Kompas.com - 05/07/2014, 10:25 WIB
EditorI Made Asdhiana

Jika hanya mengandalkan pantai, pelancong hanya menginap dua hari. Seluruh pantai Belitung tuntas dikunjungi dalam waktu kurang dari 30 jam.

Oleh karena itu, Agus bersama sejumlah pebisnis pariwisata di sana mengemas berbagai paket wisata, seperti pelesir ke laut dan ke hutan Belitung. ”Untuk selam, ada di dekat lokasi kapal karam atau terumbu karang,” kata dia.

Ia juga mengemas paket wisata yang memberikan kesempatan kepada pelancong terlibat dalam kehidupan sehari-hari orang Belitung. Hidup bersama suku Sekak atau Orang Laut Belitung, tinggal bersama nelayan, atau ikut memanen lada, misalnya. ”Dengan kemasan itu, pelancong bisa menginap sampai sepekan di Belitung. Masyarakat juga merasakan dampak langsung,” ujar dia lagi.

Sementara Budi Setiawan (38) dari Kelompok Pencinta Lingkungan Belitung (KPLB) mengemas wisata konservasi. KPLB mengelola Pulau Kepayang untuk wisata dan konservasi penyu. Mereka mengembangkan wisata budaya dan konservasi mangrove di Pulau Mendanau. ”Salah satu paketnya, berpisah dari peradaban modern,” ujar Budi.

Pulau kecil yang dapat dicapai dengan menumpang perahu motor selama 40 menit dari Belitung itu memiliki beberapa daerah yang belum teraliri listrik. Sinyal telepon seluler tidak tersedia di sebagian wilayah di barat Belitung itu. ”Kami utamakan wisata minat khusus. Peneliti kemaritiman berbagai negara ingin meriset Pulau Mendanau dan sekitar Selat Nasik,” kata Budi.

Budi membuat daftar hal yang bisa diteliti di sekitar pulau itu, lalu ditawarkan kepada berbagai universitas dan lembaga penelitian di banyak negara. ”Mereka antusias sekali,” katanya.

Di Batu Mentas, mereka mengelola kawasan konservasi pelilean (Tarsius bancanus sp) bersama masyarakat setempat. Hal serupa didapatkan Didi alias Madong dan kawan-kawannya di sekitar Bukit Peramun. ”Dulu, pelilean diburu karena dianggap membawa sial. Sekarang, kami mendapat penghasilan dari menjaga habitatnya,” ujar Didi.

Sayangnya, gairah kaum muda itu belum diimbangi pemerintah. Isyak dan Agus mengaku tidak paham apa rencana pemerintah terhadap dunia pariwisata. ”Saya tidak melihat APBD difokuskan untuk pariwisata,” ujar Isyak.

Agus menilai promosi pariwisata Belitung tidak fokus. Polanya cenderung konvensional dan kurang tepat sasaran. ”Promosi oleh pemerintah sudah sering. Tinggal diperbaiki kualitas metodenya,” kata Agus.

Agus dan Isyak juga menanti kepastian Bandara HAS Hanandjoeddin diperluas dan ditingkatkan statusnya. Dengan landasan 2.250 meter dan enam penerbangan sehari, bandara itu belum menjadi pintu masuk memadai bagi Belitung. ”Belitung perlu bandara dengan landas pacu lebih panjang dan penerbangan ke pasar baru, seperti Tiongkok atau Singapura,” ujar Agus. (Kris R Mada)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.