Kompas.com - 18/06/2014, 16:55 WIB
EditorI Made Asdhiana
KARANGHAWU atau biasa dikenal dengan Gunung Hawu merupakan salah satu goa vertikal yang terdapat di Jawa Barat, tepatnya di Kampung Cidadap, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Karanghawu juga merupakan salah satu wilayah yang termasuk dalam kawasan karst Citatah.

Peserta Komunitas Mata Bumi Indonesia melakukan perjalanan Geotrek Lintas Karst Rajamandala, Sabtu (14/6/2014), dengan mengunjungi Karanghawu terlebih dahulu. Karanghawu sendiri berjarak tidak jauh dari Jalan Raya Ciburuy. Untuk menuju titik pemberhentian pertama dapat ditempuh dengan waktu 15 menit menggunakan kendaraan. Dari titik pemberhentian yang pertama, untuk mencapai puncak yang menjadi pintu goa vertikal tersebut, peserta harus melewati jalan setapak yang agak curam. Jalan setapak yang dipenuhi tanah merah itu menjadi kesulitan sendiri untuk mencapai puncak melihat pintu goa vertikal tersebut.

Dari puncak tersebut, pintu goa yang melingkar tak beraturan dengan diameter 30 meter itu memang tidak terlihat seutuhnya. Namun lingkaran yang tak beraturan tersebut menjadi pintu masuk ke dalam goa vertikal yang memiliki kedalaman 90 meter itu. Selain dapat melihat sedikit pintu masuk goa Karanghawu, di puncak ini pun mata terasa dimanjakan oleh pemandangan- pemandangan pegunungan lainnya. Karanghawu sendiri berdampingan dengan tebing 125, tebing alam yang sangat akrab dengan para pemanjat tebing.

Selain itu keindahan lainnya pun terdapat di sisi samping kanan goa yang menghadap ke arah selatan. Di sisi tersebut terdapat lingkaran besar dengan diameter kurang lebih 20 meter. Untuk melihat secara jelas lingkaran yang berada di sisi sebelah kanan tersebut, para peserta harus menempuh jarak satu kilometer menuju kaki Karanghawu.

Sama halnya saat mendaki menuju puncak Karanghawu, saat menuju kaki Karanghawu pun tanah merah menjadi kesulitan dalam melakukan perjalanan. Berjalan menuju bawah kaki Karanghawu, kepala para peserta tak henti-hentinya menengadah untuk melihat keindahan Karanghawu dari bawah.

Tepat di bawah kaki Karanghawu, mata dimanjakan oleh pemandangan yang menakjubkan. Lingkaran besar terlihat di hadapan mata. Melihat kemegahan goa Karanghawu yang terbentuk akibat hujan sehingga terjadi pelarutan antara gunung yang merupakan batuan gamping atau batuan kapur sehingga pelarutan itu mengakibatkan runtuhnya bagian tengah dan membentuk goa vertikal.

Pegiat kelompok Riset Cekungan Bandung, T Bachtiar, mengatakan, goa vertikal tersebut merupakan hasil dari batu kapur yang terdiri atas kalsium karbonat yang mudah larut dalam air sehingga air hujan dapat memproses terbentuknya gua tersebut.

"Bukit-bukit kapur yang terangkat itu lalu ditimpa air hujan. Air hujan yang tertangkap oleh tetumbuhan meresap ke dalam melalui celah-celah, melarutkan batu kapur, membentuk rongga, celah dan membesar menjadi ceruk, lalu menjadi goa," ujarnya di lokasi.

Pohon-pohon liar pun mengelilingi lingkaran lubang di sisi kanan goa Karanghawu yang semakin menunjukkan kealamian goa tersebut. Selain itu, bila melihat dari kaki Karanghawu, di atas lingkaran sebelah sisi pun terdapat natural bridge atau jembatan alami yang terjadi akibat proses terbentuknya goa vertikal tersebut. Di seluruh dunia, natural bridge juga terdapat di Amerika, seperti natural bridge Virginia dan arches national monument di Utah.

Bila diartikan, hawu yang dalam bahasa Indonesia berarti tungku, salah satu peranti untuk memasak pada zaman dahulu. Goa Karanghawu pun bentuknya menyerupai bentuk tungku pada umumnya. Bila dilihat dari kaki Karanghawu dapat terlihat jelas bagaimana bentuk tungku pada umumnya. Lingkaran yang menjulang ke atas terlihat sebagai cerobong untuk mengeluarkan asap, sedangkan lingkaran di sisi yang menghadap ke selatan terlihat seperti tempat untuk memasukkan kayu bakar.

Dosen Geologi ITB yang juga anggota Riset Cekungan Bandung, Budi Brahmantyo, mengatakan Karanghawu merupakan salah satu goa yang langka di Indonesia. Karena bentuk goa yang vertikal, Karanghawu menjadi salah satu goa yang memiliki keeksotisan alam yang terdapat di kawasan karst Citatah.

"Ini merupakan salah satu fenomena yang langka, jadi natural art seperti itu. Di kawasan karst mana pun di Indonesia itu langka," ujarnya.

Namun, keindahan kawasan Karang Hawu tidak luput dari permasalahan. Salah satu permasalahan yang disorot oleh Budi ialah adanya kegiatan penambangan. Hal itu menurutnya menjadi salah satu penyebab kerusakan yang dapat mengotori keindahan kawasan Karanghawu. "Medan ke arah sana rusak. Seharusnya ke sana itu dengan jalur yang nyaman, dengan jalur yang sejuk dengan fenomenanya yang sejuk, malah sekarang itu jadi berbahaya kalau jalan menyusuri sana," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.