Kompas.com - 04/07/2014, 10:03 WIB
EditorI Made Asdhiana
KULKAS berubah menjadi tempat penyimpanan baju di rumah Hj Hasni (31). Rumahnya yang terapung-apung di atas perairan Danau Tempe sudah lama tidak menikmati aliran listrik sejak generator set rusak. Suara keciap ayam yang berkejaran terdengar dari kolong rumah terapung tetangganya.

Kami tiba di permukiman terapung di Desa Sallotengnga, Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, setelah 45 menit berperahu. Danau Tempe dicapai setelah menyusuri Sungai Wallannae dari dermaga kecil di seberang Hotel BBC tempat kami menginap di Sengkang, pusat kota di Kabupaten Wajo. Dengan perahu bermotor sepanjang 9 meter berkapasitas lima penumpang, perjalanan terasa berayun-ayun.

Rumah panggung dari kayu yang bersisian dengan rumah batu alias rumah berdinding tembok menjadi pemandangan saat menyusuri sungai yang airnya hijau kecoklatan. Nelayan yang tengah jual beli ikan hasil tangkapannya, orang yang sedang mencuci, hingga bengkel mesin perahu di pinggir sungai menjadi santapan pandang selama perjalanan.

Banjir yang tengah melanda lima kecamatan di kabupaten itu melenyapkan tanah dari pandangan. Sawah-sawah di tepi sungai terendam dan hanya menyisakan bulir-bulir padi matang yang hanya bisa merunduk pasrah dalam genangan air. Mereka ditemani burung-burung cewiwih, kana-kana, dan lawase yang terbang rendah, juga bangau putih yang berdiri anggun di ujung bambu pembatas areal sawah.

Di dekat mulut perkampungan yang menghadap ke danau, terpasang tiang-tiang cor semen untuk melindungi rumah-rumah dari empasan eceng gondok yang dapat merobohkan rumah. Beberapa rumah juga memasang rangkaian bambu di depan rumah yang menghadap ke perairan, cara tradisional menghalau terjangan eceng gondok.

KOMPAS/LASTI KURNIA Rumah terapung di Desa Sallotengnga, di Danau Tempe, Kecamatan Sabbangparu, Wajo, Sulawesi Selatan, Sabtu (14/6/2014).
Tibalah kami di desa terapung Sallotengnga di selatan Danau Tempe. Desa terapung mulai muncul tahun 1970-an. Saat itu, warga setempat yang termasuk dalam rumpun suku Bugis mulai membuat rumah kedua mereka dan menghanyutkannya mendekati tengah danau demi memudahkan usaha mencari ikan. Dengan perahu sampan yang belum bermotor, mondar-mandir dari daratan ke danau dan sebaliknya dirasa merepotkan dan menghabiskan waktu.

Para nelayan biasa pergi memasang perangkap pada pagi atau sore hari dan memeriksa hasil tangkapan pada sore atau pagi berikutnya. Istri-istri mereka bertugas menjual hasil tangkapan atau mengolahnya menjadi ikan asin. Anak-anak yang sudah bersekolah biasanya tinggal di rumah daratan. Seminggu sekali mereka bertemu, baik di rumah terapung maupun daratan.

”Ada 100-an kepala keluarga di desa terapung ini. Dengan adanya rumah terapung, mereka tidak perlu mondar-mandir ke daratan. Paling hanya beberapa hari sekali atau seminggu sekali,” kata H Jamadi, anggota staf Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Kabupaten Wajo sekaligus pemilik perahu motor yang mengantar kami.

Rumah terapung terbuat dari kayu besi dengan gaya rumah panggung seperti halnya rumah di daratan. Bagian bawahnya rangkaian bambu yang membuat rumah dapat mengapung. Posisi rumah selalu berubah mengikuti embusan angin, misalnya siang hari menghadap timur, malam hari sudah menghadap ke selatan. Agar tidak hanyut, rumah biasanya ditambatkan dengan tali ke tiang kayu atau bambu. Jika air tengah surut, rumah-rumah terapung bergerak ke tengah danau. Pada saat banjir, rumah terapung mendekati rumah-rumah di daratan.

