Kompas.com - 15/09/2014, 17:36 WIB
Dokter Ratih mengamati replika tengkorak LB1 di Liang Bua, Flores, NTT. ARSIP KOMPAS TVDokter Ratih mengamati replika tengkorak LB1 di Liang Bua, Flores, NTT.
EditorI Made Asdhiana
PERJALANAN ke Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur kali ini, seperti membawa saya ke dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Liang Bua yang menggemparkan dunia dengan ditemukannya fosil manusia kerdil (hobbit), dan desa Wae Rebo yang menggambarkannya bak lukisan dengan segala keindahan yang tertuang di dalamnya.

Kronika manusia kerdil di Liang Bua

Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama dari Ruteng, tibalah saya di Liang Bua. Sebuah situs, yang sempat menggemparkan dunia arkeologi dengan penemuan fosil yang masih menuai kontroversi hingga sekarang. Fosil LB1 yang ditemukan di Liang Bua memiliki ciri-ciri orang dewasa namun dengan tinggi badan yang diperkirakan hanya sekitar 105 cm.

Kelompok-kelompok peneliti lalu muncul dengan hipotesa masing-masing. Ada yang berpendapat fosil LB1 adalah spesies yang berbeda dengan homo erectus maupun homo sapiens dan kemudian menamakannya dengan nama Homo Floresiensis serta menyatakannya sebagai mata rantai yang hilang (missing link) dari teori evolusi yang dicetuskan Charles Darwin. Ada pula kelompok yang beranggapan fosil LB1 adalah homo sapiens atau manusia moderen yang mengalami kelainan.

Terlepas dari debat dan kontroversi para ilmuwan, situs ini menarik perhatian saya karena letaknya yang berdekatan dengan desa Rampasasa, sebuah desa yang sebagian warganya memiliki tinggi badan kurang dari 140 cm dan menganggap  mereka adalah keturunan dari manusia yang dulu hidup di Liang Bua. Tentunya kemungkinan tersebut layak dipertimbangkan mengingat letaknya yang berdekatan.

ARSIP KOMPAS TV Dokter Ratih dan anak-anak di Wae Rebo dibangun khusus untuk belajar.
Namun saya kemudian melihat lingkungan tempat mereka tinggal. Sebuah lingkungan yang jauh dari kata sejahtera. Mereka tinggal di rumah berdinding bambu dan berlantai tanah, dengan perabot seperlunya. Mata pencaharian mereka adalah bercocok tanam. Jagung dan kopi yang tidak seberapa jumlahnya adalah komoditas utama yang ditukar dengan beras untuk pemenuhan kebutuhan pangan, dengan lauk pauk seadanya.

Tentunya pola makan yang sederhana tersebut mempengaruhi bentuk tubuh dan tinggi badan mereka. Komponen gizi yang mereka butuhkan saat tumbuh kembang, kemungkinan besar tidak terpenuhi, sehingga rata-rata memiliki tinggi badan dibawah rata-rata.

Saya meninggalkan Rampasasa dan Liang Bua sore itu sebagai salah seorang saksi akan sebuah ironi. Ironi akan sebuah tempat yang menggemparkan dunia, ternyata sekaligus tempat yang sangat jauh dari sejahtera.

Bila ditempat ini merupakan titik penting cerita peradaban manusia, lantas bagaimana kelanjutan peradaban mereka kedepan dalam berbagai keterbatasan? Akankah beberapa puluh mungkin ratus tahun yang akan datang, generasi penerus kita menemukan fosil masyarakat Rampasasa yang bertinggi tubuh dibawah rata-rata, kemudian mempertanyakan spesies mereka, tanpa mengetahui kelainan tinggi tubuh mereka kemungkinan disebabkan oleh tidak terpenuhinya gizi yang dibutuhkan akibat kondisi ekonomi mereka ?

Surga kecil bernama Wae Rebo

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Stasiun Kereta Api Daop 1 Jakarta Punya Hutan Mini yang Instagramable

Stasiun Kereta Api Daop 1 Jakarta Punya Hutan Mini yang Instagramable

Travel Update
Homestay di Labuan Bajo Fokus Tingkatkan Kualitas Jelang G20

Homestay di Labuan Bajo Fokus Tingkatkan Kualitas Jelang G20

Travel Update
Blue Pass untuk Turis Travel Bubble Bisa Lacak Kontak Erat Covid-19

Blue Pass untuk Turis Travel Bubble Bisa Lacak Kontak Erat Covid-19

Travel Update
Artotel Thamrin-Jakarta Tawarkan Sensasi Staycation Bertema Singapura

Artotel Thamrin-Jakarta Tawarkan Sensasi Staycation Bertema Singapura

Travel Update
Hari Kelima Travel Bubble Singapura-Indonesia, Turis Asing Masih Sepi

Hari Kelima Travel Bubble Singapura-Indonesia, Turis Asing Masih Sepi

Travel Update
Studio Ghibli akan Buka Ghibli Park di Jepang pada November 2022

Studio Ghibli akan Buka Ghibli Park di Jepang pada November 2022

Travel Update
Jangan Lakukan 3 Kesalahan Umum Ini Saat Bikin Paspor via M-Paspor

Jangan Lakukan 3 Kesalahan Umum Ini Saat Bikin Paspor via M-Paspor

Travel Tips
8 Pecinan di Indonesia yang Penuh Sejarah

8 Pecinan di Indonesia yang Penuh Sejarah

Jalan Jalan
Cara Mengurus Paspor di Kantor Imigrasi Setelah Daftar via M-Paspor

Cara Mengurus Paspor di Kantor Imigrasi Setelah Daftar via M-Paspor

Travel Tips
Turis Asing Boleh Masuk Abu Dhabi, Uni Emirat Arab Tanpa Booster Vaksin

Turis Asing Boleh Masuk Abu Dhabi, Uni Emirat Arab Tanpa Booster Vaksin

Travel Update
Autograph Tower, Gedung Tertinggi di Indonesia yang Hampir Rampung

Autograph Tower, Gedung Tertinggi di Indonesia yang Hampir Rampung

Jalan Jalan
Rute ke Puncak Argopura Ketep Pass dari Kota Magelang, Cuma 1 Jam

Rute ke Puncak Argopura Ketep Pass dari Kota Magelang, Cuma 1 Jam

Travel Tips
Rute ke Pemandian Alam Selokambang di Lumajang, Dekat Pusat Kota

Rute ke Pemandian Alam Selokambang di Lumajang, Dekat Pusat Kota

Travel Tips
Wisata Gunung Batur Bali, Bisa Makan Telur yang Dimasak dari Panas Bumi

Wisata Gunung Batur Bali, Bisa Makan Telur yang Dimasak dari Panas Bumi

Jalan Jalan
Cara Bayar Paspor di M-Paspor via ATM, M-Banking, dan Internet Banking

Cara Bayar Paspor di M-Paspor via ATM, M-Banking, dan Internet Banking

Travel Tips
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.