Kompas.com - 17/07/2014, 10:34 WIB
Semangat berlari, sekadar berolah raga atau mencetak waktu terbaik. KOMPAS/AGUS HERMAWANSemangat berlari, sekadar berolah raga atau mencetak waktu terbaik.
EditorI Made Asdhiana
SUHU DINGIN di Minggu (6/7/2014) subuh sekitar 11 derajat celsius mencubit kulit, menusuk tulang. Namun, ribuan peserta Gold Coast Airport Marathon 2014 yang memenuhi pantai Southport Broadwater Parklands, Gold Coast, Australia, membuat suasana hangat.

Dengan pakaian olahraga lari, sebagian peserta masih berbalut sweater atau ponco penahan dingin. Mereka bersiap mengikuti lomba half marathon dan maraton penuh di tempat wisata yang terkenal dengan keindahan pantainya itu. Beberapa di antaranya mengobrol, melakukan peregangan atau sekadar menghangatkan badan.

Para peserta lari maraton di Gold Coast Airport Marathon (GCAM) 2014 itu adalah para pelari hobi yang berdatangan dari seluruh dunia, berbaur dengan para pelari elite dunia. Sehari sebelumnya, Sabtu (5/7/2014), juga diselenggarakan lomba lari untuk kelas 10 kilometer, 5,7 kilometer, serta kelas anak-anak (2 kilometer dan 4 kilometer, yunior dash).

Berbeda dengan para pelari elite yang ingin memenangi perlombaan dengan hadiah ribuan dollar Australia, para pelari hobi umumnya ingin mencatatkan waktu terbaik mereka, yang di antara pelari dikenal sebagai PB (personal best). Dalam dua hari lomba lari, termasuk half marathon (21 kilometer) dan maraton penuh (42,195 kilometer), mereka yang hadir di GCAM 2014 kali ini tercatat 27,147 orang.

KOMPAS/AGUS HERMAWAN Berlari bersama keluarga, para balita pun tak ketinggalan diajak serta.
Mereka berdatangan dari seluruh dunia untuk mengikuti maraton yang terselenggara untuk ke-36 kalinya di kota pantai itu. ”Gold Coast adalah lintasan lari terbaik. Fast, flat, and scenic (cepat, datar, dan indah) dengan penyelenggaraan gold label dari Federasi Atletik Internasional (IAAF) adalah jaminan kami,” ujar Cameron Hart, CEO Event Management Queensland, penyelenggara GCAM 2014.

Berlari di Gold Coast dipercaya akan meningkatkan kemampuan para pelari pada posisi terbaik. Apalagi cuaca yang bersahabat di kawasan itu membuat lari menjadi nyaman dan menyenangkan.

Demikianlah para pencinta lari tidak ingin melewatkan untuk mencoba menikmati lintasan GCAM ini. Mereka berdatangan dari banyak negara, terutama Jepang, Korea, Tiongkok, Malaysia, dan Singapura. Para peserta dari berbagai usia itu banyak di antaranya datang bersama keluarga sekaligus berekreasi. Para pelari dari Jepang, Korea, atau Singapura berduyun-duyun menggunakan jasa biro perjalanan. Di antara mereka, tercatat para pelari dari Indonesia sebanyak 20 orang, lebih banyak dari tahun sebelumnya, yaitu 11 orang.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Peserta dari Singapura termasuk banyak, tercatat hampir 260-an peserta yang turun di sejumlah kelas. Dari Malaysia sekitar 120 orang. Jumlah itu belum termasuk mereka yang datang perseorangan, tidak melalui biro perjalanan.

KOMPAS/AGUS HERMAWAN Gold Coast dengan pantai indahnya dari ketinggian Lantai 77 Dek Observasi SkyPoint.
”Kami bertiga berangkat sendiri, empat malam tiga hari di Gold Coast, masing-masing hanya membayar 800 dollar Singapura. Lebih murah dari harga jika melalui biro perjalanan,” ujar Riana yang bersama rekannya, Malik dan Merry dari Singapura, mengikuti kelas 10 kilometer.

Pelari dari Singapura yang menggunakan jasa biro perjalanan masing-masing harus membayar sekitar 1.000 dollar Singapura. Untuk mencapai Gold Coast kini ada kemudahan budget airline dengan rute Jakarta-Singapura (Valuair) dan Singapura-Gold Coast dengan Scoot Airline.

