Kompas.com - 11/10/2014, 18:23 WIB
Tarian kolosal yang dilakukan lebih dari 1.000 penari barong, bagian dari kesenian jaranan atau jaran kepang, meramaikan Pekan Budaya dan Pariwisata Kediri 2014 di Jawa Timur, yang berlangsung di Simpang Lima Gumul, Sabtu (16/8/2014). Meskipun sejumlah kesenian tradisional lain mulai pudar karena kalah dari perkembangan zaman, tidak demikian halnya dengan barong dan jaranan. Kesenian ini masih eksis, bahkan kelompok kesenian ini terus bertambah di Kediri. KOMPAS/DEFRI WERDIONOTarian kolosal yang dilakukan lebih dari 1.000 penari barong, bagian dari kesenian jaranan atau jaran kepang, meramaikan Pekan Budaya dan Pariwisata Kediri 2014 di Jawa Timur, yang berlangsung di Simpang Lima Gumul, Sabtu (16/8/2014). Meskipun sejumlah kesenian tradisional lain mulai pudar karena kalah dari perkembangan zaman, tidak demikian halnya dengan barong dan jaranan. Kesenian ini masih eksis, bahkan kelompok kesenian ini terus bertambah di Kediri.
EditorI Made Asdhiana
BEBERAPA daerah di Provinsi Jawa Tengah menyebut tari ini sebagai jatilan. Sementara di daerah subkultur Mataraman, Jawa Timur, kesenian yang sering melibatkan unsur magis hingga penarinya kesurupan ini dikenal sebagai jaranan. Seni tari kerakyatan tua yang menggambarkan soal kegagahan itu sampai saat ini masih eksis di kala seni yang lain pudar akibat perubahan zaman.

Cuaca terik di sekitar Monumen Simpang Lima Gumul, Desa Sumberjo, Ngasem, Kabupaten Kediri, pertengahan Agustus silam, tidak menyurutkan niat ribuan orang menunggu tari kolosal 1.000 barong. Tarian itu salah satu agenda penutup Pekan Budaya dan Pariwisata Kediri 2014 yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah setempat. Mereka mengalir datang sejak beberapa jam sebelum acara dimulai.

Untuk meredam panas, sebuah mobil tangki disiagakan guna menyemprotkan air ke permukaan aspal yang menjadi arena perhelatan. Selepas pukul 14.00, lebih dari 1.000 orang mengenakan atribut barong pun beraksi setelah sebelumnya didahului oleh beberapa tarian, di antaranya kawedar dan jingkrak.

Menggenakan topeng berupa naga lengkap dengan mata melotot berwarna mencolok, mahkota kecil, dan kostum panjang terurai, mereka menari bersama mengikuti perpaduan suara gamelan khas yang dipertegas narasi dari mulut pengrawit. Meski tidak tercatat dalam museum rekor, pentas massal yang kali ini memasuki tahun kedua itu mendapatkan apresiasi meriah dari penonton.

Barong merupakan bagian dari jaranan, selain kuda, babi hutan, dan satwa lain yang dibuat dari anyaman bambu (kepang). Ada beberapa versi cerita dalam jaranan, di antaranya Dewi Sangga Langit asal Kediri yang diminta menikah oleh orangtuanya hingga akhirnya membuat sayembara bagi lelaki yang ingin meminangnya. Para pelamar diminta membuat kesenian yang belum pernah ada.

Dari sejumlah pelamar yang menyukai Sangga Langit, ada dua orang, yakni Klana Sewandana asal Wengker dan Singa Lodaya asal Blitar. Keduanya kemudian terlibat perkelahian hingga salah satunya kalah. Singa Lodaya yang kalah kemudian membantu memboyong pasangan Klana Sewandana dan Sangga Langit ke Wengker dengan iringan-iringan kuda.

