Inilah "Tumpeng Sewu", Tradisi Unik Suku Using di Banyuwangi

Kompas.com - 27/09/2014, 09:14 WIB
Tumpeng Sewu merupakan salah satu tradisi unik Suku Using di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATITumpeng Sewu merupakan salah satu tradisi unik Suku Using di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
|
EditorI Made Asdhiana
BANYUWANGI, KOMPAS.com - Suku Using di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mempunyai tradisi unik Tumpeng Sewu, yaitu ritual adat dengan membuat tumpeng dan dimakan bersama di depan rumah.

Tradisi sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberkahan serta sebagai cara tolak bala untuk menghindarkan bencana tersebut digelar, Kamis (25/9/2014) malam.

Awalnya, warga akan membuat nasi dalam bentuk kerucut yang merupakan simbol kepada Tuhan Yang Maha Esa serta untuk saling menyayangi sesama manusia dan lingkungan alam. Sedangkan lauk pauk khas yang disediakan yaitu pecel pitik dengan sambal dan lalapan.

"Pecel pitik ini makanan yang hanya ada saat selamatan. 'Ungucel-ngucel barang sithik' atau mengajak orang untuk bersyukur dan berhemat," jelas Juhadi Timbul kepada Kompas.com.

Untuk membuat pecel pithik sendiri, ayam kampung dibakar dan dicampur dengan kelapa yang dibumbui. "Kalau mau makan baru ayamnya dipotong kecil-kecil dan dicampur dengan kelapa muda yang diparut dan dibumbui. Makin bertambah lengkap kalau disantap ditemani sambal kacang khas Suku Using," jelasnya.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Tumpeng Sewu, salah satu tradisi unik Suku Using di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Setiap rumah akan mengeluarkan satu tumpeng dan diletakkan di depan rumahnya. Kemudian  mempersilakan setiap pengunjung untuk menikmati hidangan tersebut secara gratis. "Baru kali ini datang ke Desa Kemiren. Setiap orang mengajak makan dan ini gratis. Tinggal duduk saja di lesehan dan makan walaupun tidak saling kenal. Senang bisa ngobrol sama mereka. Benar-benar tidak ada jarak," jelas Tri Sukarso, mahasiswa asal Surabaya yang datang pada malam itu.

Sebelum selamatan dimulai, masyarakat "ngarak barong" sebagai simbol penjaga Desa Kemiren setelah sholat Magrib. Selain itu mereka juga membakar daun kelapa kering sepanjang jalan untuk menghilangkan marabahaya.

Usai makan bersama, warga membaca Lontar Yusuf (Surat Yusuf) hingga tengah malam di rumah salah seorang tokoh masyarakat setempat. Lontar Yusuf yang merupakan rangkaian dari ritual ini menceritakan perjalanan hidup Nabi Yusuf. Sementara itu siang harinya, masyarakat Using beramai-ramai menjemur kasur Abang Cemeng yang menjadi kasur khas Suku Using Kabupaten Banyuwangi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X