Bundengan, Alat Musik Ajaib dari Wonosobo - Kompas.com

Bundengan, Alat Musik Ajaib dari Wonosobo

Kompas.com - 24/09/2014, 13:10 WIB
KOMPAS TV/ANJAS PRAWIOKO Kamga terpukau menyaksikan 'keajaiban' alat musik bundengan yang dimainkan Hengky.
ALAT musik yang aneh. Bentuk fisiknya tak menyiratkan fungsinya sebagai alat musik. Tapi istimewanya, meski hanya 1 alat, bundengan cukup ajaib, bisa menyuarakan bunyi mirip beberapa perangkat musik gamelan sekaligus.

Alat musik tradisional khas Wonosobo ini bernama bundengan. Bahannya terbuat dari kelopak ruas bambu yang diberi senar dan bilah bambu. Bundengan dimainkan dengan cara dipetik dengan 2 tangan.

Bundengan sudah menjadi barang langka dan nyaris menjadi barang antik. Mengapa? Karena orang yang bisa memainkan alat musik ini hanya tingga 1 orang saja. Dialah Hengky Krisnawan, seniman warga Kampung Seruni, Kelurahan Jaraksari, Kota Wonosobo, Jawa Tengah.

Hengky memperagakan alat musik miliknya kepada host Program Explore Indonesia yang tayang di Kompas TV, Kamga, yang sedang bertandang ke rumahnya.

“Saya baru dengar langsung terpukau. Kalau melihat bentuknya, saya tidak terbayang bunyinya bisa seperti itu. Kalau gamelan alat musiknya banyak, kalau ini cuma 1 dan dimainin 1 orang. Jadi all in one, 1 alat bisa untuk orkestra. Tingkat kesulitannya pasti sangat tinggi,” kata Kamga, yang juga seorang musisi.

Bundengan asal muasalnya memang bukan alat musik. Awalnya berupa alat untuk berteduh penggembala bebek saat hujan, yang disebut kowangan. Fungsinya mirip caping, tapi ukurannya lebih besar dan agak memanjang.

KOMPAS TV/ANJAS PRAWIOKO Hengky Krisnawan, satu-satunya pemain bundengan yang tersisa di Wonosobo, Jawa Tengah.
Untuk mengisi waktu, penggembala memasang tali ijuk pada kowangan hingga bisa menimbulkan bunyi saat dimainkan. Ijuk kemudian diganti dengan senar hingga menghasilkan suara lebih nyaring dan indah. Disebut bundengan karena menghasilkan efek suara berdengung.

Sebelum Hengky menguasai teknik bermain bundengan, di Wonosobo hanya ada seorang seniman yang mampu memainkannya, yaitu almarhum Barnawi.

Ketika Barnawi masih hidup, Hengky pernah bertemu dan meminta untuk diajari bermain bundengan. Setelah Barnawi wafat, kini tinggal Hengky satu-satunya yang bisa menguasai alat musik bundengan.

“Sebenarnya ada anak perempuan Pak Barnawi yang juga bisa, tapi sekarang yang saya tahu sudah jarang aktif,” jelas Hengky.

Selain sudah nyaris punah seniman yang bisa memainkan, alat musiknya sendiri juga tidak ada yang memproduksi. Alat yang dimainkan Hengky merupakan bundengan milik Barnawi yang sudah dibelinya.

Hengky pun sedang berusaha untuk membuat alat musik bundengan sendiri. Kini ia sudah memiliki 4 bundengan hasil karyanya.

KOMPAS TV/ANJAS PRAWIOKO Bundengan, alat musik khas Wonosobo yang asalnya alat berteduh bagi penggembala bebek saat hujan.
Sebagai alat musik, bundengan bisa pula menjadi pengiring tarian. Seperti pada pergelaran tari lengger. Tari lengger dimainkan secara berpasangan, tetapi peran perempuan dimainkan laki-laki.

“Tari lengger biasanya diiringi gamelan full set lengkap, tetapi mala mini menurut saya bundengan berhasil mewakili suara gamelan secara lengkap, dan malah memberikan kesan lebih magis untuk tari tradisional ini,” ungkap Kamga.

Saksikan selengkapnya perjalanan Kamga menyusuri Wonosobo dan Dieng, dalam program Explore Indonesia episode "Khayangan di Jantung Jawa" di Kompas TV, Rabu (24/9/2014) pukul 20.00 WIB. (Anjas Prawioko)


EditorI Made Asdhiana

Close Ads X