Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 29/09/2014, 11:21 WIB
EditorI Made Asdhiana

Inilah saat yang tepat untuk mengambil foto. Dari pucuk bakau, Michael memimpin kawanannya meluncur turun. Meraup pisang, lalu bergegas naik. Selang beberapa menit, barulah John turun dengan santai.

”Boleh mendekat untuk memotret, tapi jangan terlalu dekat,” pesan Jamil.

Ada 35 bekantan, baik dewasa, anak-anak, maupun bayi, di KKMB. Namun, bukan mereka saja penghuni KKMB karena ada banyak satwa lain, misalnya monyet ekor panjang. Meski demikian, Anda barangkali tidak menemukan monyet karena mereka sedang keluyuran ke luar area KKMB.

Tak perlu terburu-buru menikmati setiap jengkal KKMB. Tempat ini dibuka pukul 09.00-17.00 Wita. Semakin menyenangkan karena tiket masuknya pun dibanderol murah, Rp 3.000. Maklum, KKMB adalah milik Pemerintah Kota Tarakan. KKMB menjadi salah satu ikon wisata kota itu.

Paru-paru kota

Sejarah KKMB bermula tahun 2001 ketika pembangunan di Tarakan pesat. Pemkot Tarakan memikirkan pentingnya kota memiliki kawasan mangrove sebagai paru-paru kota. Wali Kota Tarakan saat itu, Jusuf SK, kemudian menerbitkan surat keputusan tentang pemanfaatan hutan mangrove sebagai kawasan mangrove seluas 9 hektar.

Awalnya, hanya ada dua bekantan di KKMB. Menurut Jamil, mereka lalu beranak pinak dan kini jumlah bekantan telah mencapai 35 ekor. Area KKMB yang awalnya 9 hektar lalu bertambah menjadi 22 hektar.

Pemerhati bekantan yang juga pengajar Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Samarinda, Yaya Rayadin, mengatakan, KKMB adalah solusi ketika habitat bekantan di perkotaan mulai tergusur. Hewan ini tidak bisa ”bertarung” untuk mempertahankan diri.

”Mereka cenderung menyingkir ketika habitatnya, yakni bakau, dibabat. Keterikatan yang sangat tinggi dengan bakau yang juga adalah pakan hariannya ini membuat bekantan termasuk hewan yang nyaris mustahil ditempatkan di kebun binatang,” ujar Yaya.

Tarakan beruntung memiliki KKMB yang tepat berada di jantung kota. Selain berfungsi sebagai paru-paru kota, KKMB juga menjadi tempat wisata edukasi. Meski demikian, Yaya mengingatkan, jumlah bekantan yang terus bertambah tentu harus ditunjang dengan perluasan area. (Lukas Adi Prasetya)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kemeriahan Cap Go Meh 2023 di Bogor, Beda dari Tahun-tahun Sebelumnya

Kemeriahan Cap Go Meh 2023 di Bogor, Beda dari Tahun-tahun Sebelumnya

Travel Update
Dikunjungi Jennie Blackpink, Ini 8 Fakta Masjid Agung Sheikh Zayed

Dikunjungi Jennie Blackpink, Ini 8 Fakta Masjid Agung Sheikh Zayed

Jalan Jalan
Sendratari Ramayana Prambanan yang Tampil pada Seremoni Pembukaan ATF 2023

Sendratari Ramayana Prambanan yang Tampil pada Seremoni Pembukaan ATF 2023

Jalan Jalan
4 Penginapan Dekat Tempat Wisata Boemisora Semarang, Bisa Camping

4 Penginapan Dekat Tempat Wisata Boemisora Semarang, Bisa Camping

Jalan Jalan
Cara ke Bilik Kucing Cat Cafe Depok Naik KRL dan Kendaraan Pribadi

Cara ke Bilik Kucing Cat Cafe Depok Naik KRL dan Kendaraan Pribadi

Travel Tips
Fasilitas Niang Komodo di Pulau Rinca Diresmikan, Sumber Info Wisata dan Edukasi

Fasilitas Niang Komodo di Pulau Rinca Diresmikan, Sumber Info Wisata dan Edukasi

Travel Update
Festival Pecinan Cirebon 2023, Komitmen Jaga Sejarah dan Tradisi Tionghoa di Tanah Wali

Festival Pecinan Cirebon 2023, Komitmen Jaga Sejarah dan Tradisi Tionghoa di Tanah Wali

Travel Update
Ribuan Pengunjung Padati Cap Go Meh Bogor Street Festival 2023

Ribuan Pengunjung Padati Cap Go Meh Bogor Street Festival 2023

Travel Update
Sejumlah Fasilitas di TN Komodo Perlu Dibenahi Demi Kenyamanan Wisatawan

Sejumlah Fasilitas di TN Komodo Perlu Dibenahi Demi Kenyamanan Wisatawan

Travel Update
Festival Imlek di Banyuwangi, Ada Beragam Jajanan Khas Tionghoa

Festival Imlek di Banyuwangi, Ada Beragam Jajanan Khas Tionghoa

Jalan Jalan
10 Fakta Visa Transit Arab Saudi, Bisa Umrah dan Ziarah

10 Fakta Visa Transit Arab Saudi, Bisa Umrah dan Ziarah

Jalan Jalan
Main ke Boemisora Semarang, Bisa Belanja 2 Oleh-oleh Ini

Main ke Boemisora Semarang, Bisa Belanja 2 Oleh-oleh Ini

Jalan Jalan
Pelayaran Rute Kepri-Kalbar Kini hanya 24 Jam Pakai Kapal Roro Terbaru

Pelayaran Rute Kepri-Kalbar Kini hanya 24 Jam Pakai Kapal Roro Terbaru

Travel Update
Datang ke Perayaan Cap Go Meh di Bekasi, Catat 4 Hal Penting Ini

Datang ke Perayaan Cap Go Meh di Bekasi, Catat 4 Hal Penting Ini

Travel Tips
Cap Go Meh Bogor 2023: Jam Mulai dan Pengalihan Jalannya

Cap Go Meh Bogor 2023: Jam Mulai dan Pengalihan Jalannya

Travel Update
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+