Piknik Spiritual di Jeddah

Kompas.com - 03/07/2014, 09:32 WIB
Dari TKI, dengan berhemat, tekun berusaha dan keberuntungan, orang Indonesia pun bisa jadi pengusaha di Arab Saudi seperti Mang Oedin yang membuka warung bakso. National Geographic Indonesia/ChristantiowatiDari TKI, dengan berhemat, tekun berusaha dan keberuntungan, orang Indonesia pun bisa jadi pengusaha di Arab Saudi seperti Mang Oedin yang membuka warung bakso.
EditorNi Luh Made Pertiwi F

"JEDDAH berarti nenek. Kita akan melewati dan berhenti di muka makam Siti Hawa. Meskipun belum diketahui pasti kebenarannya, karena satu-satunya makam nabi dan nenek moyang yang diketahui pasti adalah makam Nabi Muhammad, mari berdoa bagi nenek kita,” tutur muthawwif (pemandu) Busyro kala kami kembali ke ibukota kedua Kerajaan Arab Saudi sejak 1985 itu, jelang kepulangan ke Tanah Air usai umrah.

Jeddah memiliki banyak julukan. Letak strategis membuatnya jadi Gerbang Dua Tanah Suci. Nyaris seluruh penerbangan internasional untuk umrah dan haji mendarat di “kota di tengah pasar” ini. Walau beberapa tahun terakhir, beberapa maskapai, termasuk dari Indonesia, ada yang langsung menuju Madinah.

Taman-taman bermain dengan berbagai patung cantik geometris sambung-menyambung sepanjang tepi pantai barat. Dari kejauhan sudah terlihat semburan setinggi 260 meter Air Mancur Raja Fahd yang dibangun 1980-1985 di tengah Laut Merah dekat Istana. Keindahannya akan lebih jelas saat senja dan malam.

Walau tak punya nilai sejarah, jamaah diajak singgah di Masjid Terapung, julukan bagi masjid putih yang dibangun menjorok ke laut hingga ketika air laut pasang akan terkesan terapung. Konon, masjid ini dibangun dari wakaf seorang wanita atas harta mendiang suami.

National Geographic Indonesia/Christantiowati Terberkatilah yang dikunjungi oleh orang Indonesia. Perniagaan akan jalan karena orang Indonesia adalah pembelanja sejati seperti di Jeddah ini.

Beberapa warga memandang laut dari lengkung-lengkung pagar batu sekeliling masjid. Pantai seputar masjid jadi favorit piknik keluarga yang menggelar alas dan bekal makanan sambil mengawasi anak-anak bermain pasir dan air laut. Saya terpana mendapati seorang anak perempuan jelang remaja dibiarkan bebas tanpa berkerudung.

Suami istri keturunan Arab menjual kue-kue kering dalam stoples plastik. Saya lebih tertarik pada ranum buah kesenangan saya, delima (Punica granatum) yang dijajakan wanita warga Indonesia.

“Kalau ruman (delima dalam bahasa Arab) lokal sudah panen, delima dari India tak laku lagi. Rasanya lebih manis,” katanya menjawab keingintahuan saya akan tumpukan delima kering di kotak kayu dekat kakinya.

Saat makan prasmanan di hotel tempat kami menginap, Red Sea Palace Hotel, saya dapati sejumlah buah segar khas jazirah Arab seperti zaitun, tin (fig), dan “mish-mish” begitulah yang saya dengar dari pelayan tentang buah yang cita rasanya sekilas mirip plum.

Banyak yang bilang, bahwa haji dan umrah itu seperti ibadah Ramadhan saja. Yang penting bukan saat pelaksanaannya, tapi bagaimana sesudahnya. Apakah latihan disiplin diri untuk beribadah ritual – shalat begitu panggilan azan tiba, misalnya, dan bersikap baik, akan terus terjaga sebagai tanda mabrur (ibadah yang diterima).  Ujian pertama langsung terlihat di Jeddah.

Hotel kami hanya beberapa langkah dari Al Balad, pusat perbelanjaan kota yang dijuluki Si Pengantin Laut Merah karena cantiknya. Usai shalat Magrib dan makan malam, alih-alih kembali ke kamar untuk menunaikan salat Isya dulu, rombongan jamaah–termasuk saya–langsung melangkah ke Al Balad.

Sejumlah pria lokal menyongsong begitu kami mendekati pasar. Mereka calo toko-toko oleh-oleh serba ada—dari karpet sampai permen kurma—yang dinamai dengan bahasa Indonesia atau Melayu seperti Toko Ali Murah. Mengarahkan agar kami berkunjung ke toko yang memperkerjakan mereka.

