Pulau Bungin, Hidup Sesak di Pulau Terpadat - Kompas.com

Pulau Bungin, Hidup Sesak di Pulau Terpadat

Kompas.com - 17/09/2014, 09:51 WIB
ARSIP KOMPAS TV Kepadatan Pulau Bungin di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat tampak dari atas tidak ada ruang kosong.
PULAU Bungin di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat, punya julukan sebagai pulau terdapat di dunia. Di pulau ini nyaris tidak ada lahan kosong, seluruh daratannya dipenuhi rumah-rumah penduduk.

Kepadatan penduduk pula membuat Pulau Bungin tidak memiliki garis pantai, karena sepanjang pesisir pulaunya seluruhnya dibangun menjadi tempat tinggal. Pulau ini memiliki luas 8,5 hektar dengan jumlah penduduk 3.400 jiwa.

Warga yang hendak membangun rumah baru, harus mereklamasi pulau dengan menguruk lautan dengan karang. Akibat bertambahnya rumah, ukuran Pulau Bungin pun semakin bertambah luas dari waktu ke waktu.

Akibat lahan yang terbatas, ada beberapa keluarga yang terpaksa harus hidup dalam satu atap. Di rumah keluarga Bapak Mabsu, tinggal 12 orang dari 4 keluarga.

Pulau mungil di Barat Laut Pulau Sumbawa ini, menarik Program Explore Indonesia yang tayang di Kompas TV untuk mengekplorasinya. Lokasinya sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Sumbawa Besar, ibu kota Kabupaten Sumbawa.

KOMPAS TV/ANJAS PRAWIOKO Warga harus mereklamasi laut untuk untuk membangun rumah di Pulau Bungin, Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Di Bungin, host Explore Indonesia, Belda Zando, bertemu dengan pasangan muda, Zaenal dan istrinya, yang sedang membangun rumah di atas laut dengan cara reklamasi. Mereka memesan batu karang untuk pondasi kepada Majiu, warga yang pekerjaan sehari-harinya mencari karang di laut.

“Kalau membuat rumah di sini tidak perlu beli tanah. Tinggal pilih lokasi di laut, kemudian bikin gundukan lalu tandai dengan bendera. Selanjutnya uruk dengan batu karang dan bangun rumah di atasnya,” kata Zaenal.

Selanjutnya, Belda naik perahu mengikuti aktivitas Bapak Majiu, yang mencari batu karang di laut. Lokasinya di lautan dangkal sekitar 20 menit dari Pulau Bungin.

Berbekal palu dan linggis, Majiu turun ke air setinggi pinggangnya. Ia kemudian memukul linggisnya untuk memecah karang di dalam air.

“Ini karang yang sudah mati, bukan tempat ikan hidup. Pekerjaan ini sangat berat, tapi daripada tidak ada pekerjaan lain. Sementara anak-anak harus sekolah,” jelas Majiu yang sudah berusia sekitar 60 tahun.

KOMPAS TV/ANJAS PRAWIOKO Warga Pulau Bungin di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, NTB, mencari karang di laut untuk membuat rumah di pulau tersebut.
Karang yang pecah diangkut ke perahunya. Batu karang satu perahu dijual Rp 50 ribu. Dalam sehari Majiu bisa 4 kali mengangkut karang.

Masyarakat Bungin mayoritas keturunan Suku Bajo, dari Sulawesi, yang dikenal sebagai suku pengembara laut dan penyelam ulung. Sejak bayi, anak-anak Bungin sudah dikenalkan pada dunia bahari melalui Upacara Toyah.

Dalam ritual Toyah, bayi dipangku 7 perempuan secara bergantian yang duduk di atas ayunan. Ayunan diibaratkan seperti gelombag lautan yang akan dihadapi sang anak saat besar nanti ketika menjadi pelaut.

“Biar dia terbiasa dengan ombak, dan selalu diberikan keselamatan,” kata Marsono, tetua adat di Pulau Bungin.

Sejak kecil, anak-anak Bungin sudah mahir bermain di lautan dan menyelam untuk berburu ikan. Mereka lazim bermain perahu di laut tanpa pengawasan orangtua. Bocah-bocah usia sekolah dasar sudah mampu mencari uang jajan dengan berburu ikan hias di laut.

Mayoritas penduduk Bungin bekerja sebagai nelayan. Sebagian mencari ikan dengan cara menyelam dan memanah. Ada juga yang memiliki keramba, serta mencari lobster dan teripang.

KOMPAS TV/ANJAS PRAWIOKO Ritual Toyah, anak Bungin dikenalkan pada dunia bahari sejak dini. Pulau Bungin berada di Kecamatan Alas, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Jarang warga Bungin yang merantau, dan mereka kebanyakan memilih menikah dan tetap tinggal di Bungin. Kondisi ini yang membuat Pulau Bungin semakin kelebihan beban dan kehabisan lahan.

Satu-satunya lahan terbuka yang luas di Bungin adalah halaman Masjid setempat. Bahkan saking sesaknya, sama sekali tidak ada kebun dan sangat jarang pepohonan tumbuh. Karena tidak ada dedaunan untuk pakan, sampai-sampai kambing di Bungin punya kebiasaan makan kertas dan plastik.

Saksikan selengkapnya tayangan Program Explore Indonesia episode “Hidup Sesak di Pulau Terpadat”, di Kompas TV, Rabu (17/9/2014) pukul 20.00 WIB. (Anjas Prawioko)


EditorI Made Asdhiana

Close Ads X