Kekuatan Seni Tradisi Garut

Kompas.com - 30/09/2014, 15:51 WIB
Ibu-ibu di Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat, menumbuk padi hasil panen. ARSIP KOMPAS TVIbu-ibu di Kampung Naga, Tasikmalaya, Jawa Barat, menumbuk padi hasil panen.
EditorI Made Asdhiana

Domba adalah hewan kesayangan dan kebanggaan masyarakat Garut. Saking sayangnya, domba dengan postur gagah, dengan reng-reng atau tanduk kuat dan tajam ini dipelihara dengan sangat baik.  Diberi panganan yang menyehatkan dan menguatkan plus jamu dan dilatih tarung di setiap akhir pekan.

Hampir setiap Minggu, pemilik domba rajin menggelar seni tradisi Laga Domba. Atraksi laga domba biasanya diadakan bergiliran di setiap padepokan yang ada di Kabupaten Garut. Terdapat sekitar 25 padepokan. Ketika Explore Indonesia bertandang ke Garut, pergelaran laga domba dilaksanakan di Padepokan Ciung Wanara, Kampung Garawangsa.

Tak hanya sebagai ajang tarung dan unjuk gengsi kekuatan domba milik peternak, laga atau kontes ternak ini merupakan tempat berkumpulnya para peternak, pemilik dan penggemar domba, tokoh masyarakat  serta perkumpulan organisasi profesi yang dihimpun dalam wadah HPDKI atau Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia.

Laga ini sekaligus menjadi ajang pemilihan bibit sebagai raja dan ratu bibit ternak domba Garut. Jika terjadi kata sepakat, biasanya akan berujung pada transaksi jual dan beli.  Harga  pasaran beragam kelas menengah bisa mencapai Rp 17 juta, dan yang paling murah Rp 5-6 juta. Namun domba terbaik bisa ditawar hingga Rp 30-40 juta. Ada rupa ada harga.

Seni Lais

Di siang nan terik. Sebuah terpal digelar menyerupai tenda di dekat areal pematang sawah yang sudah selesai panen. Masyarakat sekitar mengerumuni pinggiran pematang sawah bersiap menyaksikan pergelaran Lais. Pergelaran ditanggap pemilik sawah sebagi bagian dari syukuran pascapanen.

ARSIP KOMPAS TV Seni Lais di Garut, padukan akrobat dan debus.
Lais dibuka oleh seorang penari genit berdandan menor. Sintren itu bernama Nyai Endeut. Lelaki yang berpakaian khas perempuan Sunda dengan menggendong keranjang berisi bekal untuk ke sawah. Gaya-gaya menari yang kocak dan kadang nakal membuat penonton mengumbar tawa.

Tapi itu baru pembuka dari serangkaian seni Lais, suatu jenis pertunjukan rakyat di Jawa Barat. Saat ini kesenian Lais hanya ada di Garut, yaitu Lais Putra Pancawarna Medal Panglipur.
Yang utama dari pertunjukan ini adalah atraksi seseorang pada bentangan  seutas tali sepanjang enam meter. Tali tersebut diikat tinggi pada dua batang bambu setinggi hingga 12 meter. Bunyi terompet dan gendang gong saling bersahutan menandakan pertunjukan segera di mulai.

Selanjutnya sesajen dibakar dan semua pemain lain memasuki lapangan atraksi. Tampak di sudut areal persawahan, sang pawang mulai membaca mantra.

Puncaknya, pemain Lais mulai beraksi, dengan sigap dia memanjat bambu tanpa tali pengaman. Semacam akrobatik, pemain lais beratraksi dengan seutas tali tersebut. Mengundang kengerian karena bambu yang dipancang tingginya hingga 15 meter. Sesekali pemain Lais berkomunikasi dengan gaya yang kocak dengan sintren yang menungguinya di bawah. Pada bagian lain, aksi debus juga dipertontonkan menambah daya tarik permainan ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X