Kompas.com - 27/08/2014, 16:07 WIB
Rel Molek yang rusak di Bengkulu. KOMPAS.COM/FIRMANSYAHRel Molek yang rusak di Bengkulu.
|
EditorI Made Asdhiana

Sang masinis, Efriadi tampak begitu mengenal setiap lekuk lintasan Molek sehingga ia sempat bersiul-siul sambil mengontrol arah molek. Hujan sempat pula menemani perjalanan kami. Ketika jalur sedikit mendaki maka dengan cekatan Sang Masinis menaburkan pasir ke besi rel agar laju roda Molek tak licin.

Matahari mulai terbenam, namun perjalanan masih panjang. Hutan belantara menyelimuti kami dan Molek kecil itu masih menari lincah dengan empat roda besi di atas rel warisan zaman kolonial itu. Bunyi hewan hutan malam mulai muncul. Tampak pula rapatnya hutan membentuk semacam terowongan karena dilalui Molek itu. Sungguh sensasi luar biasa.

Sekitar pukul 20.00 WIB perjalanan kami terhenti karena rel Molek terputus gara-gara longsor. Rel terputus sekitar 50 meter. Kondisi makin diperparah oleh jarak antara ujung rel yang terputus tersebut berada di atas puncak bukit satu dengan bukit lain. Itulah akhir perjalanan kami pada Molek pertama. Seluruh penumpang Molek menuruni lembah untuk mencapai bukit di seberang tempat di mana lintasan rel lain berada. Sementara penumpang yang membawa barang akan dibantu mengantarkan barang tersebut menggunakan kawat menghubungkan kedua bukit yang terbelah akibat longsor.

“Sudah tiga tahun rel ini putus tapi tak pernah dibangun. Ini penderitaan kami selama ini,” kata Robet, salah seorang warga setempat yang juga penumpang Molek.

Celakanya, saat tiba di lintasan rel berikutnya tak ada Molek yang siap berangkat menuju Desa Lebong Tandai. Lokasi tersebut dinamakan dengan Tebing Ronggeng. Ada cerita sepintas mengapa kawasan tersebut dinamakan Tebing Ronggeng. Konon, di tebing itulah tidak kurang 23 penari ronggeng dan beberapa para pekerja paksa rel dibunuh oleh Belanda usai mereka berpesta di Lebong Tandai.

Saat tiba di Tebing Ronggeng, ternyata tidak kurang dari 20 orang juga menunggu Molek sama seperti kami. Wajah mereka kuyu, kedinginan dan lapar, apalagi hujan deras mengguyur di tengah hutan tersebut. Sangat menderita jika kita tak membawa bekal seperti nasi pada saat kondisi seperti itu.

Di lokasi ini juga sinyal ponsel tak berfungsi. Hanya sinyal satu provider yang berfungsi, itu pun di beberapa tempat saja. Berkat kontak menggunakan satu sinyal yang "naik-turun" itulah kontak dapat dilakukan dengan pemilik Molek di Desa Lebong Tandai. Jarak dari Tebing Ronggeng menuju Desa Lebong Tandai berkisar 15 kilometer.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Barulah pukul 23.00 WIB molek kiriman dari Desa Lebong Tandai tiba, para warga tampak berseri. Namun Molek yang tiba hanya satu sementara beredar kabar jika ada dua molek yang dikirim. Kondisi ini berbahaya jika satu Molek berjalan ke desa jika tak ada koordinasi maka akan terjadi kecelakaan di tengah rel alias bertabrakan. Tak ada pilihan lain kecuali menunggu lagi.

KOMPAS.COM/FIRMANSYAH Kondisi lintasan rel Molek yang rusak di Bengkulu.
Selang beberapa jam kemudian barulah satu Molek terakhir tiba dan kami pun berangkat secara berbarengan. Perjalanan dilanjutkan. Hutan lebat masih ditemui, suasana gelap. Tak ada pemandangan yang bisa kami lihat kecuali bibir jurang yang curam, menganga dan dinding tanah setinggi puluhan meter.

