Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Spa, Kekuatan Baru Pariwisata Indonesia

Kompas.com - 22/06/2014, 17:10 WIB
PUTU Eka (38), warga Denpasar, perlahan memijat betis seorang pelanggannya di salah satu rumah jasa refleksi di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, akhir Mei lalu. Ia senang dengan pekerjaannya sebagai terapis yang dipelajari di salah satu kursus singkat mengenai refleksi. Hanya saja, ia mengeluh dengan persaingan kurang sehat antar-terapis karena sebagian mereka hanya asal memijat tanpa memiliki dasar kursus.

”Padahal, terapis itu tidak bisa sembarangan memijat karena memang ada aturannya,” kata Eka.

Menurut dia, ada titik-titik tertentu yang tak boleh dipijat. Salah-salah pijat bisa membuat sakit pelanggan. Namun, Eka kesal karena beberapa terapis hanya belajar asal, tidak memiliki piagam kursus yang diakui.

Hal senada dikeluhkan Sulistiyani Supriadi, pemilik kursus terapis. Ia berharap pemerintah meningkatkan pengawasan dan kontrol kepada terapis-terapis dan rumah spa ataupun refleksi yang menampung mereka. Ia berharap masyarakat bisa mendapatkan perawatan terapis spa dari jari-jari yang benar dan bersertifikat.

Kekhawatiran ini muncul dan menjadi keprihatinan bersama dalam Konferensi Nasional Pengembangan Heritage Spa Indonesia, di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Mei lalu. Dalam konferensi itu hadir pakar-pakar dan praktisi spa dari sejumlah daerah, termasuk 1.000 terapis yang memecahkan rekor Muri memijat bersamaan di Pantai Sanur.

Gaya hidup

BRA Mooryati Soedibyo sebagai Ketua Asosiasi Spa Indonesia (ASPI) sekaligus pengusaha ini berharap pemerintah memperhatikan persoalan terapis. Bahkan, ia mengatakan, pemerintah bisa memperhatikan masa depan spa ini.

Bagi Mooryati, spa sudah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian orang hingga dunia. Gaya spa, menurut dia, bisa menjadi pengobatan dan perawatan kebugaran, baik perempuan maupun laki-laki. Ia khawatir citra spa bisa makin negatif jika persoalan seperti banyaknya terapis abal-abal ini merajalela.

”Negara-negara lain sudah lebih maju dalam kontrolnya. Mengapa Indonesia tidak bisa. Apalagi, Indonesia memiliki keragaman terapi air (spa) ini di beberapa daerah seperti di sembilan daerah,” kata Mooryati.

Asosiasi menonjolkan sembilan daerah mengenai terapi air (spa) mulai dari pemijatan hingga ramuan tradisionalnya, meski tidak tertutup kemungkinan masih banyak kekayaan daerah lainnya.

Sembilan terapi itu adalah Martup Batak, Batangeh Minang, Tangas Betawi, Lulur Jawa, So’oso Madura, Boreh Bali, Batimung Banjar, Tellu Sulapa Eppa Bugis, dan Bakera Minahasa. Ini juga sudah masuk dalam andalan pariwisata Indonesia, hanya saja promosinya belum maksimal.

Wisata kesehatan

Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Firmansyah Rahim mengatakan, pihaknya berupaya terus memperkenalkan wisata kesehatan spa ini sebagai daya tarik Indonesia. Ia mengakui wisatawan masih belum menjadikannya sebagai tujuan wisata.

Menurut dia, ini harus menjadi gerakan bersama dalam promosi. ”Kemasan promosi harus lebih menarik, seperti menambahkan cerita atau sejarah terkait pemijatan dan ramuan tradisional ini,” katanya.

Selain itu, ia menjanjikan meningkatkan kerja sama dengan Kementerian Kesehatan. Kerja sama ini penting, lanjut Firmansyah, karena ramuan tradisional dengan penelitian dan kontrol bisa menjadi obat alternatif sesuai penyakitnya.

Suprijantoro, Sekjen Kementerian Kesehatan, mengatakan, ramuan tradisional ini merupakan peluang karena sebagian masyarakat secara psikologis percaya khasiatnya. Karena itu, pihaknya mendukung dan berjanji terus meneliti ramuan-ramuan yang beragam di seluruh Nusantara.

