Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Diri di Taman Kota

Kompas.com - 01/07/2014, 16:09 WIB
INGAR-bingar Singapura sebagai kota wisata belanja yang sangat konsumtif luluh saat memasuki Singapore Botanic Garden di kawasan Bukit Timah, Kamis (5/6/2014). Pohon rindang tumbuh sepanjang mata memandang, teduh dan asri. Di lapangan rumput, bocah-bocah berkulit putih berambut pirang melepas sepatu, riang bermain bola.

Taman kota seluas 74 hektar tersebut digagas Sir Stamford Raffles, pendiri Singapura modern dan seorang naturalis pada tahun 1822. Kebun Botanik Singapura itu kini masuk dalam nominasi UNESCO untuk kategori warisan budaya dunia terhitung sejak tahun 2012 lalu. Meskipun taman ini begitu terawat dengan koleksi tanaman dan pohon dari seluruh dunia, pengunjung gratis menikmati setiap hari.

”Saya paling suka taman ini karena paling alami dibandingkan dengan tempat lain di Singapura. Saya bisa ke sini kapan saja saya ada waktu luang,” kata Frederick (53), warga Austria yang bekerja di Singapura.

Banyak orang sengaja membuka bekal makan siang dan bersantap di tempat duduk di bawah rindang pohon. Di akhir pekan atau saat musim libur sekolah, tikar-tikar dihampar di lapangan rumput. Pengunjung menikmati piknik yang sempurna bersama pasangan, kolega, atau keluarga mereka.

Bagi yang mau lebih memanjakan lidah dan bersantai, ada sejumlah tempat makan unik tersedia di kebun botanik ini, termasuk yang berbau Indonesia, The Blue Bali.

Sejarah bumi

Di kebun ini, ada satu taman bertema yang menarik, yaitu Evolution Garden (Taman Evolusi). Pengunjung akan mendapati dirinya terlempar ke jutaan tahun silam saat kehidupan pertama kali muncul di bumi. Ada replika makhluk hidup pertama bersel satu hingga ke zaman Jurassic saat hewan-hewan besar hidup, seperti dinosaurus. Taman ini kemudian membawa penikmatnya ke kehidupan saat ini.

”Sudah rutin kami membawa murid kami ke sini untuk kelas luar ruang. Mereka dikenalkan pada sejarah bumi dan ternyata sangat menarik bagi anak-anak ini,” kata Aminah, guru taman kanak-kanak yang siang itu memimpin 20 muridnya bermain dan belajar di Taman Evolusi.

Taman yang multifungsi dan sarat muatan pendidikan tanpa memberatkan para pengunjung tampaknya memang serius disediakan oleh Pemerintah Singapura. Di bagian lain negeri yang hanya terdiri dari satu pulau utama ini ada kawasan baru bernama Marina Bay. Di lahan yang murni hasil reklamasi laut itu kini berdiri Gardens by the Bay yang fenomenal.

Bisa dipastikan Singapura menghabiskan banyak sekali uang untuk membangun Gardens by the Bay beserta jaringan transportasi massal, seperti MRT dan bus, juga jaringan jalan serta fasilitas lain. Namun, ternyata menikmati sebagian besar taman di tepi pantai ini pun gratis. Supertrees atau pohon-pohon raksasa buatan menjadi daya tarik yang bebas didekati siapa saja.

Pohon-pohon raksasa setinggi 30-an meter masing-masing diselimuti lebih dari 200 spesies tanaman. Pohon super ini juga dilengkapi sel-sel photovoltaic untuk memanen energi dari sinar matahari. Di malam hari, jangan lewatkan alunan simfoni merdu mengiringi permainan cahaya di setiap pohon super.

Hanya di beberapa fasilitasnya, pengunjung yang ingin masuk harus membeli tiket terlebih dulu. Dua di antaranya adalah yang selalu jadi favorit pencinta taman, yaitu Cloud Forest dan Flower Dome. Di Flower Dome, setiap orang dimanjakan dengan aneka tanaman dengan sebagian besar berbunga indah. Ada tanaman yang diatur sedemikian rupa sehingga menjadi Menara Eiffel mini di tengah taman bergaya Eropa.

Dari Flower Dome menuju Cloud Forest ada permainan interaktif seberapa banyak setiap orang bisa menebang pohon dalam hitungan detik. Di layar lebar itu tergambarkan, semakin banyak pohon hilang dari muka bumi, semakin terpuruk nasib manusia. Ketiadaan sumber air, udara tercemar, dan sebuah kondisi lingkungan yang memilukan akan menjadi tanggungan penghuni bumi selama bertahun-tahun berikutnya.

Rasa ingin turut beraksi melestarikan alam menggumpal di dada mengiringi langkah kaki menuju gerbang Cloud Forest. Di sini, segala indera dikejutkan dengan sapuan tampias dari derasnya air terjun. Titik-titik air membentuk kabut tipis menerkam pengunjung dalam dingin nan segar.

Air terjun buatan itu tumpah dari ketinggian tebing buatan penuh tanaman. Benar-benar dibuat mirip dengan kondisi vegetasi di kawasan hutan hujan tropis. Pengunjung bisa menikmati sensasi berada di ketinggian hingga serasa di atas 2.000 meter dari permukaan laut.

Ruang terbuka

Taman kota memang lekat dengan Singapura. Menyadari negaranya hanya terdiri atas satu pulau utama dengan lahan amat terbatas, Singapura memaksimalkan pemanfaatan ruang dengan memperhitungkan nilai ekonomi dan diimbangi dengan penyediaan fasilitas publik memadai. Meskipun bertabur bangunan tinggi, pohon rindang ditemukan di seluruh penjuru pulau. Kualitas udara amat baik dengan didukung jaringan angkutan publik memadai dan ketatnya aturan berlalu lintas.

Agar warga aktif mengikuti perkembangan kota dan bisa berbagi ide, ada Singapore City Gallery yang terletak di kantor pusat Urban Redevelopment Authority (URA). Di fasilitas yang terletak dekat dengan kawasan pecinan, setiap orang akan mendapatkan jawaban atas segala konsekuensi penataan dan pembangunan kota.

Di sebuah ruangan dengan layar lebar di semua dinding dan komputer berlayar sentuh, pengunjung gratis dan bebas bermain simulasi sebagai perencana kota.

”Coba saja mainkan di layar perombakan suatu kawasan lama di Singapura. Rumah-rumah kampung diratakan diganti dengan gedung-gedung tinggi. Otomatis layar akan menampilkan bagaimana kualitas udara terpengaruh dengan kebijakan ini. Masalah sosial dari yang sederhana sampai yang kompleks mungkin timbul dan mengancam kelestarian kota itu sendiri,” kata Colin Lauw dari URA.

Jadi, menurut Colin, keberimbangan amat dibutuhkan dalam pembangunan kota. Di Singapura, keaslian kawasan pecinan tetap dipertahankan dan diperkaya dengan menghidupkan berbagai aktivitas warga setempat. (NELI TRIANA)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com