Watu Panjang, Simbol Berkah Krisis Ekonomi Nelayan Gunung Kidul

Kompas.com - 30/06/2014, 08:17 WIB
Gondola tradisional dari Pantai Timang ke Watu Panjang di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMANGondola tradisional dari Pantai Timang ke Watu Panjang di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
|
EditorI Made Asdhiana

WATU panjang adalah simbol berkah dari badai krisis ekonomi yang dialami nelayan Gunung Kidul tahun 1997 silam. Watu Panjang yang artinya batu panjang ditemukan secara tidak sengaja oleh penduduk desa sekitar pantai. Didorong keinginan kuat untuk keluar dari lilitan krisis ekonomi, saat itu para nelayan setempat memberanikan diri mencari hasil laut. Tak disangka, ternyata di tempat yang cukup terpencil ini para nelayan menemukan banyak lobster.

"Ini berkat keberanian para nelayan. Modal nekat Alhamdulillah jadi menghasilkan sampai sekarang," ujar Wasiman, salah seorang nelayan setempat.

Tempat terpencil ini adalah Pantai Timang. Letaknya di antara Pantai Siung dan Pantai Sundak, tepatnya di Desa Purwodadi, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Keunikan Pantai Timang adalah di seberangnya terdapat pulau kecil. Bentuk pulaunya bukan berupa pasir atau tanah melainkan batu atau tebing. Selain dinamakan Pulau Timang, penduduk biasa menyebutnya Watu Panjang.  

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Jalan menuju Pantai Timang, di Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di bawah Watu Panjang inilah para nelayan banyak menemukan lobster. “Sehari kadang sampai 20 kilo. Kalau lagi musim panen, sampai 60 kilo. Per kilonya bisa 200 sampai 300 ribu rupiah”, kata Wasiman. Lobster–lobster ini dikirim ke Jakarta untuk diekspor. Padahal untuk sampai ke Watu Panjang tidaklah mudah. Tebing dan bebatuannya banyak bertebaran dan ombaknya keras karena anginnya berasal dari laut selatan.

Tak hilang akal, akhirnya para nelayan membangun gondola tradisional berbentuk kursi berjalan. Bahasa kerennya biasa disebut flying fox. Jangan bayangkan flying fox yang modern dan canggih apalagi dengan pengamaman maksimal. Flying fox di Pantai Timang adalah ala nelayan tradisional. Tempat duduknya terbuat dari kayu dengan roda biasa diikat dan ditarik dengan tali yang tebal. "Alhamdulillah, sampai sekarang nggak pernah ada kecelakaan. Semoga jangan," ucap Wasiman.  

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Watu Panjang di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gondola tradisional ini menghubungkan Pantai Timang dengan Watu Panjang sepanjang sekitar 300 meter dengan ketinggian sekitar 50 meter dari air pantai. Saat Kompas.com mencobanya, terpaan anginnya kencang membuat gondola bergoyang keras. Cipratan ombaknya pun membuat badan menjadi basah. Jangan lihat kebawah karena lumayan menyeramkan jaraknya. Bisa dibilang jembatan ini jadi ajang uji nyali. Para nelayan tidak mematok harga bagi para turis. “Seikhlasnya saja. Kalau yang baik ya ngasihnya 200 ribuan. Kalau nggak ya 50 ribu lah nggak apa-apa he-he-he," kata Wasiman.

Pantai Timang bukanlah pantai turistik. Pantai ini masih perawan tanpa ada petunjuk jalan,  toko suvenir, atau restoran. Semuanya masih asli dan alami. Wasiman mengatakan, “Kebanyakan turis yang datang dari luar negeri. Bule. Korea juga banyak”.

Pantai Timang adalah salah satu lokasi syuting Barefoot Friends, sebuah program reality show TV SBS asal Korea Selatan. Barefoot Friends (BBF) ini menyajikan petualangan yang pesertanya  adalah artis-artis Korea terkenal seperti: Kang Ho Dong, Kim Hyun Joong, Yoon Shi Yoon, Uee After School, Kim Bum Soo, Yoo See Yoon, Yoon Jong Shin.

KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Jejeran tebing di Pantai Timang, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setidaknya butuh 3 jam perjalanan dari kota Yogyakarta. Dari Gunung Kidul ke Pantai Timang harus melalui jalur yang lumayan berat. Selain banyak tanjakan dan berkelok, jalanannya juga masih bebatuan dan sempit. Biasanya para turis menyewa mobil jip dari Pantai Andong. Harga sewa mobil jip sekitar Rp 300-400 ribu untuk antar dan jemput. Bila ingin memakai mobil sendiri disarankan jangan jenis mobil sedan.

Beratnya perjalanan terbayar sesampainya di Pantai Timang. Lelahnya hilang diterjang deburan ombak. Mata juga dimanjakan oleh indahnya tebing–tebing yang mengelilingi pantai ini. Tak salah kalau dibilang Pantai Timang adalah surga tersembunyi di Gunung Kidul.  

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X