Kompas.com - 29/08/2014, 13:46 WIB
Panorama dari Bukit Nusa Penida, Bali. KOMPAS/YUNIADHI AGUNGPanorama dari Bukit Nusa Penida, Bali.
EditorI Made Asdhiana

Pemerhati wastra Nusantara mengenal keelokan rangrang, tenunan khas Nusa Penida, yang membangun komposisi warna geometris dengan lubang-lubang tenunan yang khas. Tenun cepuk Nusa Penida begitu bertuah, menjadi busana wajib penari ritual rejang, diburu para pemerhati tenunan Nusantara.

Keagungan dua wastra khas Nusa Penida itulah yang membawa kami menyeberangi Selat Badung demi menuju Banjar Tanglad, sebuah desa tradisional Bali yang ”tersembunyi” di antara punggung-punggung bukit kapur Nusa Penida. Tradisi tenun itu bertahan di dalam rumah-rumah dengan atap yang ditata begitu rupa demi menangkap dan menampung sebanyak mungkin air hujan. Salah satunya adalah rumah suami-istri I Ngurah Hendrawan dan Ni Gede Diari.

”Tiap tetes air hujan Nusa Penida berharga, bahkan untuk mengolah pewarna alami tenunan,” ucap Ngurah Hendrawan di beranda rumahnya. ”Warna biru adalah salah satu warna utama dalam tenunan rangrang dan cepuk, dihasilkan dari daun indigo. Kemarau membuat indigo meranggas. Beruntung kami kini bisa membuat pasta daun indigo sehingga saat kemarau tetap bisa mencelup benang pakan dengan warna indigo,” ungkapnya.

Warna-warnanya yang lembut berbeda dengan warna pewarna kimia yang kerap kali terlalu terang menyala. Namun, kelembutan warna-warna itu justru memesona. Cepuk tenunan Ngurah Hendrawan pun begitu lembut, baik tekstur maupun coraknya.

Ngurah Hendrawan dan Gede Diari adalah bagian dari sedikit petenun Nusa Penida yang kembali merawat tradisi pewarnaan alami untuk tenunan mereka. ”Padahal, sejak saya lahir, semua petenun di Banjar Tanglad sudah memakai pewarna kimia. Dengan bertanya kepada sejumlah orang tua, kami mencari lagi tata cara perwarnaan alami,” kata Gede Diari sambil mengaduk rebusan akar mengkudu dan kain benang pakan rangrang yang mendidih.

Sayang, tak ada lagi pepohonan randu penghasil kapas terbaik Nusa Penida. Sekitar tahun 1990, ulat mewabah di Nusa Penida menghancurkan pohon randu. Para petenun rangrang dan cepuk kini sepenuhnya menggantungkan kiriman benang kapas asal Jawa sebagai bahan tenunannya.

Ngurah Hendrawan pun tak lagi mendapati para pengolah akar mengkudu yang mampu ”mengekspor” olahannya ke Bali. ”Saya saja semakin kesulitan mencari akar mengkudu. Kami harus menanam sendiri mengkudu-mengkudu untuk pewarna tenunan kami.”

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kami tertegun ketika Ngurah Hendrawan dan Gede Diari menunjukkan selembar tenunan cepuk bercorak terang menyala, kain yang akan mereka persembahkan dalam upacara ngaben atau pembakaran jenazah kerabat mereka pada Agustus ini. Corak yang sama sekali berbeda dari keanggunan tenunan cepuk Gede Diari yang memakai pewarna alami.

”Ini memang tenun cepuk dengan pewarna kimia,” ujar Gede Diari. ”Kami tak punya cukup uang untuk mempersembahkan tenunan cepuk pewarna alami untuk dibakar dalam ngaben meskipun kami bisa menenunnya sendiri,” lirih Gede Diari berkisah. Di alam yang begitu kering, Ngurah Hendrawan dan Gede Diari sepenuhnya mengandalkan penghidupan dari rangrang dan cepuk indah yang mereka tenun, namun tak pernah mereka kenakan.

