Kompas.com - 20/07/2014, 09:12 WIB
EditorI Made Asdhiana

Ia seorang poliglot. Banyak sumber menyebutkan, ia menguasai 26 bahasa asing dengan baik. Namanya tercantum sebagai pendiri Indische Vereeniging di Belanda, 1908, organisasi kaum intelektual Indonesia di Belanda—menjadi Indonesische Vereeniging tahun 1922 dan Perhimpunan Indonesia,1925— yang menyoal kemerdekaan Indonesia.

Dalam Memoir (1982), Moh Hatta mengakui Sosrokartono sebagai genius. Ia mengisahkan kecerdasan dan keberanian Sosrokartono di hadapan kaum etis Belanda (Mr Abendanon, Van Deventer, dan lain-lain) dalam suatu perjamuan dan menolak tawaran merampungkan disertasi doktoralnya yang diganjal Snouck Hugronye.

Gagal meraih doktor tak menghentikan langkahnya. Dengan kemahirannya berbahasa asing, Sosrokartono menjadi wartawan Indonesia pertama di kancah internasional. Selama 29 tahun di Eropa, ia pernah menjadi wartawan beberapa surat kabar dan majalah, sebelum menjadi perwakilan The New York Herald di Wina.

Ia terlibat dalam upaya menghentikan Perang Dunia I, sebagai penerjemah tunggal perundingan rahasia pihak yang bertikai, di satu gerbong kereta api di hutan Compiègne, Perancis. Beritanya lolos di The New York Time Herald. Penulisnya berkode tiga bintang, konon kode samaran Kartono.

Spiritualisme Timur

Setelah Perang Dunia I usai, Kartono sempat menjadi kepala penerjemah di Liga Bangsa- Bangsa di Geneva, cikal bakal PBB. Tahun 1919, ia juga diangkat menjadi Atase Kebudayaan di Kedutaan Besar Perancis di Belanda. Kemampuannya ditengarai seorang ahli kejiwaan dan hipnosis setelah menyembuhkan anak usia 12 tahun hanya dengan menempelkan tangan di dahi anak itu. Padahal, dokter sudah menyerah.

Sosrokartono lalu meninggalkan Geneva menuju Paris untuk belajar psikometri dan teknik psikiatri, tetapi jurusan itu ternyata hanya untuk lulusan sekolah kedokteran.

Ia kecewa dan kembali ke Tanah Air tahun 1926, sempat bergerak di bidang pendidikan, lalu menetap di Bandung, mendirikan perpustakaan Dar-oes-Salam. Di situlah Soekarno sering datang untuk berdiskusi. Ia seperti guru spiritual bagi Soekarno.

Selama itu, ia banyak tirakat. Kemampuannya makin terasah dan kemudian dikenal sebagai penyembuh. Banyak julukannya, di antaranya ”dokter cai” karena media penyembuhannya hanya air dan secarik kertas dengan rajah ”alif”.

Endangarie Soedarmodjo (60), warga Bandung, masih ingat, waktu kecil, kalau badannya panas, oleh ibunya ia diberi minum air putih yang sudah dicelup kertas putih segi empat bertuliskan huruf ”alif”, berwarna merah.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.