Kompas.com - 26/08/2014, 09:31 WIB
Keindahan panorama Teluk Tomini dilihat dari Kecamatan Pinogaluman, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Kamis (21/8/2014). Keindahan alam itu sayangnya belum digarap secara maksimal oleh pemerintah daerah setempat, misalnya sebagai obyek wisata. KOMPAS/LUCKY PRANSISKAKeindahan panorama Teluk Tomini dilihat dari Kecamatan Pinogaluman, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Kamis (21/8/2014). Keindahan alam itu sayangnya belum digarap secara maksimal oleh pemerintah daerah setempat, misalnya sebagai obyek wisata.
EditorI Made Asdhiana
SEMBURAT rona jingga senja perlahan memudar di ufuk barat Teluk Tomini saat KMP Cengkih Afo yang membawa tim Kompas Jelajah Sepeda Manado-Makassar 2014 singgah di Pulau Walea, Sulawesi Tengah. Dari kejauhan, pulau-pulau kecil tampak berpasir putih dengan warna air yang jernih.

Perjalanan melelahkan selama 19 jam dari Marisa ke Ampana pun terbayar dengan keindahan ”surga” laut itu. Sabtu (23/8/2014) sekitar pukul 09.00 Wita, jangkar kapal diangkat dan perjalanan dimulai dari Pelabuhan Marisa, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Kapal akan menuju Ampana, ibu kota Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Menikmati keindahan Teluk Tomini jadi pengalaman menyenangkan bagi pesepeda.

Selepas Pelabuhan Marisa, laju kapal berbobot 549 gros ton mulai diempas ombak yang cukup mengocok perut. Kerasnya ombak yang menggempur lambung kapal membuat sejumlah peserta memilih meminum obat anti mabuk. Sebagian pesepeda lainnya memanfaatkan cuaca terik untuk mencuci dan menjemur pakaian di sekitar dek kapal.

Arus laut siang itu cukup kencang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengumumkan gelombang laut bisa mencapai 1,5 meter hingga 2 meter di tengah laut.

Setelah berlayar sekitar tujuh jam, sekitar pukul 16.00, KMP Cengkih Afo singgah di Dolong, Pulau Waleakodi. Kapal sandar di dermaga darurat sepanjang 3 meter dan lebar 2,5 meter. Riuh warga di sekitar dermaga yang menyatu dengan perkampungan itu mengundang peserta penjelajahan sepeda turun dari kapal.

Mereka berbaur dan berbincang dengan warga setempat. Beberapa di antaranya membeli kue tradisional yang dijual di tepi dermaga. Kapal singgah selama lebih kurang satu jam untuk mengangkut penumpang dan hasil bumi, seperti cengkeh, kopra, cokelat.

Menurut Ison Kasim (46), pengusaha hasil bumi dari Ampana yang juga naik KMP Cengkih Afo, hasil bumi jadi penopang utama perekonomian warga di sekitar Teluk Tomini. Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal, produksi cengkeh di Tojo Una-Una pada 2012 mencapai 1.201 ton dengan luas lahan 2.190 hektar.

”Jika sudah musim panen, kapal ini penuh dengan muatan hasil bumi. Selain cengkeh, juga ada kopra, kakao, kedelai,” ujar Ison. Menurut dia, meski hidup terpencil, hasil perkebunan mampu menopang kebutuhan hidup dan menyejahterakan warga pulau-pulau kecil di Teluk Tomini itu. Dari Ampana, hasil bumi dibawa ke Makassar untuk selanjutnya dikirim ke Surabaya.

KOMPAS/LUCKY PRANSISKA Keindahan panorama Teluk Tomini dilihat dari Kecamatan Pinogaluman, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Kamis (21/8/2014). Keindahan alam tersebut sayangnya belum digarap secara maksimal oleh pemerintah daerah sebagai tujuan objek wisata.
Salah satunya Ani Katili (38), petani cengkeh dari Desa Dolong. Saat musim panen, dia biasanya mengangkut cengkeh untuk dijual ke Gorontalo. ”Kami angkut hasil panen dengan kapal ini,” ujarnya.

Terumbu karang

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.