”Pernah suatu kali ada badai, tali tambatan putus dan atap beterbangan,” kenang Siti Rabiati (42), salah satu penduduk desa terapung.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Harga Tiket dan Jam Buka Wisata Bukit Klangon di Sleman Yogyakarta

Harga Tiket dan Jam Buka Wisata Bukit Klangon di Sleman Yogyakarta

Travel Tips
10 Wisata Indoor Bandung yang Cocok Dikunjungi Saat Musim Hujan

10 Wisata Indoor Bandung yang Cocok Dikunjungi Saat Musim Hujan

Jalan Jalan
Jalur Puncak Bogor Sudah Buka, Pengendara Tetap Diimbau Lewat Jonggol

Jalur Puncak Bogor Sudah Buka, Pengendara Tetap Diimbau Lewat Jonggol

Travel Update
4 Fakta Kebaya, Ternyata Tak Hanya Dipakai di Nusantara

4 Fakta Kebaya, Ternyata Tak Hanya Dipakai di Nusantara

Jalan Jalan
Yogyakarta Jadi Lokasi ASEAN Tourism Festival, Diharapkan Jadi Investasi Wisata

Yogyakarta Jadi Lokasi ASEAN Tourism Festival, Diharapkan Jadi Investasi Wisata

Travel Update
7 Wisata di Kemuning, Karanganyar dan Sekitarnya, Kebun Teh sampai Air Terjun

7 Wisata di Kemuning, Karanganyar dan Sekitarnya, Kebun Teh sampai Air Terjun

Jalan Jalan
Itinerary Seharian di Pekanbaru, Sunset di Jembatan Ikonik

Itinerary Seharian di Pekanbaru, Sunset di Jembatan Ikonik

Itinerary
10 Wisata Indoor di Yogyakarta yang Bisa Dikunjungi Saat Musim Hujan 

10 Wisata Indoor di Yogyakarta yang Bisa Dikunjungi Saat Musim Hujan 

Jalan Jalan
Sail Tidore Expo 2022, Ajang Promosi Wisata Urban dan Alam Kepulauan Seribu

Sail Tidore Expo 2022, Ajang Promosi Wisata Urban dan Alam Kepulauan Seribu

Travel Update
Jalan Yogyakarta-Wonosari Sudah Buka Lagi, tapi Buka-Tutup Jalur

Jalan Yogyakarta-Wonosari Sudah Buka Lagi, tapi Buka-Tutup Jalur

Travel Update
Asal-usul Kebaya yang Akan Didaftarkan ke UNESCO oleh Singapura dan 3 Negara

Asal-usul Kebaya yang Akan Didaftarkan ke UNESCO oleh Singapura dan 3 Negara

Travel Update
Longsor Bikin Jalan Yogyakarta-Gunungkidul Macet, Coba 5 Wisata di Bantul Ini

Longsor Bikin Jalan Yogyakarta-Gunungkidul Macet, Coba 5 Wisata di Bantul Ini

Jalan Jalan
Pesona Pulau Maitara Ternate, Lokasi Asli di Uang Rp 1.000 Lama

Pesona Pulau Maitara Ternate, Lokasi Asli di Uang Rp 1.000 Lama

Jalan Jalan
 Longsor Lagi, Jalur Utama Yogyakarta-Gunungkidul Ditutup Sementara

Longsor Lagi, Jalur Utama Yogyakarta-Gunungkidul Ditutup Sementara

Travel Update
Jadwal dan Harga Tiket KA Blambangan Ekspres, Semarang-Banyuwangi PP

Jadwal dan Harga Tiket KA Blambangan Ekspres, Semarang-Banyuwangi PP

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.