Ditegur UNESCO, Pengelola Subak Perlu Didampingi

Kompas.com - 20/06/2014, 10:33 WIB
Sistem pengairan subak dan terasering serta pupuk organik dari kotoran hewan diterapkan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (2/2/2011).  KOMPAS/AGUS SUSANTOSistem pengairan subak dan terasering serta pupuk organik dari kotoran hewan diterapkan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Rabu (2/2/2011).
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS — Sistem pengairan Subak di Bali, yang sejak 2012 menjadi warisan dunia yang diakui Organisasi Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO), harus dikelola dengan benar dan serius. Badan pengelola Subak harus didampingi dan dipantau agar terus bekerja dan tidak menyimpang. Hal itu karena UNESCO telah dua kali menegur pengelolaan Subak.

”Dengan menjadi warisan dunia berarti cagar budaya bisa dikenal dunia. Namun, kadang-kadang warisan dunia ternoda oleh kegiatan pariwisata yang tidak terkontrol dan terencana dengan baik. Kita giat mengusulkan, tetapi seakan mengabaikan pemeliharaan,” kata pengamat cagar budaya dan museum Djulianto Susantio, di Jakarta, Rabu (18/6/2014).

Tidak hanya Subak yang mendapat teguran. ”UNESCO juga pernah mengancam akan mencabut Candi Borobudur karena semrawutnya pedagang serta penataan sarana lain,” sambung Djulianto.

Mengenai pendampingan badan pengelola Subak, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti mengatakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) sudah mengawasi dan mendampingi pengelola. Dua kali teguran cukup menampar mengingat Subak baru ditetapkan sebagai warisan dunia dua tahun lalu setelah perjuangan selama 12 tahun.

Antropolog Universitas Gadjah Mada PM Laksono mengatakan, urusan cagar budaya, apalagi warisan dunia, memang kadang-kadang rumit. ”Pencagaran terkadang lebih urusan politis dari pada konsistensi jiwa raga,” katanya.

Taman Mini

Bagi Wiendu, Kemdikbud mengusahakan mengusulkan satu warisan nasional menjadi warisan dunia setiap tahun. Tahun ini, misalnya Taman Mini Indonesia Indah (TMII) diusulkan, menyusul nanti empat tarian sakral dari Bali dan jamu.

”TMII sudah diajukan enam tahun lalu karena merupakan representasi arsitektur tradisional di seluruh Indonesia bahwa arsitektur Nusantara terlindungi. Sudah ada sidang pendahuluan pekan lalu, sidang lagi November 2014 di Paris. Kami masih terus membahas kemungkinan-kemungkinannya,” kata Wiendu.

Saat ini Indonesia memiliki 65.000-an cagar budaya berwujud benda. (IVV)



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X