Kompas.com - 25/09/2014, 10:44 WIB
450 penari yang menampilkan tarian kolosal Harmonisasi Raja Ampat dalam acara puncak Festival Sail Raja Ampat 2014 pada Sabtu (23/8/2014), di Pantai Waisai Torang Cinta, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Sebanyak 4.000 tamu yang menghadiri festival tahunan tersebut. KOMPAS/BM LUKITA GRAHADYARINI450 penari yang menampilkan tarian kolosal Harmonisasi Raja Ampat dalam acara puncak Festival Sail Raja Ampat 2014 pada Sabtu (23/8/2014), di Pantai Waisai Torang Cinta, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Sebanyak 4.000 tamu yang menghadiri festival tahunan tersebut.
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com – Untuk mendatangkan lebih banyak lagi wisatawan, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua, David Pagawak berencana untuk menggelar lebih banyak lagi festival dan gelaran acara internasional. Hal tersebut diutarakan David saat ditemui di Jakarta, Senin (22/9/2014), seusai peresmian Kampung Wisata Ugimba dan peresmian Puncak Carstensz menjadi pariwisata unggulan di Papua.

“Ini baru rencana, ke depannya kami akan buat lebih banyak lagi. Misalnya saja festival. Di sana kan ada banyak suku-suku yang beragam. Setelah adanya pembangunan infrastruktur dan akses yang lebih baik nanti, mungkin rencana selanjutnya ialah membuat beragam festival. Kita sudah bisa buktikan beberapa gelaran acara internasional di Papua berhasil, Sail Raja Ampat misalnya,” ungkapnya santai.

Menurut David, potensi pembuatan festival berdasarkan saat ini ada lima wilayah di Provinsi Papua  yang memiliki budaya adat. “Ada lima yaitu, Manpago, Lapago, Mantag, Saireri dan Hanim. Pengembangan festival di masing-masing tempat tadi berpotensi pada kunjungan wisatawan lebih banyak lagi. Kalau festival kan bukan hanya destinasi yang akan kita persembahkan tapi juga budaya adat dan juga kuliner khas,” tambahnya lagi.

KOMPAS/AGUS SUSANTO Ruben Wetipo (paling kanan) bersama anak-anaknya di depan honai (rumah adat Papua) di Kampung Wouma, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Minggu (29/4/2012). Kaum laki-laki tidur dalam satu honai yang disebut honai pilamo.

Untuk pengembangan pula, ia merencanakan bahwa ada baiknya bila di Papua nanti bisa dibangun Honai, yaitu rumah adat Papua. “Honai ini rencananya tak seperti Honai biasanya, di sana selayaknya hotel dan penginapan. Akan ada toilet dan juga tempat tidur di dalamnya agar wisatawan nyaman saat menginap,” ungkap David.

Dengan rencana ini, ia yakin akan lebih banyak lagi wisatawan yang ingin menginjakkan kaki di tanah Papua. “Semoga Papua bisa menjadi salah satu destinasi wisata pilihan yang baik,” tutupnya.

 Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.