”Saya ikut GCAM sekalian berlibur sepekan di Gold Coast beserta keluarga. Dua anak saya, 10 tahun dan 12 tahun, ikut jarak 5,7 km yunior dash. Istri saya juga ikut 10 km dan 5,7 km,” kata Holip Soekawan, seorang peserta dari Jakarta. Kapten regu lari tim Chubby Jakarta itu mencatatkan waktu terbaiknya di GCAM 4 jam 50 menit. Waktu terbaik dari tiga maraton yang pernah diikuti Holip. Saat mengikuti Jakarta Marathon 2013 dia hanya mencatat PB 5 jam 50 menit.

Genio Atyanto, peserta dari Jakarta juga bersama istrinya ke Gold Coast. ”Maraton di Gold Coast terkenal di Asia, cuacanya nyaman dan lintasannya juga rata,” kata advokat yang sejak tahun 2011 menekuni lari itu.

Festival lari

Suasana festival rakyat benar-benar terasa di GCAM. Selain lomba lari maraton pada Sabtu dan Minggu, sejak Jumat penyelenggara juga mengadakan pameran perlengkapan olahraga Asics Sport and Leisure Expo. Di arena ini, para penggila lari bisa mendapatkan perlengkapan ataupun berbagai gears lari.

KOMPAS/AGUS HERMAWAN Kibasan ekor paus sperma (sperm whale, Physeter macrocephalus) di perairan Kaikoura.
”Bonus terbesar dari event ini adalah kesempatan memperlihatkan kepada anak-anak akan pentingnya gaya hidup aktif yang nyata,” kata Holip. Selepas garis finis, sebuah lapangan dengan layar raksasa juga melaporkan perkembangan para pelari. Para pelari dan keluarga tampak berpiknik di lapangan itu.

Selama akhir pekan itu, kota dan masyarakat Gold Coast benar-benar terlibat dalam event GCAM. Mereka memberi semangat kepada pelari di sepanjang lintasan. Teriakan dan poster-poster penyemangat berjejer sepanjang lintasan. Keterlibatan ribuan sukarelawan menjadi pemandangan unik karena mereka terdiri dari warga beragam usia, di semua sektor.

”Mereka sudah berpengalaman menjadi volunter. Sebanyak 1.100 volunter dari segala usia itu berasal dari komunitas-komunitas pelari di Gold Coast,” kata Cameron.

Tidak heran jika kemudian, penyelenggaraan acara kebanggaan warga Gold Coast itu sangat rapi, mulai dari pendaftaran peserta, pelaksanaan lari, hingga alur pengambilan medali selepas finis. Semua mengalir dan nyaman.

Pelari dari Indonesia yang kini bekerja di Brisbane, Irwan Sati, memuji persiapan penyelenggara serta dukungan dari pemerintah setempat. ”Untuk peserta disiapkan transportasi bus gratis. Saya kagum atas persiapan mereka,” ujarnya.

Gold Coast bolehlah disebut sebagai kota, bahkan mungkin ”surga”, pelari. Infrastruktur kota sudah nyaman untuk digunakan berlari. Apalagi Pantai Surfer Paradise yang indah itu, kapan saja kita bisa berlari di kawasan itu dengan nyaman.

KOMPAS/AGUS HERMAWAN Senja di Pantai Surfer Paradise, Gold Coast.
Sepanjang hari, sejak dari pagi buta hingga malam hari, selalu terlihat orang berlari di kawasan itu. Apalagi di saat penyelenggaraan GCAM 2014 lalu, suasana kota benar-benar dipenuhi pelari. Di lobi hotel orang berbaju olahraga siap-siap berlari atau di jalanan dengan mudah ditemui mereka yang berlari. Pelari dari Jepang, Korea, atau Tiongkok mereka seperti ”tidak ingin rugi” untuk menggunakan waktu sebanyak-banyaknya untuk berlari di kota itu.

Selebihnya, bagi mereka yang ingin memulihkan stamina setelah tenaga habis dikuras lari di GCAM 2014 bisa memilih sejumlah kawasan wisata Gold Coast. Bisa sekadar minum kopi dan melihat kota Gold Coast dari ketinggian SkyPoint Observation Deck, apartemen tertinggi di kota itu, bermain jet boating ekstrem atau melihat keajaiban paus raksasa jenis sperm whale (Physeter macrocephalus) yang panjang badannya bisa mencapai 16 meter lebih dengan berat 57 ton di perairan Kaikoura. (Agus Hermawan)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X