Titian Dua Peradaban

Kompas.com - 20/07/2014, 09:12 WIB
Ki Sunarto di makam RMP Sosrokartono di Pasarean Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada Kamis (3/7/2014) siang. KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASAKi Sunarto di makam RMP Sosrokartono di Pasarean Sedo Mukti, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada Kamis (3/7/2014) siang.
EditorI Made Asdhiana
HURUF ”alif’” terpampang di atas bagian kepala nisan Raden Mas Panji Sosrokartono (1877-1952) di Pasarean Sedo Mukti di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus, Jawa Tengah. Siang dibalut senyap yang nyenyat.

Tidak ada pejabat dan politisi datang ke sini,” ujar Sunarto (53), juru kunci ke-10, yang menjaga kompleks pemakaman keluarga itu sejak Januari 1991. ”Mungkin gentar membaca ajaran Eyang Sosro,” ujarnya.

Salah satu ajaran penting tersebut adalah Catur Murti atau empat dalam satu, yaitu menyatunya pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan; untuk dijalani. ”Sekarang, kan, sudah tak keruan,” kata Sunarto.

Selanjutnya, rajah ”alif”, aksara pertama huruf Arab, melambangkan semua yang serba lurus dalam laku hidup. ”Sekarang ’bengkong’-nya banyak,” katanya.

Yang ia maksud ”bengkong”, dalam falsafah Jawa dikenal sebagai jalan gelap, mo-limo; madat, madon, minum, main, maling. Semua terkait syahwat manusia.

Maling, berarti mencuri hak orang lain, termasuk korupsi dan manipulasi dalam segala bentuknya. Main, berjudi dalam arti luas, yang taruhannya bisa terkait hajat hidup orang banyak. Minum, menenggak yang memabukkan. Madon, mengejar pemuasan nafsu berahi; madat, mengisap segala yang membuat ketagihan, termasuk narkoba. Kelimanya saling kait, menghancurkan manusia, dan lambat laun, suatu bangsa.

Tokoh pergerakan

RMP Sosrokartono adalah kakak kandung RA Kartini. Lahir di Mayong, Jepara, 10 April 1877, menurut berbagai sumber, sejak kecil ia sudah terlihat istimewa; cerdas dan bisa membaca masa depan. Ia adalah mahasiswa Indonesia pertama di Belanda, tahun 1898, sebelum datangnya generasi Moh Hatta.

Dari sana ia mengirim buku dan membakar semangat Kartini mewujudkan cita-cita emansipasi. Hubungan keduanya amat dekat. Konon, kematian Kartini sempat membuatnya terguncang.

Sosrokartono lulus summa cumlaude dari Jurusan Bahasa dan Susastra Timur di Leiden. Lelaki tampan yang tidak menikah itu dikenal sebagai Pangeran dari Jawa.

Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X