata Ulang untuk Hadirkan Wajah Baru

Sandiaga Uno: TMII Sedang Ditata Ulang untuk Hadirkan Wajah Baru

Travel Update
5 Penginapan di Sentul dengan Pemandangan Alam, Cocok untuk Keluarga

5 Penginapan di Sentul dengan Pemandangan Alam, Cocok untuk Keluarga

Jalan Jalan
Aturan Terbaru Aktivitas di Mal dan Bioskop untuk Wilayah Jabodetabek

Aturan Terbaru Aktivitas di Mal dan Bioskop untuk Wilayah Jabodetabek

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.