Kompas.com - 20/08/2014, 11:29 WIB
Peserta karnaval memperlihatkan kemampuan debus pada malam pergantian tahun menuju 2013 di Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (1/1/2013). Karnaval tersebut diikutii oleh warga dari berbagai Provinsi dan kalangan siswa di Jakarta. KOMPAS IMAGES/ANDREAN KRISTIANTOPeserta karnaval memperlihatkan kemampuan debus pada malam pergantian tahun menuju 2013 di Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (1/1/2013). Karnaval tersebut diikutii oleh warga dari berbagai Provinsi dan kalangan siswa di Jakarta.
|
EditorI Made Asdhiana
JAKARTA, KOMPAS.com - Sebuah festival kebudayaan akan segera digelar di Kawasan Mercusuar Anyer, Kabupaten Serang, Banten. Acara yang bertajuk Festival deBus Banten 2014 akan berlangsung tanggal 23 Agustus 2014.

"Ini merupakan salah satu kegiatan dari Anyer Beach Festival yang sudah berlangsung selama 5 tahun, tahun ini kita khusus menonjolkan kebudayaan debusnya," tutur Pelaksana Tugas Gubernur Banten, Rano Karno dalam jumpa pers di Gedung Sapra Pesona, Kantor Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Jakarta, Selasa (19/8/2014).

Acara tersebut juga dihadiri oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar, serta Direktur Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) Jaya Suprana.

Rano menjelaskan, estival deBus Banten 2014 ini akan diikuti sekitar 2.000 seniman dari berbagai kota dan kabupaten. Acara yang berlangsung selama satu hari ini akan dimulai dari pukul 08.00 hingga pukul 12.00. "Debus merupakan sebuah warisan budaya yang perlu dilestarikan dari Provinsi Banten sendiri," kata Rano.

Rano menuturkan bahwa acara tersebut tidak hanya menampilkan pertunjukan debus, namun ada juga penampilan silat dan rampak bedug yang menjadi ikon pariwisata Banten.

Rano menambahkan acara debus ini ditampilkan dengan kemasan yang lebih lunak agar layak ditonton anak-anak. "Kami takut ada anak-anak yang menonton kemudian meniru pertunjukan tersebut, makanya dibuat lebih soft namun tidak mengurangi esensi debus itu sendiri," ucap Rano.

Direktur Muri Jaya Suprana mengatakan festival ini tidak hanya layak masuk rekor Indonesia, namun juga rekor dunia. Alasannya, kebudayaan debus ini hanya berasal dari Banten dan tidak ada di negara lainnya.

"Piagam yang diberikan akan diserahkan dalam bahasa Inggris dan akan kami ajukan untuk menjadi rekor dunia," ucap Jaya.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.