Kompas.com - 08/09/2014, 15:24 WIB
EditorI Made Asdhiana
APRIANDI (27) dan Okta Narung (24) memasang kuda-kuda pencak silat khas Dayak, kuntau. Tatapan mata mereka saling mengunci. Tangan mengambang dan berputar di udara, bersiap melepaskan pukulan. Kaki mereka menyapu tanah, kemudian pelan-pelan saling mendekat dan beradu di bawah palang kayu. Tabuhan gendang manca mengiringi setiap gerakan mereka, diselingi sorakan dukungan dari penonton.

Itulah kesenian Lawang Sekepeng, salah satu kesenian budaya suku Dayak yang biasa digunakan pada upacara adat pernikahan dan penerimaan tamu. Pada acara pernikahan, pengantin laki-laki harus menyampaikan maksud dan tujuannya berkunjung kepada pengantin perempuan. Setelah niatnya diterima oleh tuan rumah, pengantin laki-laki harus menunjukkan kemampuan dengan melawan anggota keluarga yang dianggap kuat.

Pertandingan adu kekuatan itu berada di bawah Lawang Sekepeng, yaitu semacam gerbang yang terbuat dari palang kayu. Di antara kedua tiangnya melintang sebuah lawai atau benang berhiaskan bunga yang melambangkan marabahaya dan rintangan yang harus diputuskan. ”Benang itu harus diputus sebagai tanda bahwa bahaya yang menghadang sudah dihilangkan,” kata Apriandi, Sabtu (30/8/2014).

Demikian juga dengan upacara penerimaan tamu atau pendatang. Seorang tamu pun harus menyampaikan tujuan kunjungannya agar dipahami dan diterima tuan rumah. Diharapkan, dalam relasinya kemudian tidak ada aral rintangan yang mengganggu.

Apriandi dan Okta adalah perwakilan dari Kecamatan Jekan Raya, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang mengikuti lomba Lawang Sekepeng pada Festival Bantaran Sungai Kahayan II yang digelar di Culture Park, yaitu di halaman kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangkaraya, pada Jumat hingga Minggu (31/8/2014). Festival ini merupakan kali kedua yang digelar Pemerintah Kota Palangkaraya.

Di sisi lain halaman, kelompok para bapak dan ibu dari lima kecamatan di Palangkaraya sedang menumbuk padi ketan di lesung menggunakan alu. Mereka sedang berlomba membuat emping ketan atau mangenta.

”Kenta adalah makanan khas suku Dayak dan cara membuatnya perlu teknik yang harus dipelajari. Dalam menumbuk padi ketan, iramanya harus teratur dengan pasangan yang menumbuk,” kata Lame (53), perwakilan dari Kecamatan Bukit Batu.

Berbagai macam jenis lomba kesenian suku Dayak ditampilkan dengan peserta seluruh warga Palangkaraya, baik dari anak-anak hingga dewasa. Pada Jumat malam, misalnya, digelar lomba fashion show busana tradisional untuk kategori usia 6-11 tahun. Ada 13 peserta yang tampil mengenakan busana tradisional entik Dayak.

Kompas/Dwi Bayu Radius Ilustrasi. Beberapa anak menumpang perahu motor atau yang disebut masyarakat setempat sebagai alkon di Sungai Kahayan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Sabtu (31/3/2012). Hari Air se-Dunia di Palangkaraya diramaikan dengan lomba alkon.
Safitri (6), salah satu peserta, misalnya, menampilkan pakaian Sangkarut yang berarti pula bajarat atau diikat. Bahan dasar pakaian itu adalah kulit kayu (nyamu) yang dikombinasikan dengan kain. Busana itu diperindah dengan payet berwarna kuning dan merah serta bermotif kalalawit atau tanaman rambat.

Ratusan warga Palangkaraya pun antusias memeriahkan festival itu dengan datang berbondong-bondong ke acara festival. Pada Sabtu malam banyak warga yang mengisi waktu bermalam minggu bersama keluarga dengan menyaksikan aneka pertunjukan tradisional itu.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.