Kompas.com - 27/06/2014, 13:32 WIB
EditorI Made Asdhiana
PERNAHKAH Anda melihat belut atau lindung? Bertubuh panjang sekitar 30 cm dilumuri cairan licin yang ada di tubuhnya dan hidup di lubang persawahan maupun sungai? Tetapi belut atau akrab disebut morea oleh masyarakat di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, tampak lain dengan biasanya. Belut dengan bahasa ilmiahnya Monopterus albrus di sini berukuran sangat besar, bisa dibilang monster. Panjangnya yang mencapai hampir 1,5 meter ini membuat kami terkejut melihatnya.

Sungai tempat hewan ini hidup, jika dilihat sekilas tak ada tanda-tanda keanehan di sini. Tetapi rasa penasaran kami pun memuncak setelah sang pawang mengajak kami menyeberangi sungai dengan arus cukup deras.

SENDY ADITYA SAPUTRA Belut raksasa atau morea di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
Entah apa yang dilakukan oleh sang pawang. Sang pawang pun mengeluarkan telur dari dalam plastik. Tak sampai 1 menit, kami dikagetkan oleh segerombolan belut besar keluar dari bawah bebatuan yang ada di sungai tersebut.

Karena mencium bau amis dari dari telur itulah belut-belut berukuran besar naik ke permukaan dan menghampiri telur untuk memakannya. Sebelumnya kami tak berani memegang belut besar ini karena melihat dengan lahapnya menghabiskan ikan momar. Tetapi sang pawang pun berbicara kepada kami, "Morea baik, tidak menyerang manusia".

Akhirnya kami pun memberanikan diri untuk memegangnya, tetapi karena bobot belut yang berat dan licin itulah kami tidak bisa mengangkat hingga ke permukaan sungai. Dengan rasa senang, kami pun mencoba memberi makan belut-belut hingga celana yang kami pakai basah terendam air.

SENDY ADITYA SAPUTRA Belut raksasa atau morea di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
Masyarakat di sekitar pun terus melestarikan keberadaan belut-belut besar ini sebagai wisata menarik di Negeri Larike. Menurut kepercayaan masyarakat di daerah ini jika memakan hewan ini dapat menimbulkan masalah besar dalam hidupnya dan akan terkena hukum adat pula. Sungguh mengerikan!

Sungguh sebuah pengalaman takkan terlupakan dapat melihat dan mengabadikan gambar belut besar yang akan mengalami kepunahan jika tidak dilestarikan dengan baik oleh masyarakat sekitar. (SENDY ADITYA SAPUTRA)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.