Menyusuri Kota Lama Gresik

Kompas.com - 23/10/2014, 11:52 WIB
Salah satu jejak sejarah di Gresik yang dikenal adalah Kampung Kemasan, yang dulu menjadi pusat pabrik kulit dan perhiasan. Kampung Kemasan menjadi salah satu cagar budaya yang bisa dinikmati pengunjung. KOMPAS/ADI SUCIPTOSalah satu jejak sejarah di Gresik yang dikenal adalah Kampung Kemasan, yang dulu menjadi pusat pabrik kulit dan perhiasan. Kampung Kemasan menjadi salah satu cagar budaya yang bisa dinikmati pengunjung.
EditorI Made Asdhiana

Gresik adalah kota dagang yang tua. Hal itu dibuktikan adanya pedagang besar dari Gresik bernama Nyai Ageng Pinatih.

Kampung Kemasan di Kelurahan Pekelingan menjadi saksi sejarah perkembangan kehidupan sosial budaya, ekonomi, dan perdagangan masyarakat sekitar tahun 1898 hingga 1916. Kampung Kemasan menjadi tempat pedagang pribumi berinteraksi dengan masyarakat Jawa ataupun mancanegara.

Gresik merupakan kota pelabuhan dan kota perdagangan yang berkembang sejak Nusantara menjadi titik simpul perdagangan dunia. Gresik berkembang dengan masyarakat multikultural dan multietnis.

Peranan Gresik sebagai kota dagang mulai berkembang sejak pertengahan abad ke-14. Posisinya di pantai utara Laut Jawa yang menjadi jalur utama perdagangan Nusantara dan internasional sangat strategis. Gresik juga diapit oleh dua muara sungai besar, yaitu Bengawan Solo dan Kali Brantas, sangat strategis sebagai simpul sistem perdagangan regional yang menghubungkan daerah pedalaman Jawa dengan luar Jawa.

Gresik sebagai kota dagang dan kota pelabuhan mendorong warganya hidup sebagai perajin dan pedagang. Sebagian besar warga menjadi perajin permata, kopiah, kuningan, kulit (sandal, sepatu, terompah, sabuk, dan tas), tukang ukir, pandai besi, tukang peti, tukang jahit pakaian, serta nelayan.

Pada awal penyebaran agama Islam, Gresik merupakan pusat penyebaran di Pulau Jawa hingga Maluku. Penyebaran Islam mulai abad XIV dibuktikan dengan adanya Prasasti ”Batu Nisan” Leran, makam Fatimah binti Maimun pada abad XI, dan makam Maulana Malik Ibrahim yang bertarikh 822 Hijriah (1419 Masehi). (Adi Sucipto Kisswara)

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X