Bertemu Bu Padma di Pantai Laut Merah

Kompas.com - 25/06/2014, 00:55 WIB
Padma, 52, penjual kurma di Pantai laut Merah, Jeddah. Kompas.com/Jodhi YudonoPadma, 52, penjual kurma di Pantai laut Merah, Jeddah.
EditorJodhi Yudono

Catatan Kaki Jodhi Yudono

KOMPAS.com — Terpisah dari negeri sendiri ribuan mil jauhnya awal Juni lalu, hidup terasa lebih enteng. Setidaknya, untuk beberapa hari ke depan saya tak akan menyaksikan televisi kita yang sebagian di antara siarannya menayangkan iklan kampanye capres dan cawapres. Belum lagi stasiun-stasiun televisi partisan yang sudah kehilangan akal sehatnya, yang dengan semena-mena mengabaikan prinsip-prinsip jurnalistik karena menayangkan berita soal capres/cawapres yang tak berimbang, dan otomatis juga menyalahgunakan pemakaian frekuensi milik umum secara ngawur karena memaksa pemirsa menonton apa yang hanya disukai pemilik stasiun televisi partisan itu.
 
Tak cuma televisi, koran dan media online untuk sementara waktu juga bisa saya hindari. Media-media tersebut juga tak kalah riuhnya dalam memberitakan capres/cawapres. Sama dengan televisi, media cetak dan online juga ada yang terjebak pada keberpihakan. Walhasil, isi beritanya berat sebelah. Tak cuma berat sebelah, sebagian di antaranya malah jadi media fitnah.

Saya memang sengaja tak mengganti SIM card selama berada di Arab Saudi untuk menjalankan ibadah umrah. Kalaupun saya harus menghidupkan jaringan internet, itu hanya ketika menemui WiFi gratis, seperti di Bandara King Abdul Azis di Jeddah, dan saat di hotel, baik di Madinah maupun di Mekkah.

Kami tiba di Jeddah sejam sebelum waktu subuh, sekitar pukul setengah lima pagi. Toilet langsung penuh begitu kami menginjakkan kaki di Bandara King Abdul Azis. Setelah mengurus keperluan keimigrasian, lantas melaksanakan shalat subuh, kami menunggu bus yang akan mengantarkan kami ke Madinah.

Hari telah terang tanah saat bus mulai bergerak pelan meninggalkan bandara. Mengarungi lalu lintas Jeddah yang lancar pada pagi hari, saya jadi terkenang Jakarta. Sepagi ini, warga Jakarta tentu sedang tersaruk-saruk di jalanan yang macet. Lantas saya pun berharap, semoga setelah beroleh presiden baru, persoalan kronis warga Jakarta berupa kemacetan lalu lintas segera dapat teratasi.

Rupanya perjalanan kami tak lama. Sekitar 15 menit di jalan, sopir menepi ke tempat parkir. "Bapak dan ibu, kita sampai di Laut Merah. Di sini ada masjid terapung. Bapak dan ibu bisa beristirahat di sini sambil sarapan dan melihat pantai," ujar Ustaz Fuad, memberi pengumuman.

Sekawanan burung merpati langsung beterbangan saat rombongan kami tiba di pantai Laut Merah. Beberapa warga setempat tampak berjalan-jalan pagi sambil menikmati musik dari peranti audio. Yang lainnya menaburkan pakan untuk mengundang kawanan burung merpati berkumpul.

"Ayo, Ibu-ibu, korma muda, bagus untuk kesuburan," seorang pedagang dengan perawakan gemuk, suaranya mengalahkan debur ombak.

"Ayo atuh Ibu, kalau ada keluarganya yang belum punya keturunan boleh dicoba korma mudanya," tambah ibu itu.

Padma, begitu ia menyebut nama dirinya, berasal dari Garut dan sudah 19 tahun mencari penghidupan di pantai Laut Merah dengan berjualan buah kurma muda dan bakso serta aneka dagangan lainnya.

Penampilannya, sebagaimana pedagang di tepi pantai, sangat bersahaja. Namun jangan salah, Bu Padma adalah juragan, dan itu dalam arti sesungguhnya. Menurut pengakuannya, semua pedagang yang tersebar di pantai Laut Merah adalah pegawainya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X