Seni Wayang Potehi Berpusat di Gudo

Kompas.com - 02/10/2014, 19:41 WIB
Kompas/Winarto Herusansono Banyak Warga serius menonton pertunjukkan Wayang Potehi di Gang Pinggir, Kranggan, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (6/2/2013) sore.
JAKARTA, KOMPAS — Seni boneka atau wayang potehi warisan budaya peranakan Tionghoa tetap dikonservasi komunitas masyarakatnya. Salah satunya masyarakat Gudo di Jombang, Jawa Timur. Kini, lokasi itu disebut sebagai pusat seni wayang potehi di Indonesia.

”Gudo di Jombang itu dekat dengan pusat Kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto. Budaya peranakan Tionghoa di Gudo mampu bertahan sampai sekarang, menunjukkan kemampuan berbaur peranakan Tionghoa dan sikap toleransi masyarakat sekitarnya yang tumbuh kuat,” kata arkeolog Hasan Djafar, pensiunan dari Universitas Indonesia, Rabu (1/10/2014), di Jakarta.

Hasan mengatakan, masyarakat pendatang dari Tiongkok ke Jawa itu jauh sebelum Kerajaan Majapahit terbentuk abad XII-XIV. Pada masa Majapahit, masyarakat Hindu-Buddha menjadi dominan. Namun, sekarang terkikis dan beralih sebagai masyarakat Islam.

”Peranakan Tionghoa hidup dalam kluster-kluster dan mampu terus bertahan. Namun, intinya karena sikap masyarakat sekitar memberikan toleransinya dengan baik,” kata Hasan.

Kelengkapan potehi

Peneliti budaya peranakan Tionghoa, Dwi Woro Retno Mastuti dari Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, mengatakan, kelengkapan proses seni wayang potehi masih terjaga di Gudo. Proses produksi, pemain, dan pementasan seni wayang masih tetap terjaga hingga sekarang.

”Kelangsungan komunitas peranakan Tionghoa terdukung pola interaksi dagang,” kata Dwi Woro.

Gudo terletak 13 kilometer arah barat Jombang. Seni wayang potehi di Gudo sering dipentaskan di Kelenteng Hong San Kiong di pertigaan jalan ke arah selatan menuju Kediri dan ke utara menuju Jombang. (NAW)



EditorI Made Asdhiana

Close Ads X