Pihaknya, ujar Suprijantoro, berupaya mendukung pengembangan jamu-jamu ini melalui puskesmas. Hanya saja, lanjutnya, sistem dan teknisnya belum berjalan maksimal. Ini termasuk persoalan terapis yang tak bersertifikat yang nekat ke luar negeri dan ini berdampak kepada pencitraan, begitu pula di dalam negeri.

Konferensi tersebut memunculkan Deklarasi Sanur. Isinya mengenai ketekadan memajukan ramuan tradisional, memperjuangkan terapis yang bersertifikat serta terdidik, baik dalam maupun luar negeri. Selain itu, mereka bersepakat memopulerkan spa dengan nama tirta husada. (Ayu Sulistyowati)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Bali Jadi Tuan Rumah Acara UN Tourism tentang Pemberdayaan Perempuan

Bali Jadi Tuan Rumah Acara UN Tourism tentang Pemberdayaan Perempuan

Travel Update
Hari Kartini, Pelita Air Luncurkan Penerbangan dengan Pilot dan Awak Kabin Perempuan

Hari Kartini, Pelita Air Luncurkan Penerbangan dengan Pilot dan Awak Kabin Perempuan

Travel Update
Usung Konsep Eco Friendly, Hotel Qubika Bakal Beroperasi Jelang HUT Kemerdekaan RI di IKN

Usung Konsep Eco Friendly, Hotel Qubika Bakal Beroperasi Jelang HUT Kemerdekaan RI di IKN

Hotel Story
Ada Women Half Marathon 2024 di TMII Pekan Ini, Pesertanya dari 14 Negara

Ada Women Half Marathon 2024 di TMII Pekan Ini, Pesertanya dari 14 Negara

Travel Update
5 Tempat Wisata di Tangerang yang Bersejarah, Ada Pintu Air dan Makam

5 Tempat Wisata di Tangerang yang Bersejarah, Ada Pintu Air dan Makam

Jalan Jalan
Dampak Rupiah Melemah pada Pariwisata Indonesia, Tiket Pesawat Mahal

Dampak Rupiah Melemah pada Pariwisata Indonesia, Tiket Pesawat Mahal

Travel Update
4 Tempat Wisata di Rumpin Bogor Jawa Barat, Ada Curug dan Taman

4 Tempat Wisata di Rumpin Bogor Jawa Barat, Ada Curug dan Taman

Jalan Jalan
Rusa Jadi Ancaman di Beberapa Negara Bagian AS, Tewaskan Ratusan Orang

Rusa Jadi Ancaman di Beberapa Negara Bagian AS, Tewaskan Ratusan Orang

Travel Update
5 Rekomendasi Playground Indoor di Surabaya untuk Isi Liburan Anak

5 Rekomendasi Playground Indoor di Surabaya untuk Isi Liburan Anak

Jalan Jalan
Pilot dan Pramugari Ternyata Tidur pada Penerbangan Jarak Jauh

Pilot dan Pramugari Ternyata Tidur pada Penerbangan Jarak Jauh

Travel Update
Desa Wisata Tabek Patah: Sejarah dan Daya Tarik

Desa Wisata Tabek Patah: Sejarah dan Daya Tarik

Jalan Jalan
Komodo Travel Mart Digelar Juni 2024, Ajang Promosi NTT ke Kancah Dunia

Komodo Travel Mart Digelar Juni 2024, Ajang Promosi NTT ke Kancah Dunia

Travel Update
Tips Pilih Makanan yang Cocok untuk Penerbangan Panjang

Tips Pilih Makanan yang Cocok untuk Penerbangan Panjang

Travel Tips
Harapan Pariwisata Hijau Indonesia pada Hari Bumi 2024 dan Realisasinya

Harapan Pariwisata Hijau Indonesia pada Hari Bumi 2024 dan Realisasinya

Travel Update
5 Tips Menulis Tanda Pengenal Koper yang Aman dan Tepat

5 Tips Menulis Tanda Pengenal Koper yang Aman dan Tepat

Travel Tips
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com