Versi lain menyebutkan, cerita yang diadopsi jaranan kemungkinan berasal dari pasukan penjemput Dewi Kilisuci di masa Airlangga akhir ketika ia selesai bertapa di gunung. Ada juga versi yang menyebut raja dari Ponorogo ingin mempersunting Dewi Sangga Langit, tetapi gagal hingga akhirnya terjadi peperangan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tak pernah sepi

Terlepas dari perbedaan versi cerita, satu hal yang pasti adalah seni ini tidak pernah sepi penonton. ”Dibandingkan dengan tahun 1970-an dan 1980-an, sepertinya saat ini lebih ramai. Panggilan untuk pentas masih sering kami terima untuk menghibur acara hajatan. Bahkan, di Goa Selomangleng (Kediri) masih diadakan pertunjukan bergilir sekali dalam sebulan,” kata Darno (57), Ketua Kelompok Jaranan Setyo Budoyo, Desa Goro, Mojoroto.

Darno bergabung dengan jaranan sejak sekolah dasar. Darno kecil mewarisi keahlian orangtuanya yang juga penari jaranan secara turun-temurun. Kini, anak dan cucunya yang masih duduk di bangku SMP juga telah meneruskan langkahnya. Bersama anggota kelompok yang berjumlah 40 orang, pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu tidak hanya pentas di sekitar Kediri, tetapi juga sampai Surabaya. Upah pentas bervariasi, yakni Rp 4 juta-Rp 10 juta, tergantung jarak.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menparekraf Sandiaga Tanggapi PHRI yang Menolak Sertifikasi CHSE

Menparekraf Sandiaga Tanggapi PHRI yang Menolak Sertifikasi CHSE

Travel Update
Setelah Bali, Batam dan Bintan Ditargetkan Buka untuk Turis Asing

Setelah Bali, Batam dan Bintan Ditargetkan Buka untuk Turis Asing

Travel Update
Syarat Turis Asing yang Boleh Wisata ke Bali, Sehat dan Bervaksin Covid-19

Syarat Turis Asing yang Boleh Wisata ke Bali, Sehat dan Bervaksin Covid-19

Travel Update
Ada Hoaks soal Wisata Jogja, Ini Daftar Resmi 7 Tempat Wisata di Sana yang Buka

Ada Hoaks soal Wisata Jogja, Ini Daftar Resmi 7 Tempat Wisata di Sana yang Buka

Travel Update
Rencana Argentina Terima Turis Asing Mulai November 2021

Rencana Argentina Terima Turis Asing Mulai November 2021

Travel Update
Norwegia Akan Buka Perbatasan secara Bertahap

Norwegia Akan Buka Perbatasan secara Bertahap

Travel Update
Kedai Kopi Pucu'e Kendal Ramai Pengunjung, meski Buka Saat Pandemi

Kedai Kopi Pucu'e Kendal Ramai Pengunjung, meski Buka Saat Pandemi

Jalan Jalan
Ingin Wisata ke Magelang? Yuk Kunjungi Desa Wisata Candirejo

Ingin Wisata ke Magelang? Yuk Kunjungi Desa Wisata Candirejo

Jalan Jalan
4 Tipe Glamping di The Lodge Maribaya Lembang, Mulai Rp 800.000 Per Malam

4 Tipe Glamping di The Lodge Maribaya Lembang, Mulai Rp 800.000 Per Malam

Jalan Jalan
Fasilitas Glamping Lakeside Rancabali, Resor Tepi Situ Patenggang yang Indah

Fasilitas Glamping Lakeside Rancabali, Resor Tepi Situ Patenggang yang Indah

Jalan Jalan
3 Spot Foto Favorit di Kawah Putih Ciwidey, Bisa Lihat Sunrise

3 Spot Foto Favorit di Kawah Putih Ciwidey, Bisa Lihat Sunrise

Jalan Jalan
Bosan di Rumah Terus karena Pandemi? Berikut 3 Ide Piknik Bersama Pasangan Tanpa Keluar Mobil

Bosan di Rumah Terus karena Pandemi? Berikut 3 Ide Piknik Bersama Pasangan Tanpa Keluar Mobil

BrandzView
Aktivitas Menarik yang Bisa Dilakukan di The Lodge Maribaya

Aktivitas Menarik yang Bisa Dilakukan di The Lodge Maribaya

Jalan Jalan
Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik Buka Lagi, Ini Syaratnya

Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik Buka Lagi, Ini Syaratnya

Travel Update
Sambut Event Besar, Ganjar Percepat Vaksinasi Covid-19 di Kawasan Wisata Jateng

Sambut Event Besar, Ganjar Percepat Vaksinasi Covid-19 di Kawasan Wisata Jateng

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.