Kompas.com - 16/07/2014, 10:39 WIB
Perajin Jenang Kudus KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASAPerajin Jenang Kudus
EditorI Made Asdhiana

Pada masa awal, motif batik yang dikembangkan masih sederhana, yaitu sulur, beras, merak, dan kupu-kupu. Warnanya masih kalem, seperti coklat, merah tua, biru tua, hijau, dan putih. Pada 1880-1940, pedagang Tionghoa, GS Liem, TS Ing, dan Pho An Nyo, turut memberi warna dan nuansa baru pada batik Kudus (The Journey: Batik Pesisir from Semarang, Kendal, Demak, & Kudus, 2009).

Seiring berkembangnya industri rokok pada awal abad ke-19, batik kian meredup dan sempat hilang pada 1980-an. Dua puluh tahun kemudian, batik Kudus kembali dihidupkan. Sejumlah perajin menggali dan mereproduksi motif kuno sekaligus mengembangkan motif baru.

Pengembangan motif baru itu tak terlepas dari inspirasi Sunan Kudus dan Sunan Muria. Motif itu antara lain menara Kudus, kapal kandas, bulusan, gebyok, parijoto, dan pakis haji.

Pembatik ”Muria Batik Kudus”, Yuli Astuti, mencontohkan, motif menara Kudus mencerminkan pesan Sunan Kudus untuk menghargai perbedaan dan keberagaman. Pasalnya, menara itu perpaduan arsitektur Hindu, Islam, Tiongkok, dan Jawa.

”Saya ingin menjadikan batik wadah pelestari sejarah, kearifan lokal, dan nilai hidup yang diajarkan Sunan Kudus dan Sunan Muria,” kata Yuli.

Kudus juga identik dengan jenang yang inspirasi Syekh Jangkung, murid Sunan Kudus.

Di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, pengusaha jenang Menara, Masduki, mengatakan, jenang dahulu tidak diperjualbelikan. Jenang adalah hidangan wajib setiap kali ada hajatan, terutama pernikahan dan khitanan. Setelah datang banyak pesanan, segelintir warga memberanikan diri menjual di pasar secara kiloan dalam potongan besar.

”Seiring perkembangan zaman, jenang mulai dijual sebagai jajanan anak-anak di sekolah dan kemudian menjadi oleh-oleh peziarah,” kata Masduki.

Rasa, bentuk, dan kemasan juga mengalami inovasi. Ada jenang berbalut cokelat, rasa pandan, wijen, durian, dan stroberi. ”Kami mengemas jenang secara klasik dan modern, misalnya memakai anyaman daun pandan hutan, kertas, plastik, dan anyaman bambu,” kata dia.

Kerja sama dengan biro perjalanan juga dibangun, membuat paket wisata ziarah seraya mampir ke pusat produksi jenang.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X