Azan Isya tengah bergema, dan kami duduk-duduk di depan toko yang tutup sementara sampai azan berhenti, dan tak lama kemudian membuka diri bagi calon pembeli yang sudah tak sabar mengosongkan saku sarat riyal untuk ditukar dengan berbotol-botol parfum, berkotak-kotak kurma segar dan aneka sajadah. Sebuah dinding antartoko menarik perhatian saya karena memajang iklan Indomie berdampingan denganToya, “Indomie”  made in Arab Saudi.

Sebelum balik ke hotel, para pembelanja senang melepas lelah sejenak di Bakso Mang Oedin, rumah makan tenda terbuka di pojok seberang deretan toko oleh-oleh serba ada itu. Cita rasanya, biasa saja, terlalu banyak merica. Tapi itu tak penting. Pada Umrah Ramadan, saya beruntung bertemu Mang Oedin (54) si pemiliki warung kondang ini yang datang ke Arab Saudi pada 1983 sebagai TKI berprofesi sopir. Bertahun-tahun ia merintis usaha dengan menyisihkan penghasilan hingga dikenal sebagai Raja Bakso Mekkah hingga merambah Jeddah. Dari hasil keuntungannya, ia mendirikan pesantren di kampung halamannya, Rangkas Bitung.

“Sepanjang matahari masih terbit dari timur ke barat, perusahaan ini harus tetap hidup,” tekadnya.

Semangat sekukuh gunung batu negeri para Nabi sudah merasukinya. (Christantiowati)



Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Libur Panjang, Tamu Hotel di Kabupaten Malang Mayoritas dari Surabaya

Libur Panjang, Tamu Hotel di Kabupaten Malang Mayoritas dari Surabaya

Whats Hot
Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Buka Meski Nepal Van Java Tutup

Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Buka Meski Nepal Van Java Tutup

Whats Hot
Okupansi Hotel Bintang di Banyuwangi Diprediksi Naik Saat Libur Panjang

Okupansi Hotel Bintang di Banyuwangi Diprediksi Naik Saat Libur Panjang

Whats Hot
Libur Panjang, Ketua PHRI Malang Pastikan Tiap Hotel Punya Kamar Isolasi

Libur Panjang, Ketua PHRI Malang Pastikan Tiap Hotel Punya Kamar Isolasi

Whats Hot
Napak Tilas Sumpah Pemuda, Ada Museum W.R Soepratman di Surabaya

Napak Tilas Sumpah Pemuda, Ada Museum W.R Soepratman di Surabaya

Jalan Jalan
Libur Panjang, Hari Ini Tingkat Okupansi Hotel di Kabupaten Malang Capai 60-70 Persen

Libur Panjang, Hari Ini Tingkat Okupansi Hotel di Kabupaten Malang Capai 60-70 Persen

Whats Hot
Liburan ke Gunungkidul, Saatnya Berfoto di Kebun Bunga Amarilis

Liburan ke Gunungkidul, Saatnya Berfoto di Kebun Bunga Amarilis

Whats Hot
PHRI Bali: Okupansi Hotel Diharap Naik Selama Libur Panjang

PHRI Bali: Okupansi Hotel Diharap Naik Selama Libur Panjang

Whats Hot
Libur Panjang, Lama Inap Tamu di Hotel Bogor Rata-rata 2 Hari 1 Malam

Libur Panjang, Lama Inap Tamu di Hotel Bogor Rata-rata 2 Hari 1 Malam

Whats Hot
Mendaki Gunung Prau Jalur Patak Banteng? Kuotanya 1.200 Orang Per Hari

Mendaki Gunung Prau Jalur Patak Banteng? Kuotanya 1.200 Orang Per Hari

Travel Tips
Libur Panjang, Tidak Ada Pembatasan Kuota Pendakian Gunung Lawu

Libur Panjang, Tidak Ada Pembatasan Kuota Pendakian Gunung Lawu

Travel Tips
 Kuota Pendakian Gunung Semeru Sudah Penuh Sampai 31 Oktober 2020

Kuota Pendakian Gunung Semeru Sudah Penuh Sampai 31 Oktober 2020

Whats Hot
Libur Panjang, Kuota Pendakian Gunung Gede Pangrango Diprediksi Aman

Libur Panjang, Kuota Pendakian Gunung Gede Pangrango Diprediksi Aman

Whats Hot
Wisata Virtual, 3 Museum Napak Tilas Sumpah Pemuda di Jakarta

Wisata Virtual, 3 Museum Napak Tilas Sumpah Pemuda di Jakarta

Jalan Jalan
Cuti Bersama 2020, Pekan Ini Ada Libur Panjang 5 Hari

Cuti Bersama 2020, Pekan Ini Ada Libur Panjang 5 Hari

Whats Hot
komentar di artikel lainnya
Close Ads X