Wisatawan Mulai Lirik Kain Tenun Baduy

Kompas.com - 29/10/2014, 19:41 WIB
KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Kain tenun ikat asal Baduy Luar dipamerkan dalam 'Adiwastra Indonesia 2012', di Jakarta Convention Center, Senayan, Rabu (15/2/2012).
LEBAK, KOMPAS.com - Wisatawan melirik kain tenun Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, karena memiliki nilai seni tradisional dan warnanya berbeda dengan tenun lain di tanah air. "Kami merasa kewalahan permintaan wisatawan untuk membeli tenun Baduy cukup banyak," kata Meti, seorang perajin Baduy warga Kadu Ketug, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Senin (27/10/2014).

Menurut Meti, selama ini wisatawan yang berkunjung dari berbagai daerah yang melakukan perjalanan wisata budaya di kawasan Baduy mereka tertarik kain Baduy. Wisatawan domestik yang datang ke sini ingin mengetahui kehidupan warga Baduy. Bahkan, banyak juga wisatawan membeli produk kerajinan Baduy dengan jumlah banyak. "Pengunjung membeli kain tenun Baduy untuk dijadikan kenang-kenangan dengan alasan tradisional juga memiliki nilai seni," katanya.

Benang bahan baku kain tenunan didatangkan dari Majalaya Bandung, Jawa Barat. Kerajinan kain tenunan dikerjakan kaum perempuan dengan peralatan secara manual manual.

Biasanya, lanjut Meti, untuk mengerjakan kain dengan ukuran 3x2 meter persegi bisa dikerjakan selama sepekan.

Pengerjaan kain tenun sambil duduk di balai-balai rumah yang terbuat dari dinding bambu dan atap rumbia. "Kami sangat terbantu pendapatan ekonomi keluarga dengan kerajinan kain Baduy itu," katanya.

Salah seorang perajin warga Baduy Luar, Jali, mengaku selama ini permintaan kain dan batik Baduy meningkat sehingga wisatawan domistik dari luar daerah setiap hari datang ke perkampungan Baduy.

Harga kain tenun dan pakaian batik Baduy tergantung kualitas mulai Rp 70.000 sampai Rp 350.000. "Kini banyak wisatawan domestik semakin mencintai produk Baduy," katanya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Lebak, Wawan Ruswandi mengatakan, pihaknya terus melakukan pembinaan diversifikasi produk kerajinan tenun dan batik Baduy. Saat ini, tercatat 50 perajin tenun dan batik Baduy terus dikembangkan karena dapat menumbuhkan ekonomi lokal.

Pemerintah daerah juga memperkenalkan tenunan hasil karya perajin Baduy pada pameran-pameran pembangunan yang diselenggarakan di Banten maupun DKI Jakarta.

Sebab kain tenun Baduy memiliki nilai tradisional dan hasil produk dalam negeri. Bahkan, sekarang produk kain dan batik Baduy sudah banyak dipakai oleh pegawai negeri sipil (PNS) remaja, usia lanjut dan siswa sekolah.

Mereka berbusana pakaian batik Baduy itu, selain digunakan untuk sehari-hari juga undangan. "Kami optimistis produk tenun Baduy itu bisa mendunia karena kualitasnya cukup bagus dan unik," katanya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorI Made Asdhiana
SumberAntara
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X