Sore itu, kami meninggalkan Banjar Tanglad, menyusuri punggung-punggung bukit yang berbeda, mengikuti jalan menuju pesisir selatan Nusa Penida. Di punggung bukit terakhir, kami dipukau hamparan Samudra Indonesia yang memutih oleh mentari sore itu hingga ke ujung cakrawala. Di belakang kami, punggung-punggung bukit kembali menyembunyikan Banjar Tanglad, para petenun, juga tradisi tenunan rangrang dan cepuk mereka. (Aryo Wisanggeni G/Mawar Kusuma)

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

6 Museum di Bangkok, Belajar Sejarah Thailand sampai Koin Zaman Batu

6 Museum di Bangkok, Belajar Sejarah Thailand sampai Koin Zaman Batu

Jalan Jalan
Budaya Vs Pariwisata, Sebenarnya Tak Perlu Jadi Konflik

Budaya Vs Pariwisata, Sebenarnya Tak Perlu Jadi Konflik

Travel Update
Klarifikasi Singapore Airlines yang Dikabarkan Buka Penerbangan Langsung ke Bali

Klarifikasi Singapore Airlines yang Dikabarkan Buka Penerbangan Langsung ke Bali

Travel Update
Storytelling Bikin Destinasi Wisata Makin Atraktif

Storytelling Bikin Destinasi Wisata Makin Atraktif

Travel Update
Wisata Pinus Sari Mangunan Sulit Akses Internet, Pemkab Bantul Upayakan Penguat Sinyal

Wisata Pinus Sari Mangunan Sulit Akses Internet, Pemkab Bantul Upayakan Penguat Sinyal

Travel Update
Tarik Turis Kanada, Indonesia Bisa Jual Paket Bulan Madu Ramah Muslim

Tarik Turis Kanada, Indonesia Bisa Jual Paket Bulan Madu Ramah Muslim

Travel Update
Gen Z Muslim Tak Khawatir Kulineran Saat Jalani Wisata Ramah Muslim

Gen Z Muslim Tak Khawatir Kulineran Saat Jalani Wisata Ramah Muslim

Travel Update
Wisata Kuliner di Floating Market Lembang Bandung Selama PPKM, Bawa Kartu Vaksin

Wisata Kuliner di Floating Market Lembang Bandung Selama PPKM, Bawa Kartu Vaksin

Travel Update
Pinus Sari Mangunan Terapkan Ganjil Genap untuk Wisatawan Mulai 17 September

Pinus Sari Mangunan Terapkan Ganjil Genap untuk Wisatawan Mulai 17 September

Travel Update
Gara-gara PPKM, Kunjungan Turis Asing ke Jakarta Turun 82 Persen

Gara-gara PPKM, Kunjungan Turis Asing ke Jakarta Turun 82 Persen

Travel Update
Itinerary 3 hari 2 malam di Pekanbaru, Ada Rainbow Hills Rumbai

Itinerary 3 hari 2 malam di Pekanbaru, Ada Rainbow Hills Rumbai

Itinerary
Bangkok di Thailand Bakal Terima Turis Asing pada 15 Oktober 2021

Bangkok di Thailand Bakal Terima Turis Asing pada 15 Oktober 2021

Travel Update
Pemkot Yogyakarta Kembangkan Aplikasi, Dorong Pokdarwis Bersaing dengan Pengusaha Wisata

Pemkot Yogyakarta Kembangkan Aplikasi, Dorong Pokdarwis Bersaing dengan Pengusaha Wisata

Travel Update
PPKM Level 2 dan Percepatan Vaksinasi Tingkatkan Okupansi Hotel di Semarang

PPKM Level 2 dan Percepatan Vaksinasi Tingkatkan Okupansi Hotel di Semarang

Travel Update
Thailand Bakal Sambut Turis Asing Bervaksin Covid-19 Mulai 1 Oktober

Thailand Bakal Sambut Turis Asing Bervaksin Covid-19 Mulai 1 Oktober

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.