Menggiring Turis ke Kebun

Kompas.com - 20/06/2014, 13:29 WIB
Wisatawan berpose di Flying Cow Ranch, Taiwan. KOMPAS/NUR HIDAYATIWisatawan berpose di Flying Cow Ranch, Taiwan.
EditorI Made Asdhiana
PARA petani di Taiwan sungguh bergairah memikat turis berwisata ke lahan pertanian. Dari semula sekadar bertani, kini mereka mengolah hasil kebun menjadi aneka produk apik dan menarik. Kebun pun tumbuh menjadi resor yang menawan.

Di antara tebing dan lembah, pohon buah-buahan merebak segar. Matahari pagi belum beranjak terlalu tinggi ketika Kompas tiba di salah satu puncak di kawasan Gunung Dayuan, Taiwan, Mei 2014. Sebuah gendang besar digantungkan di pendapa kayu terbuka di atas bukit berangin itu. Menghadap lembah hijau.

”Tidak akan ada yang terganggu kalau Anda mau memukul keras-keras gendang itu di sini,” ujar Ping, pemuda yang mengantar kami mendaki bukit itu. Ajakan itu tampaknya selalu disambut penuh semangat oleh para tamu. Burung elang pun terbang rendah mengepakkan sayap di atas bukit, seolah ikut menyambut bebunyian gendang.

Bukit ini adalah bagian dari Shangrila Leisure Farm Resort, sebuah resor pertanian untuk bersantai. Pemandangan indah bukan satu-satunya yang ditawarkan perkebunan yang memproduksi beragam buah dan sayur organik ini.

Wisata kuliner adalah salah satu daya tarik lain. Menu ala pedesaan disajikan dengan cantik, diolah dari sayur dan buah organik produksi kebun sendiri, dikombinasikan dengan produk pangan hewani yang dihasilkan peternak di sekitar kebun ini.

KOMPAS/NUR HIDAYATI Penginapan di Flying Cow Ranch, Taiwan.
”Makanan berkualitas terbaik adalah produk organik dan lokal di sekitar kita. Produk yang kita tahu persis dari mana asalnya dan bagaimana diolahnya,” ujar Leo Fang dari Taiwan Leisure Farms Development Association (TLFDA), organisasi nirlaba yang dibentuk para pemilik resor pertanian untuk bekerja sama mengembangkan usaha berbasis lingkungan dan pertanian itu.

Shangrila begitu serius menggarap pasar dalam dan luar negeri sehingga restoran di resor ini juga bersertifikat untuk menyediakan menu halal. Menu itu dimasak di dapur terpisah dengan penyuplai khusus bahan makanan hewani yang halal. Makanan halal juga disajikan dengan peralatan makanan bertanda yang hanya digunakan untuk menyajikan menu halal.

Upaya memperoleh sertifikat halal yang mesti diuji dan diperbarui tiap tahun sesuai acuan standar Malaysia itu menunjukkan kesungguhan menggaet pengunjung Muslim dari negara-negara tetangga. Di Taiwan sendiri, di antara sekitar 23 juta penduduk terdapat 60.000 anggota komunitas Muslim. ”Akhir tahun ini sudah akan terdapat 12 resor pertanian yang bersertifikat halal di Taiwan”, kata Leo Fang.

Ping bercerita, ayahnya, Chang Ching-lai (62), mulai membangun perkebunan yang menjadi cikal bakal Shangrila itu 35 tahun lalu. Ayahnya melewatkan masa kecil dan remaja sebagai buruh kasar agar bisa sekolah dan menjadi pegawai negeri sipil, jabatan bergengsi di Taiwan pada 1970-an. Kenyataannya, hanya beberapa pekan bekerja sebagai pegawai, Chang memutuskan kembali ke desa, bekerja di lahan pertanian dan berdagang hingga ia berhasil membeli dan mengolah tanahnya sendiri pada 1980.

Karena rezim perdagangan bebas dunia, petani di Taiwan, seperti juga di negara-negara berkembang lain, diempas krisis akibat limpahan produk pertanian impor yang lebih murah. Chang menyiasati hal itu dengan belajar memberi nilai lebih pada lahan dan hasil bumi yang ia panen. Mula-mula, ia mempersilakan pengunjung ikut memanen.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X