Kompas.com - 18/10/2014, 19:50 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

Sekretaris Desa Melemba, Antonius Rimau yang juga bermukim di dusun Meliau mengamini apa yang disampaikan Husin. Rimau, sapaan akrabnya, selalu megimbau dan mengingatkan warganya untuk tidak menyalahi dan melanggar kesepakatan konservasi yang dibangun di wilayahnya. Pendampingan dari WWF-Indonesia program Kalimantan Barat yang mulai dirintis sejak tahun 2006 sedikit banyak berhasil mempertahankan keanekaragaman hayati di sepanjang kawasan koridor di kedua Taman Nasional tersebut.

Konflik Orangutan

Berkurangnya ketersediaan pakan orangutan ternyata berdampak pada migrasi dalam usaha mencari makanan. Bahkan orangutan kerap turun ke permukiman untuk mengambil buah-buahan di kebun dan madu. “Beberapa waktu lalu ada orangutan yang ambil madu di tikung (dahan buatan) milik masyarakat,” ujar seorang warga lainnya.

Bagi masyarakat Dayak Iban, orangutan atau mayas (bahasa lokal) pantang untuk dikonsumsi dan dibunuh. “Percuma kalau dibunuh, tidak bisa dimakan, jadi untuk apa kami bunuh, biarkan saja. Mereka juga butuh makan sama seperti kita,” warga lain menambahkan.

Masuknya orangutan ke permukiman masyarakat merupakan dampak dari berkurangnya ketersediaan pakan dan habitat asli orangutan yang mulai terbuka akibat aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan skala besar di sekitar kawasan Taman Nasional Danau Sentarum.

Ekowisata

Kelompok Pengelola Pariwisata “Kaban Mayas” merupakan salah satu kelompok yang aktif dalam mengelola ekowisata di Kapuas Hulu yang berdiri sejak tahun 2010. Nama “Kaban Mayas” merupakan bahasa lokal, Kaban artinya kawan atau sahabat, sedangkan Mayas artinya orangutan. Secara harafiah, kelompok tersebut merupakan salah satu ujung tombak dalam menjaga kelestarian ekosistem dan habitat orangutan yang ada di kampung mereka. “Saya menjual orangutan, sungai, danau, dan hutan yang ada di kampung saya ini ke bule-bule,” ujar Sodik beberapa waktu lalu.

Sambil tersenyum, kalimat itu mengalir begitu saja dari mulut Sodik dalam perbincangan siang itu. Jawaban itu terlontar menjawab pertanyaan tentang aktivitasnya sehari-hari. Sodik merupakan ketua Kelompok Pengelola Pariwisata (KPP) “Kaban Mayas” di Meliau yang fokus dalam mengelola ekowisata di kampungnya. Bukan tanpa alasan, orangutan, sungai, danau, dan hutan yang berada di sekitar kampung menjadi menu utama dalam paket perjalanan ekowisata yang ditawarkan dan diminati hingga mancanegara. “Dalam bulan ini hampir tidak putus, silih berganti para tamu datang, baik bule maupun tamu lokal. Hampir tidak ada jeda, tapi harus tetap dilayani,” kata Sodik.

Tujuan tamu yang datang pun tak selalu sama. Ada yang datang sekadar untuk menyalurkan hobi memancing di danau dan sungai. Ada yang datang hanya ingin menikmati suasana tinggal di rumah betang. Dan yang tak kalah seru, banyak yang datang mencoba peruntungan dengan trekking ke bukit untuk bertemu dan melihat orangutan liar di habitat aslinya. Khusus wisata untuk bertemu orangutan, para pemandu mendapat dampingan khusus dari WWF-Indonesia. Sebulan sekali, 2-3 orang warga dilibatkan dalam survei monitoring peluruhan sarang orangutan yang dilakukan oleh staf WWF di Stasiun Riset Satwa.

KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan Salah satu jenis buah yang menjadi pakan Orangutan (Pongo Pygmaeus pygmaeus) di Bukit Peninjau, Desa Melemba, Kecamatan Batang Lupar, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.
Albertus Tjiu, Manajer Program Kalimantan Barat WWF-Indonesia mengungkapkan, tujuan dari monitoring yang dilakukan salah satunya adalah melihat peluruhan sarang orangutan. Dari peluruhan sarang, dengan menggunakan rumus perhitungan nantinya akan diketahui populasi orangutan yang berada di beberapa jalur monitoring yang dijadikan jalur trekking.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.