Kompas.com - 12/08/2014, 16:15 WIB
EditorI Made Asdhiana
KOTA Lama Semarang yang telah lama mati suri kembali menggeliat menjadi semangat bagi sejumlah komunitas yang ingin menghidupkannya kembali. Kawasan yang zaman dulu metropolis mulai menjadi ruang bertemunya gagasan baru, dari sekadar meramaikan hingga ide pelestarian.

Alunan tembang ”Kidung Karaharjan” lamat-lamat terdengar di antara kemegahan arsitektur Eropa masa lalu. Tembang yang dilantukan puluhan seniman saat berjalan menyusuri kawasan Kota Lama, Minggu (10/8/2014) malam, itu dimaknai sebagai wujud kebaikan.

Keresahan seniman dan sejumlah penggiat komunitas memuncak dengan diadakannya semacam ruwatan untuk Kota Lama yang berada di ambang kepunahan. Mereka bawa pelbagai macam uba rampe yang dimaknai secara filosofis untuk memuliakan bumi dan lingkungan Kota Lama.

Sebuah gunungan hasil bumi yang menyiratkan pesan kemakmuran diarak di antara puluhan orang. Al Agus sebagai juru ruwat mengantarkan perjalanan gunungan yang berakhir di Taman Srigunting. Dukungan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi yang meluangkan waktunya untuk sekadar mampir menyapa mereka malam itu jadi sebuah harapan.

”Ngeruwat, ngerawat, ngeramat menjadi tujuan acara ini agar kawasan Kota Lama dapat terpelihara dan memberikan manfaat bagi semua,” kata Agus. Ngeruwat dapat diartikan sebagai pembersihan, ngerawat adalah memelihara dan melestarikannya. Sementara ngeramat, menurut Agus, bukan mengeramatkan bangunan, melainkan menjadikan Kota Lama sebagai tempat bernilai sejarah.

Dua abad lalu, Kota Lama didesain sebagai pusat perdagangan dan bisnis hingga pada akhirnya disebut Little Netherlands setelah mencapai puncaknya. Kehidupan modern masa kolonialisme itu masih terasa dari sisa-sisa bangunan yang bertahan dan sebagian lain di ambang kehancuran.

Berbagai upaya penyelamatan melalui program revitalisasi seolah hanya berjalan di tempat, belum membuahkan hasil. Dari 270 bangunan kuno terdapat 105 gedung yang dinyatakan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah.

Kriswandhono, anggota Badan Pengelola Kawasan Kota Lama, mengatakan, harus ada sinergi antara masyarakat dan pemerintah untuk melestarikan Kota Lama. ”Semua harus bekerja berkontribusi dengan arah yang jelas agar ada kemajuan bagi pelestarian Kota Lama,” kata Kriswandhono.

Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka di Kota Lama mulai digulirkan tahun 2013. Namun, hal itu belum mampu menstimulasi kesadaran para pemilik dan pengelola gedung yang telah rusak termakan umur. Biaya besar menjadi alasan mereka kesulitan untuk merawat dan memperbaiki gedung itu.

Dia menambahkan, Pemerintah Kota Semarang harus berperan aktif dengan membeli salah satu bangunan sebagai proyek percontohan. ”Tempat tersebut bisa difungsikan sebagai ruang publik atau galeri seni, bahkan museum,” ujar Kriswandhono.

Mulai menggeliat

Sekitar 200 tahun lalu, Kota Lama menjadi magnet bagi para pengusaha untuk bisa menempati kawasan seluas 31 hektar itu. Namun, saat ini, hanya sebagian kecil pengusaha yang berani berspekulasi untuk berinvestasi di kawasan yang kerap dilanda banjir tersebut.

Tahun 2006, Rumah Makan Ikan Bakar Cianjur mulai merintis usahanya. Tiga tahun kemudian, Semarang Art Contemporary Gallery menyusul mulai menghidupkan Kota Lama melalui pameran seni dan lukisan. Selanjutnya, tahun 2013, Noery’s Café menjadi daya tarik baru untuk meramaikan.

”Hanya orang gila yang mau membuka usaha di tempat ini ” ucap Handoko, pemilik Noery’s Café. Menurut dia, diperlukan kenekatan dan kemampuan finansial lebih ketika mengubah bangunan gudang yang rusak berat menjadi sebuah kafe dengan mempertahankan keasliannya.

Kota Lama yang makin menggeliat mulai menarik sejumlah investor baru yang akan mengembangkan usaha di Kota Lama. Gedung Spiegel yang kusam terbengkalai direnovasi untuk kafe dan restoran. ”Menurut rencana, dua tahun ke depan ada dua investor yang berminat mengembangkan usaha di Kota Lama,” kata Kriswandhono.

Sementara itu, dalam satu tahun ini, Kota Lama seolah mendapat energi baru dari anak-anak muda. Sejumlah komunitas tumbuh berkreasi membuat beragam agenda acara menghidupkan kembali Kota Lama yang meredup.

Wawan Nugroho dari Forum Lintas Komunitas (FOK) menilai, komunitas berperan besar dalam menarik warga untuk datang ke Kota Lama. Hingga kini, lebih dari 10 komunitas, seperti Arsiketur, Oase, Orat-oret, Onthel, dan Lopen, menjadikan Kota Lama sebagai pusat kegiatan mereka. (WEN)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.