Kompas.com - 11/10/2014, 18:23 WIB
EditorI Made Asdhiana
BEBERAPA daerah di Provinsi Jawa Tengah menyebut tari ini sebagai jatilan. Sementara di daerah subkultur Mataraman, Jawa Timur, kesenian yang sering melibatkan unsur magis hingga penarinya kesurupan ini dikenal sebagai jaranan. Seni tari kerakyatan tua yang menggambarkan soal kegagahan itu sampai saat ini masih eksis di kala seni yang lain pudar akibat perubahan zaman.

Cuaca terik di sekitar Monumen Simpang Lima Gumul, Desa Sumberjo, Ngasem, Kabupaten Kediri, pertengahan Agustus silam, tidak menyurutkan niat ribuan orang menunggu tari kolosal 1.000 barong. Tarian itu salah satu agenda penutup Pekan Budaya dan Pariwisata Kediri 2014 yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah setempat. Mereka mengalir datang sejak beberapa jam sebelum acara dimulai.

Untuk meredam panas, sebuah mobil tangki disiagakan guna menyemprotkan air ke permukaan aspal yang menjadi arena perhelatan. Selepas pukul 14.00, lebih dari 1.000 orang mengenakan atribut barong pun beraksi setelah sebelumnya didahului oleh beberapa tarian, di antaranya kawedar dan jingkrak.

Menggenakan topeng berupa naga lengkap dengan mata melotot berwarna mencolok, mahkota kecil, dan kostum panjang terurai, mereka menari bersama mengikuti perpaduan suara gamelan khas yang dipertegas narasi dari mulut pengrawit. Meski tidak tercatat dalam museum rekor, pentas massal yang kali ini memasuki tahun kedua itu mendapatkan apresiasi meriah dari penonton.

Barong merupakan bagian dari jaranan, selain kuda, babi hutan, dan satwa lain yang dibuat dari anyaman bambu (kepang). Ada beberapa versi cerita dalam jaranan, di antaranya Dewi Sangga Langit asal Kediri yang diminta menikah oleh orangtuanya hingga akhirnya membuat sayembara bagi lelaki yang ingin meminangnya. Para pelamar diminta membuat kesenian yang belum pernah ada.

Dari sejumlah pelamar yang menyukai Sangga Langit, ada dua orang, yakni Klana Sewandana asal Wengker dan Singa Lodaya asal Blitar. Keduanya kemudian terlibat perkelahian hingga salah satunya kalah. Singa Lodaya yang kalah kemudian membantu memboyong pasangan Klana Sewandana dan Sangga Langit ke Wengker dengan iringan-iringan kuda.

Versi lain menyebutkan, cerita yang diadopsi jaranan kemungkinan berasal dari pasukan penjemput Dewi Kilisuci di masa Airlangga akhir ketika ia selesai bertapa di gunung. Ada juga versi yang menyebut raja dari Ponorogo ingin mempersunting Dewi Sangga Langit, tetapi gagal hingga akhirnya terjadi peperangan.

Tak pernah sepi

Terlepas dari perbedaan versi cerita, satu hal yang pasti adalah seni ini tidak pernah sepi penonton. ”Dibandingkan dengan tahun 1970-an dan 1980-an, sepertinya saat ini lebih ramai. Panggilan untuk pentas masih sering kami terima untuk menghibur acara hajatan. Bahkan, di Goa Selomangleng (Kediri) masih diadakan pertunjukan bergilir sekali dalam sebulan,” kata Darno (57), Ketua Kelompok Jaranan Setyo Budoyo, Desa Goro, Mojoroto.

Darno bergabung dengan jaranan sejak sekolah dasar. Darno kecil mewarisi keahlian orangtuanya yang juga penari jaranan secara turun-temurun. Kini, anak dan cucunya yang masih duduk di bangku SMP juga telah meneruskan langkahnya. Bersama anggota kelompok yang berjumlah 40 orang, pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu tidak hanya pentas di sekitar Kediri, tetapi juga sampai Surabaya. Upah pentas bervariasi, yakni Rp 4 juta-Rp 10 juta, tergantung jarak.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Car Free Day Jakarta Kembali Dibuka 22 Mei, Berikut 6 Lokasinya 

Car Free Day Jakarta Kembali Dibuka 22 Mei, Berikut 6 Lokasinya 

Travel Update
Harga Tiket dan Rute ke Kedai Sawah Sembalun NTB, Jangan Sampai Nyasar

Harga Tiket dan Rute ke Kedai Sawah Sembalun NTB, Jangan Sampai Nyasar

Travel Tips
Cerita Malin Kundang dan Tradisi Merantau Laki-laki Minangkabau

Cerita Malin Kundang dan Tradisi Merantau Laki-laki Minangkabau

Jalan Jalan
Lagi Tren, Ini 6 Spot Campervan Kece di Bali

Lagi Tren, Ini 6 Spot Campervan Kece di Bali

BrandzView
Agrowisata Kedai Sawah Sembalun di Lombok Timur, Bisa Petik Sayur dan Buah

Agrowisata Kedai Sawah Sembalun di Lombok Timur, Bisa Petik Sayur dan Buah

Jalan Jalan
Wisata Bondowoso: Kaldera Ijen Purba yang Punya Banyak Keunikan Alam

Wisata Bondowoso: Kaldera Ijen Purba yang Punya Banyak Keunikan Alam

Jalan Jalan
Sensasi Baru Wisata Bukit Cinta Rawa Pening, Keliling Naik Jet Ski

Sensasi Baru Wisata Bukit Cinta Rawa Pening, Keliling Naik Jet Ski

Jalan Jalan
Aturan Terbaru Naik Pesawat Lion Air, Batik, dan Wings per 18 Mei 2022

Aturan Terbaru Naik Pesawat Lion Air, Batik, dan Wings per 18 Mei 2022

Travel Update
Kulon Progo Kembali Bikin Tiga Film Berlatar Tempat Wisata, Jadi Ajang Promosi

Kulon Progo Kembali Bikin Tiga Film Berlatar Tempat Wisata, Jadi Ajang Promosi

Travel Update
Gurun Pasir Putih di Mesir yang Unik dan Indah, Mirip Area Bersalju

Gurun Pasir Putih di Mesir yang Unik dan Indah, Mirip Area Bersalju

Jalan Jalan
Sering Ingin Kentut Saat Naik Pesawat, Ini Alasan dan Cara Mencegahnya

Sering Ingin Kentut Saat Naik Pesawat, Ini Alasan dan Cara Mencegahnya

Travel Update
Limbah Restoran di Labuan Bajo Dibuang Sembarangan, Cederai Konsep Pariwisata Berkelanjutan

Limbah Restoran di Labuan Bajo Dibuang Sembarangan, Cederai Konsep Pariwisata Berkelanjutan

Travel Update
Taman Gandrung Terakota, Taman Unik Tempat 1.000 Penari di Banyuwangi

Taman Gandrung Terakota, Taman Unik Tempat 1.000 Penari di Banyuwangi

Jalan Jalan
10 Mal Terbesar di Dunia, Banyak yang dari Thailand dan China

10 Mal Terbesar di Dunia, Banyak yang dari Thailand dan China

Jalan Jalan
Kebun Raya Bogor Resmikan Wahana Baru Griya Anggrek

Kebun Raya Bogor Resmikan Wahana Baru Griya Anggrek

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.