Saorajja Mallangga, Rumah Keterbukaan Raja

Kompas.com - 04/08/2014, 15:10 WIB
Ruangan Tamu KOMPAS/LASTI KURNIARuangan Tamu
EditorI Made Asdhiana
SAORAJA atau rumah raja di Wajo, Sulawesi Selatan, dirancang terbuka dan tidak menakutkan agar rakyat tidak segan datang menghadap raja. Salah satunya, Saoraja Mallangga yang menjadi kediaman pribadi Arung Bettempola.

Seiring perkembangan zaman, rumah raja dari rumpun Bettempola yang masih lestari di era modern ini mengalami sedikit perubahan. Semula, rumah yang merupakan kediaman Haji Datu Makkaraka yang bergelar Ranreng Bettempola Wajo ke-27 ini dirancang terbuka, tidak berpagar, dan bangunannya tidak terlalu tinggi. Namun mengingat di dalamnya tersimpan benda-benda bersejarah peninggalan Kerajaan Wajo maka dilakukan penyesuaian dengan memasang teralis.

Kini, rumah itu didiami anak laki-laki Datu Makkaraka, yakni H Datu Sangkuru beserta dua dari lima anaknya serta beberapa keponakan. Sangkuru menggantikan posisi kakak laki-lakinya yang meninggal tahun 2005 bernama H Datu Sangaji dengan gelar Ranreng Bettempola ke-28. Oleh karena dihapuskannya sistem kerajaan, Sangkuru ditempatkan sebagai pemangku adat Wajo.

Ada berbagai versi tentang asal-usul Kerajaan Wajo di Sulawesi Selatan yang didirikan tahun 1339. Salah satunya, ada tiga anak Raja Cinnottabi yang dianggap keturunan dewa mendirikan wilayah yang dibagi menjadi tiga bagian atau limpo, yakni Bettempola, Talonlenreng, dan Tuwa. Pemimpin dari ketiganya dinobatkan sebagai batara atau raja dari wilayah yang disebut Wajo ini.

Batara berikutnya merupakan keturunan batara terdahulu. Namun batara ketiga kemudian disingkirkan karena perilakunya yang buruk. Selanjutnya Wajo dipimpin oleh Arung Matowa yang dipilih berdasar kesepakatan dan diambilkan dari anggota keluarga besar. Sejak itu, sifat kerajaan yang feodal berganti dengan elektif atau demokrasi terbatas. Setelah era kemerdekaan, Wajo berubah menjadi kabupaten.

Rumah orang besar

Saoraja Mallangga berarti rumah orang besar bertingkat. Di bagian paling depan rumah, ruang seluas 60 meter persegi yang dulu digunakan sebagai tempat menerima tamu atau rakyat mengadu, kini menjadi ruang tamu yang diisi beberapa set kursi berukir. Lantainya ditutupi tikar rotan.

KOMPAS/LASTI KURNIA Tangga ke Lantai Dua
Beberapa tanduk rusa dari kayu terpasang di dinding ruang tamu. Di sekeliling ruang yang dekat dengan dinding ditaruh lemari-lemari pajang berisi antara lain naskah lontara, buku-buku, keris, tombak, mesin jahit duduk, dan bossara atau tempat kue berkaki yang kini dipasang songkok di atasnya. ”Dulu kalau nenek menjahit, ada attah atau abdi yang membantu memutar rodanya,” kata Hj Andi Cidda Minasa, anak kedua Datu Sangkuru.

Salah satu naskah, menurut Datu Sangkuru, merupakan buku yang disusun oleh ayahnya dan berisi kisah para raja di Sulawesi Selatan. Sebuah meja berwarna hitam tempat Datu Makkaraka biasa menulis masih terdapat di kamar tidurnya yang kini ditempati Sangkuru. Meja itu di atasnya berisi termos air hangat, mi, dan beberapa perlengkapan makan minum agar Sangkuru tidak terlalu payah mondar-mandir seiring usianya yang semakin senja, lebih dari 80 tahun.

Di kamar itu, juga terdapat lemari dan bufet peninggalan Makkaraka. Sebuah bilik kecil dibangun di sudut kamar sebagai kamar mandi. Kamar tidur Datu Makkaraka yang sangat besar saat ini dibagi dua dan ditempati Sangkuru dan Cidda. Di sebelah kamar Cidda adalah kamar tamu.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol, dan Portugis

Sejarah Rempah di Indonesia, Ada Pengaruh dari India, Spanyol, dan Portugis

Makan Makan
Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

Longgarkan Lockdown, Restoran dan Kafe di Selandia Baru Buka Kembali Termasuk McDonald's dan KFC

Makan Makan
Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Apa Bedanya Biji Kopi Robusta dan Arabika? Mulai dari Bentuk, Rasa, sampai Proses Pengolahan

Makan Makan
Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

Hari Susu Sedunia 2020, Apa Bedanya Susu UHT dengan Susu Pasteurisasi?

Makan Makan
Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

Gandeng Bali Paragon Resort Hotel, Kemenparekraf Sediakan 346 Kamar untuk Nakes

Whats Hot
Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

Hari Susu Sedunia 2020, Sejak Kapan Manusia Mulai Minum Susu?

Makan Makan
Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

Hari Susu Sedunia 2020, Kenapa Lembang Jadi Daerah Penghasil Susu Pertama di Indonesia?

Makan Makan
Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

Bali Paragon Resort Hotel Siapkan 297 Kamar untuk Tenaga Medis

Whats Hot
Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

Negara-negara di ASEAN Bisa Jadi Contoh Indonesia Sebelum Buka Pariwisata

Whats Hot
Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

Virtual Tour Mendaki Gunung Rinjani, Peserta Pakai Jaket Gunung

Jalan Jalan
Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

Liburan ke Jeju, Yuk Nginap di Resor Legend of the Blue Sea

Jalan Jalan
Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

Angkasa Pura II Perpanjang Pembatasan Penerbangan hingga 7 Juni

Whats Hot
Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

Bali Tak Kunjung Buka Pariwisata, Apa Alasannya?

Whats Hot
Bali Perlu Inovasi Pariwisata untuk Hadapi New Normal

Bali Perlu Inovasi Pariwisata untuk Hadapi New Normal

Whats Hot
Kisah Unik Desa Pancasila di Kaki Gunung Tambora, Seperti Apa?

Kisah Unik Desa Pancasila di Kaki Gunung Tambora, Seperti Apa?

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X