Kompas.com - 21/06/2014, 19:10 WIB
EditorI Made Asdhiana

Sejak tahun 2006, saat Sail Indonesia digelar, yacht para peserta selalu merapat di pantai itu. Pantai Teddys menjadi pintu gerbang masuk ke Indonesia. Di Teddys, turis-turis asing mendapat gambaran tentang Indonesia secara keseluruhan.

”Tetapi, pantai itu tidak ditata bagus atau bertaraf internasional. Turis asing kesulitan mendapatkan suku cadang yacht, money changer, kantor bea dan cukai, kantor karantina, pasar tradisional berstandar internasional, dan kebutuhan turis lainnya,” kata Teddy.

Kini, Teddy mempekerjakan 50 orang. Para pekerja itu adalah putra daerah yang diselamatkan Tanonef dari tangan calo tenaga kerja—terutama pekerja wanita—ke Malaysia. Ia menegaskan, untuk menghindarkan kasus-kasus perdagangan manusia yang menimpa warga NTT selama ini, sebenarnya banyak peluang usaha yang dapat dilakukan untuk mempekerjakan ribuan putra NTT.

Teddy mengatakan, untuk memajukan pariwisata NTT, perilaku dan mental masyarakat, terutama yang berdiam di dekat obyek wisata, harus diubah. ”Mereka harus lebih ramah dan sopan terhadap turis. Perilaku mabuk-mabukan, kemudian meminta uang kepada turis asing, dan mengancam atau mengintimidasi warga asing tidak boleh ada,” kata Teddy.

Untuk itu, dia melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah, pelaku usaha pariwisata, dan agen biro perjalanan. Teddy juga melakukan pelatihan untuk pemandu wisata dan sopir bus (travel).

Jika pariwisata NTT maju, perlu dihadirkan konsultan pariwisata. Konsultan ini membawahkan persatuan guide, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serta agen perjalanan. Konsultan harus berasal dari orang yang profesional di bidang pariwisata.

Terkait rencana pemerintah membangun kerja sama Kupang-Dili (Timor Leste)-Darwin (Australia), dia berpendapat kerja sama itu sebagai peluang ”emas” membangun pariwisata NTT. ”Kupang dan daerah lain NTT memiliki empat kekuatan, yakni so close, so cheap,dan so different (unique). Ini sangat disukai turis asing sehingga harus dipersiapkan serius,” kata Teddy.

Pariwisata di daerah itu terus berkembang. Jika pada awalnya yacht masuk ke Pantai Teddy hanya 24 unit pada 2006, jumlah tersebut terus meningkat hingga kini mencapai 600 unit. Pantai itu dinilai sangat cocok untuk yacht karena kondisi laut tenang, posisi pantai landai, dan berpasir putih halus.

Selain Pantai Teddys, pria yang menekuni karier di bidang transportasi kota Sydney, Australia, 1978-1983, dengan nama Taxi Legian ini juga membuka pantai wisata di Lasiana, Kota Kupang, yang saat ini ramai dikunjungi warga Kota Kupang.

”Ketika itu, turis asing datang ke Pantai Teddys, saya ajak mereka mandi di Pantai Lasiana, sekitar 10 kilometer dari Teddys. Saya juga merintis tempat wisata pantai di Oe Asa, Pulau Semau, yang saat ini menjadi tempat pemandian turis yang berkunjung ke sana, dan Pantai Tablolong, sekitar 30 kilometer dari Kota Kupang. Semua itu saya rintis untuk mengembangkan wisata pantai di daerah ini,” ujar Teddy. (KORNELIS KEWA AMA)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.