Menyusuri Kota Lama Gresik

Kompas.com - 23/10/2014, 11:52 WIB
KOMPAS/ADI SUCIPTO"Gresik Djaman Doeloe" yang digelar setahun sekali di kawasan wisata cagar budaya, mulai Jalan Raden Santri hingga Kampung Kemasan, 30-31 Agustus 2014, menampilkan foto-foto kuno termasuk pakaian, kendaraan, panggung hiburan, dan tradisi yang tumbuh di Gresik.
EditorI Made Asdhiana
KAWASAN Kota Lama Gresik, Jawa Timur, menyimpan kebesaran dan keindahan masa lalu. Kawasan itu layak menjadi kawasan wisata ”heritage” Indonesia. Sejumlah bangunan kuno yang dibangun lebih dari satu abad lalu masih terpelihara.Keindahan dan kemegahan arsitekturnya semakin lengkap saat dipadu dengan seni tradisi, seperti macapatan, pencak macan, kedungdangan, dan seni lukis damar kurung.

Bangunan kuno bernilai sejarah, seperti Masjid Jami, Gedung Parlemen, Garling, dan Kantor Pos Pelabuhan, masih difungsikan hingga kini.

Hampir seluruh sudut Kota Lama Gresik bercerita mengenai masa lalu, tentang cikal bakal peradaban. Goresan masa lalu masih tampak pada Masjid Jami yang dibangun tahun 1600. Di Jalan Basuki Rachmad (Lojie Gede), ada Gardu Suling (garling). Fungsinya sebagai pemberitahuan kepada penduduk kalau ada serangan musuh, baik dari laut maupun dari udara melalui sirene.

Jalan HOS Cokroaminoto (Garling Straat) panjangnya hanya sekitar 200 meter, terdapat dua bangunan rumah toko yang berhadapan. Bangunan di sebelah timur dibangun pada tahun 1903 oleh pengusaha Belanda, sedangkan bangunan di sebelah barat dibangun oleh pribumi tahun 1911.

Di Jalan Nyai Ageng Arem-Arem ada gedung limo, karena pintunya berjumlah lima. Fungsi gedung itu sebagai gudang tempat menyimpan kulit dan barang lainnya. Berhadapan dengan gedung ini ada bangunan megah buatan tahun 1898 oleh H Djaelan bin Oemar.

Bangunan tersebut dikenal dengan sebutan Gajah Mungkur, karena ada patung gajah yang mungkuri (membelakangi) jalan. Di samping rumah Gajah Mungkur terdapat sederetan rumah kuno milik keluarga HM Ekram bin HM Haroen, rumah Tiang Bo dengan halaman luas, dan rumah keluarga H Aboe.

Sementara itu, Kampung Kemasan, pada abad ke-19, merupakan permukiman orang-orang Eropa dan pribumi yang cukup mapan dari segi ekonomi. Kawasan itu menjadi basis perajin dan pedagang pribumi saat itu. Bangunan-bangunan di sana berarsitektur perpaduan corak Eropa, Tiongkok, dan Timur Tengah.

Saat ini di Gresik sudah terdata sekitar 350 bangunan kuno dari keseluruhan yang diperkirakan ada 600 bangunan. Delapan bangunan telah dipugar total dan berubah fungsi.

Karena itu, Masyarakat Pecinta Sejarah dan Budaya Gresik (Mata Seger) mendorong agar diberlakukan peraturan daerah tentang cagar budaya.

Jejak peradaban

Gresik adalah kota dagang yang tua. Hal itu dibuktikan adanya pedagang besar dari Gresik bernama Nyai Ageng Pinatih.

KOMPAS/ADI SUCIPTO Salah satu jejak sejarah di Gresik yang dikenal adalah Kampung Kemasan, yang dulu menjadi pusat pabrik kulit dan perhiasan. Kampung Kemasan menjadi salah satu cagar budaya yang bisa dinikmati pengunjung.
Kampung Kemasan di Kelurahan Pekelingan menjadi saksi sejarah perkembangan kehidupan sosial budaya, ekonomi, dan perdagangan masyarakat sekitar tahun 1898 hingga 1916. Kampung Kemasan menjadi tempat pedagang pribumi berinteraksi dengan masyarakat Jawa ataupun mancanegara.

Gresik merupakan kota pelabuhan dan kota perdagangan yang berkembang sejak Nusantara menjadi titik simpul perdagangan dunia. Gresik berkembang dengan masyarakat multikultural dan multietnis.

Peranan Gresik sebagai kota dagang mulai berkembang sejak pertengahan abad ke-14. Posisinya di pantai utara Laut Jawa yang menjadi jalur utama perdagangan Nusantara dan internasional sangat strategis. Gresik juga diapit oleh dua muara sungai besar, yaitu Bengawan Solo dan Kali Brantas, sangat strategis sebagai simpul sistem perdagangan regional yang menghubungkan daerah pedalaman Jawa dengan luar Jawa.

Gresik sebagai kota dagang dan kota pelabuhan mendorong warganya hidup sebagai perajin dan pedagang. Sebagian besar warga menjadi perajin permata, kopiah, kuningan, kulit (sandal, sepatu, terompah, sabuk, dan tas), tukang ukir, pandai besi, tukang peti, tukang jahit pakaian, serta nelayan.

Pada awal penyebaran agama Islam, Gresik merupakan pusat penyebaran di Pulau Jawa hingga Maluku. Penyebaran Islam mulai abad XIV dibuktikan dengan adanya Prasasti ”Batu Nisan” Leran, makam Fatimah binti Maimun pada abad XI, dan makam Maulana Malik Ibrahim yang bertarikh 822 Hijriah (1419 Masehi). (Adi Sucipto Kisswara)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X