Menaiki Molek jangan pernah mengeluarkan kepala atau tangan karena jika itu dilakukan maka ranting pohon atau dinding tanah akan menghajar karena jaraknya kadang hanya beberapa sentimeter dari pinggiran Molek.

Akhirnya pukul 00.05 WIB kami tiba di Desa Lebong Tandai, sebuah kampung yang tak pernah gelap karena listriknya menggunakan tenaga air yang dibuat secara swadaya oleh warga. "Inilah kampung kami, jauh terpencil. Menuju ke sini membutuhkan nyali dan perjuangan panjang tapi yakinlah anda pasti akan terpuaskan oleh sejarah dan wisata yang dimiliki desa ini," kata Robet, saat tiba di Desa Lebong Tandai.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Austria Sambut Wisatawan dari Singapura dan Thailand 24 Juni 2021

Austria Sambut Wisatawan dari Singapura dan Thailand 24 Juni 2021

Travel Update
Sebelum Buka Kembali, Pelaku Wisata di Bantul akan Divaksin

Sebelum Buka Kembali, Pelaku Wisata di Bantul akan Divaksin

Travel Update
11 Wisata Cagar Budaya Yogyakarta Tutup Sementara, Termasuk Prambanan

11 Wisata Cagar Budaya Yogyakarta Tutup Sementara, Termasuk Prambanan

Travel Update
Garuda Dilarang Terbang Sementara ke Hongkong, Ini Kata Dirut Garuda

Garuda Dilarang Terbang Sementara ke Hongkong, Ini Kata Dirut Garuda

Travel Update
Taman Impian Jaya Ancol Tutup Sementara Mulai 24 Juni 2021

Taman Impian Jaya Ancol Tutup Sementara Mulai 24 Juni 2021

Travel Update
Penutupan Museum dan Destinasi Budaya Jakarta Diperpanjang Hingga 5 juli

Penutupan Museum dan Destinasi Budaya Jakarta Diperpanjang Hingga 5 juli

Travel Update
Covid-19 Melonjak, Taman Margasatwa Ragunan Tutup Sementara

Covid-19 Melonjak, Taman Margasatwa Ragunan Tutup Sementara

Travel Update
Koh Samui, Koh Phangan, Koh Tao Thailand Sambut Turis Asing 15 Juli

Koh Samui, Koh Phangan, Koh Tao Thailand Sambut Turis Asing 15 Juli

Travel Update
UNESCO Berencana Masukkan Great Barrier Reef Australia ke Daftar Terancam Punah

UNESCO Berencana Masukkan Great Barrier Reef Australia ke Daftar Terancam Punah

Travel Update
Bali Akan Jadi Destinasi Paket Wisata Vaksin Covid-19

Bali Akan Jadi Destinasi Paket Wisata Vaksin Covid-19

Travel Update
Kemenparekraf Luncurkan Paket Wisata Relief Candi Borobudur

Kemenparekraf Luncurkan Paket Wisata Relief Candi Borobudur

Travel Update
Simak! Ini Daftar 4 Hotel Karantina di Kawasan Sanur, Bali

Simak! Ini Daftar 4 Hotel Karantina di Kawasan Sanur, Bali

Travel Update
Museum dan Destinasi Budaya Jakarta Tutup Mulai 22-28 Juni 2021

Museum dan Destinasi Budaya Jakarta Tutup Mulai 22-28 Juni 2021

Travel Update
4 Hal Menarik Seputar Museum M.H. Thamrin, Bangunan Kaya Sejarah di Jakarta

4 Hal Menarik Seputar Museum M.H. Thamrin, Bangunan Kaya Sejarah di Jakarta

Travel Update
Wisata Boyolali Tutup Sementara, Restoran dan Kafe Masih Buka, tapi...

Wisata Boyolali Tutup Sementara, Restoran dan Kafe Masih Buka, tapi...

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X