Kompas.com - 16/07/2014, 09:21 WIB
EditorI Made Asdhiana
TERSEMBUNYI  di ujung turunan, persis di tepi persuaan Sungai Bedog dan Sungai Kontheng, Bantul, DI Yogyakarta, warung Mbok Temu berada. Mangut lelenya sungguh menaut lidah, seperti persuaan dua sungai yang menaut riwayat Mbah Temu.

Mbah Temu duduk di salah satu lincak atau bangku bambu, menyelonjorkan ke lantai tanah warung itu. Dari arah sungai, riak lembut air sesekali terdengar. Angin bersemilir menggemerisikkan dedaunan bambu. Menjelang tengah hari yang panas, warung Mbah Temu tetap sejuk. Suasana keseharian tempuran atau persuaan Sungai Bedog dan Sungai Kontheng melegakan hati yang penat menembus keruwetan lalu lintas Yogyakarta.

Wiwin, menantu Mbah Temu, muncul dari dapur berdinding kayu dan anyaman bambu, menaruh sepiring lauk tempe bacem, tahu bacem, tempe koro. Sepiring lainnya adalah mi, lauk tambahan lain yang selalu ada di warung itu. ”Mangutnya tunggu sebenar, ya, sedang dimasak. Mau minum apa,” sapa Wiwin. Selepas kami memesan teh panas khas Yogyakarta yang kental dan manis, Wiwin kembali ke dapurnya. Tak ada daftar menu di warung itu. Setiap orang yang datang ke warung Mbah Temu pastilah memburu satu menu utama, mangut lele.

Mbah Temu (65), si empunya warung, muncul melongok tamunya sambil membawakan sebakul nasi. ”Sudah matang, kok, mangutnya,” kata Mbah Temu, ramah ia bertukar kabar. Ia masuk dapur, lalu kembali dengan membawa sepiring mangut, lele goreng berkuah santan yang menebar aroma segar. Tangannya cekatan menata piring-piring keramik lawas tak seragam untuk kami.

Penyajian mangut lelenya biasa saja. Di piring tua, dua potong lele goreng basah kuyup terebus dalam kuah santan. Beberapa cabai utuh meronakan kuningnya kuah. Segera saja, sepiring nasi banjir oleh kuah santan itu, panas nasinya menguapkan wangi bawang merah dan bawang putih.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Yu Temu (65) memasak mangut lele di warung makan Yu Temu di Dusun Sembungan, Desa Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta.
Di lidah, kuah itu membalurkan aroma asap kayu bakar, cara memasak kuah mangut yang dipertahankan Mbah Temu sejak 32 tahun silam. Rasanya disegarkan rasa sunti dan kencur yang samar, sensasi bersantap kian segar karena kicau burung dan dengung kumbang terus terdengar. Warung gedheg Mbah Temu adalah perpaduan antara cita rasa mangut lele yang nyamleng dan suasana bersantap yang ”mewah” justru karena apa adanya.

Langganan para pertapa

Asal-usul warung itu pun berhulu di tempuran kali, kosakata Jawa untuk menyebut titik persuaan dua sungai. Dalam kepercayaan Jawa, tempuran dianggap lokasi magis sehingga pada malam-malam yang dikeramatkan kerap didatangi orang-orang untuk berendam di sana. Ayah Temu, Temo Diharjo, adalah ”juru kunci” tempuran itu. Setiap hari pasaran untuk bertapa, Temo Diharjo menjaga barang bawaan para pertapa.

”Itu kenapa sejak kecil saya sering bermain di sungai ini, mengikuti ayah yang menjaga para tamu yang berendam. Waktu saya berumur empat tahun, saya terseret arus dan hanyut sampai jauh. Beruntung saya ditemukan warga desa tetangga. Sejak itu, kakek saya mengganti nama lahir saya, Pariyem, dengan nama baru, Temu,” ujar Mbah Temu.

Karena penghidupan keluarga Temo Diharjo memang bertumpu kepada tempuran Sungai Bedog dan Sungai Kontheng, Temu kecil pun tak pernah jauh dari sungai. ”Akhirnya ibu saya, Paikem, berjualan teh, obat-obatan untuk pertapa yang sakit. Waktu saya masih kecil, kami tak pernah menjual makanan. Tetapi orang-orang yang berendam sering mengeluh dan memaksa berjualan makanan,” kata Temu.

”Ruang keluarga”

Temu masih ingat, 32 tahun silam Temo Diharjo membangun warung kecil di pinggir tempuran itu. Menunya masih sebatas kudapan seperti berbagai macam gorengan dan mi instan masakan Paikem dan Temu. Selain para pertapa, warung Temu juga menjadi andalan bagi para penambang pasir.

”Waktu itu, kami tidak menjual mangut lele. Itu, kan, makanan rumahan. Itu masakan ibu sehari-hari. Orang yang berendam ternyata justru suka dengan mangut lele,” kata Temu.

