MICE, Harapan Baru Pariwisata Indonesia

Kompas.com - 07/10/2014, 11:40 WIB
Antrean panjang pengunjung di Kompas Travel Fair 2014 di Jakarta Convention Center, Jumat (26/9/2014). Dengan mengusung tema 'Start Your Unstoppable Journey', pameran wisata yang berlangsung hingga 28 September ini juga dimeriahkan beragam acara menarik. KOMPAS.com / DINO OKTAVIANOAntrean panjang pengunjung di Kompas Travel Fair 2014 di Jakarta Convention Center, Jumat (26/9/2014). Dengan mengusung tema 'Start Your Unstoppable Journey', pameran wisata yang berlangsung hingga 28 September ini juga dimeriahkan beragam acara menarik.
|
EditorI Made Asdhiana

 

JAKARTA, KOMPAS.com – Bagaimana caranya mendatangkan wisatawan dalam jumlah banyak dalam satu waktu? Jawabannya adalah MICE atau Meeting, Incentive, Convention and Exhibition. Menurut data BPPI atau Badan Promosi Pariwisata Indonesia, potensi transaksi MICE tiap tahunnya bisa mencapai Rp 400 triliun. Bukan angka yang kecil buat pertumbuhan ekonomi negara.

"Setiap acara MICE itu transaksinya banyak yang terjadi. Bayangkan kalau setiap tahun ada 1.000 pameran besar," kata Ketua BPPI Wiryanti Sukamdani.

Menurut Wiryanti, pemerintah ke depan harus lebih serius menangani MICE agar bisa menjadi sumber pemasukan negara. "Di mana ada pariwisata di situ pasti ada pemasukan buat masyarakat," ujarnya. Lebih lanjut Wiyanti mengatakan, semua pihak harus turut mendukung seperti penyediaan sarana dan prasarananya.

Dalam catatan Kompas.com setidaknya ada tiga catatan besar untuk menjadikan MICE sebagai ujung tombak pariwisata nasional.

1. Sarana dan prasarana yang terintegrasi

Setidaknya membutuhkan bangunan gedung berkapasitas 6.000 orang  untuk memenuhi standar penyelenggaraan MICE. Sementara Indonesia hanya memiliki 6 gedung di 6 daerah dengan standar MICE sekelas internasional yaitu: Bali International Convention Centre, Jakarta Convention Centre, Jatim Expo, Jogja Expo Centre, Hotel Aston Balikpapan, dan Celebes Convention Centre.

AP PHOTO / ANTONIO DAISPARU - POOL Margie Abbott (tengah) istri PM Australia Tony Abbott, menari bersama anak-anak saat mengunjungi Safari and Marine Park, Bali, 7 Oktober 2013.

Belum lagi harus dipikirkan membangun jalur transportasi dan sistem informasi yang terintegrasi. "Di Singapura, monorel  dari Bandara Changi bisa langsung ke gedung Expo. Nah di Jakarta, ke Jakarta Convention Centre sudah macet, susah pula bus-nya," ucap Ernes K. Remboen dari PT Dyandra UBM Internasional, salah satu penyelenggaran MICE besar di Indonesia.

Lebih lanjut bila bangunan konvensi atau konferensi sudah banyak harus dipikirkan bagaimana agar gedung–gedung tersebut tetap bisa produktif. "Bagaimana mau dipakai kalau bangunannya jauh dari mana–mana dan susah transportasi. Akhirnya sepi," ujar Wiryanti.

2. SDM dan penyelenggara yang siap dan profesional

MICE otomatis akan membutuhkan banyak tenaga kerja. Mulai sopir, jasa pendamping, sampai pelaku bisnis. Cara kerja MICE juga beda dengan kawasan wisata biasa. MICE membutuhkan persiapan yang banyak dan waktu lama. "Satu acara saja bisa setahun persiapannya," kata Ernest.

Setidaknya penyelenggara atau Event Organizer suatu acara MICE kerjanya mulai mencari klien, penataan, kerja sama antar pihak terkait, dan yang penting bagaimana cara agar acara berlangsung menarik sehingga banyak yang datang. "SDM adalah masalah besar dalam MICE tapi bagaimana pun SDM kita harus siap," ujar Ernest.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X