Menata Wisata Kuliner Jalanan - Kompas.com

Menata Wisata Kuliner Jalanan

Kompas.com - 11/08/2014, 13:08 WIB
KOMPAS/PINGKAN ELITA DUNDU Aneka hidangan boga bahari (seafood) segar tersuguh di kawasan wisata kuliner malam di Jalan Alor, Bukit Bintang, Kuala Lumpur, Malaysia.
BUKIT Bintang, Kuala Lumpur, Malaysia, surganya wisata belanja, hiburan, dan kuliner. Ingar-bingar pusat perbelanjaan nan elite dan mahal di kawasan ini seakan luntur saat menapakkan kaki di Jalan Alor. Pada malam hari, semua penggemar makanan menyatu dalam sajian makanan jalanan alias street food.

Tak sulit mencari tempat makan yang harganya murah dan meriah saat kaki menginjak Bukit Bintang, kawasan mewah di Kuala Lumpur. Cukup bertanya kepada petugas hotel, dengan senang hati dia langsung menyebutkan salah satu tempat wisata kuliner, yakni Jalan Alor. Petugas itu pun akan menjelaskan jalan menuju lokasi tersebut.

Jika menginap di hotel atau tinggal di Bukit Bintang, kita cukup berjalan kaki dengan melewati sejumlah pusat perbelanjaan mewah. Mereka yang tinggal di tempat lain di Kuala Lumpur bisa menggunakan monorel dan turun di Stasiun Bukit Bintang. Jika ingin mengeluarkan keringat banyak, bisa turun di Stasiun atau Jalan Imbi dan berjalan kaki menelusuri Jalan Bulan menuju Jalan Bukit Bintang. Selanjutnya, masuk Jalan Changkat dan Jalan Alor.

Jalan Alor merupakan kawasan wisata malam kuliner jalanan yang murah dan sungguh mengasyikkan di Kuala Lumpur. Suasananya sangat khas jalanan.

Ketika menginjakkan kaki di lokasi ini, jangan membayangkan menikmati makan malam dan nongkrong minum kopi dan teh tarik (minuman khas Malaysia) di kursi dengan meja yang empuk. Hanya kursi dan meja plastik yang tersedia sembari menikmati udara dan suasana malam di jalan kawasan yang ingar-bingar itu.

Mengasyikkan duduk di kursi yang digelar di badan jalan sembari menikmati menu masakan pilihan di alam terbuka. Merasakan sepoinya angin malam di alam terbuka. Kehadiran sejumlah pepohonan rindang serasa menikmati makan malam di pesta kebun. Jika turun hujan atau gerimis, semua pengunjung bubar.

”Suasana kemeriahan dan makannya sangat terasa kalau kita sedang berada di Asia,” kata Dorothy Turner (35), turis asal Kanada, yang ditemui di Jalan Alor sedang menikmati makan malam bersama tiga temannya.

Meski dibilang kawasan kuliner jalanan, di sini tidak semua pedagangnya kaki lima. Malah sebagian besar makanan disajikan oleh restoran permanen. Hanya, mereka menggelar kursi dan mejanya hingga memenuhi separuh badan jalan sampai selebar lima meter. Jalanan yang tersisa hanya untuk pejalan kaki atau sesekali ada kendaraan melintas dengan perlahan.

Di kawasan ini, semakin malam, suasana semakin ramai. Berbeda ketika siang hari, kawasan ini seperti mati, sepi dari aktivitas.

Sebagai tempat kuliner jalanan, kawasan ini tergolong sangat meriah. Selain dipenuhi kursi dan meja berwarna-warni sesuai restoran masing-masing, kemeriahan kawasan itu ditandai dengan hadirnya lampion bergelantungan memenuhi sepanjang jalan.

Cahaya lampu kuning dari lampion merah khas tradisi Tiongkok tersebut menghiasi malam, membuat suasana kawasan tersebut semakin meriah dan semarak.

Soal harga makanan, bisa dikatakan murah. Umumnya, harga makanan bervariasi, mulai dari RM 5 hingga RM 30 (1 RM sekitar Rp 3.600). Sementara harga minuman RM 2-RM 5. Harga buah-buahan, seperti mangga, jeruk, nanas, dan durian, bervariasi sesuai jenisnya, yakni RM 10-RM 25 per kilogram.

Mendunia

Selain menikmati keindahan dan kelezatan masakan, saat berada di kawasan ini pengunjung dapat melihat langsung proses memasak menu pesanannya. Harum bumbu masakan tercium menggoda selera dan memancing lidah untuk segera menikmati makanan.

Makanan yang ditawarkan kepada pengunjung sebagian besar masakan cina karena sebagian besar pemilik restoran itu adalah warga Malaysia etnis Tionghoa. Namun, kalau kaki masih kuat melangkah lebih jauh, akan ditemukan juga restoran dan kios makanan Thailand, India, Melayu, dan Eropa.

Ada nasi lemak (seperti nasi uduk betawi) khas Malaysia, Hongkong Crab, berbagai menu olahan dari bahan baku mi kuning dan putih, serta kwetiauw, steak, aneka seafood bakar, sate, jajanan, seperti steamboat (bentuknya ditusuk seperti sate kemudian direbus dan digoreng selanjutnya disajikan bersama sausnya). Lengkapi makanan dengan teh O (teh orisinal atau teh tawar), teh tarik khas Malaysia, jus buah, hingga bir, dan aneka minuman lainnya.

Kehadiran buah-buahan, seperti jeruk, mangga, rambutan, nanas, apel, pir, lengkeng, leci, hingga durian, mewarnai kelengkapan makanan di tempat ini.

”Dulu di sini hanya chinesse food dan Melayu. Sekarang sudah mendunia,” kata Lien Ju Phin (43), warga Surabaya, yang sedang berada di Malaysia.

Seperti kawasan kuliner jalanan lainnya, ada pengamen yang membawakan lagu-lagu Tiongkok. Jika pengunjung meminta lagu lain, mereka bersedia menyanyikannya.


Berlama-lama di kawasan ini, ada perasaan iri dan malu saat membandingkan dengan tempat kuliner jalanan pada malam hari yang terkenal di Indonesia, di antaranya kawasan Pecenongan (Jakarta), Malioboro (Yogyakarta), dan Pasar Lama (Kota Tangerang). Kawasan kuliner ini sudah sejak lama ada. Paling tidak usianya 30 tahun. Namun, tempat itu tidak humanis, tidak tertata dengan baik, kurang aman, dan tidak nyaman. Jika ingin menata kawasan kuliner jalanan, sepenggal Jalan Alor ini bisa jadi contoh bagi pemerintah. (Pingkan Elita Dundu)

EditorI Made Asdhiana
Komentar

Close Ads X