Kini aktivitas para petambang pasir di tempuran itu tak ada lagi. Para pertapa juga semakin jarang. Namun, warung Mbah Temu telanjur dituturkan dari mulut ke mulut dan dikenal luas, dan punya pelanggan. ”Mereka ini bukan petapa, bukan petambang pasir, dan benar-benar datang hanya untuk mencari mangut lele,” tutur Temu.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Mangut lele Yu Temu.
Cara Temu melayani pelanggan khas cara orang Jawa berdagang, semua serba secukupnya. Merasa dirinya cepat lelah, Temu tak mau memperturutkan para tamunya. ”Dulu, sehari kami bisa menghabiskan lebih dari 12 kilogram lele. Sekarang, paling banyak 8 kilogram saja. Kalau menuruti maunya tamu, kok, rasanya tak habis-habis orang datang,” katanya tertawa.

Warung itu bukan lagi tumpuan penghidupan keluarga Temu, melainkan lebih seperti kelangenan yang membuat Temu bisa berkumpul dan bercengkerama dengan semua anak-cucunya. Kelima anak dan sepuluh cucunya memang tak lagi tinggal serumah dengan Temu, tetapi semuanya masih bermukim di Kecamatan Kasihan, Bantul. Setiap siang hingga sore, para cucu Temu berkumpul dan bercengkerama dengan eyang buyutnya, Mbah Paikem yang kini berusia 88 tahun.

”Dulu, semua anak saya setiap siang juga datang ke warung ini, bekerja melayani banyaknya pelanggan. Sekarang, jangan dihitung sebagai pekerjaan, ini jadi tempat saya bertemu dengan semua cucu, tempat cucu-cucu saya menemui simbah buyutnya,” kata Mbah Temu tersenyum.

Kebahagiaan Mbah Temu dan kelezatan mangut lele menyatu dalam satu piring. (Aryo Wisanggeni G)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jelajahi Ngarai Sianok Sumatera Barat dengan Naik Jip Off-Road

Jelajahi Ngarai Sianok Sumatera Barat dengan Naik Jip Off-Road

Jalan Jalan
Jalan ke Taman Dinosaurus Potorono, Wisata Anak Yogyakarta yang Gratis

Jalan ke Taman Dinosaurus Potorono, Wisata Anak Yogyakarta yang Gratis

Jalan Jalan
Kemenparekraf Siapkan Pola Perjalanan untuk Wisatawan ke TN Komodo

Kemenparekraf Siapkan Pola Perjalanan untuk Wisatawan ke TN Komodo

Travel Update
Tips Berkunjung ke Sawah Segar Sentul Bogor, Naik Kendaraan Pribadi

Tips Berkunjung ke Sawah Segar Sentul Bogor, Naik Kendaraan Pribadi

Travel Tips
Delegasi G20 Akan Kunjungi Museum Maritim di Belitung

Delegasi G20 Akan Kunjungi Museum Maritim di Belitung

Travel Update
Peringati Haul Leluhur Setiap 10 Muharram, Warga Gondanglegi Malang Gelar Arak-Arakan

Peringati Haul Leluhur Setiap 10 Muharram, Warga Gondanglegi Malang Gelar Arak-Arakan

Travel Update
Daftar Kalender Kegiatan Pariwisata Sumatera Barat Agustus-Akhir 2022

Daftar Kalender Kegiatan Pariwisata Sumatera Barat Agustus-Akhir 2022

Travel Update
Tarif Masuk Pulau Komodo Rp 3,75 Juta Berlaku Januari 2023, Kemenparekraf: Sambil Dikomunikasikan

Tarif Masuk Pulau Komodo Rp 3,75 Juta Berlaku Januari 2023, Kemenparekraf: Sambil Dikomunikasikan

Travel Update
4 Wahana Menarik di Cimory Dairyland Prigen, Cobalah Saat Berkunjung

4 Wahana Menarik di Cimory Dairyland Prigen, Cobalah Saat Berkunjung

Jalan Jalan
Beda Set Menu dan Buffet untuk Makanan Pernikahan

Beda Set Menu dan Buffet untuk Makanan Pernikahan

Travel Tips
Harga Tiket Masuk dan Jam Buka Terbaru Cimory Dairyland Prigen

Harga Tiket Masuk dan Jam Buka Terbaru Cimory Dairyland Prigen

Travel Update
6 Tips Mendaki Gunung Prau Lintas Jalur Patak Banteng-Dieng, Jangan Kesorean

6 Tips Mendaki Gunung Prau Lintas Jalur Patak Banteng-Dieng, Jangan Kesorean

Travel Tips
Itinerary Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng Turun Dieng

Itinerary Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng Turun Dieng

Itinerary
Kenaikan Tiket Taman Nasional Komodo Ditunda, Catat Harganya Saat Ini

Kenaikan Tiket Taman Nasional Komodo Ditunda, Catat Harganya Saat Ini

Travel Update
Sensasi Ikut Tradisi Makan Bajamba Asal Minangkabau, Berbalas Pantun

Sensasi Ikut Tradisi Makan Bajamba Asal Minangkabau, Berbalas Pantun

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.