Kompas.com - 02/11/2014, 11:54 WIB
MATAHARI baru saja tergelincir di balik rangkaian Gunung Gawalise di sisi barat Kota Palu, Sulawesi Tengah. Sinar kuning keemasannya masih tersisa di tetumbuhan yang kering kerontang di tepi kali mati di Kelurahan Lasoani, Kecamatan Mantikulore, Kamis (16/10) sore itu.

Dengan wajah ceria, sekitar 150 warga, didominasi perempuan dan anak-anak, berdiri membentuk lingkaran di halaman satu rumah darurat. Suasana khidmat. Tak ada suara celetukan dari anak-anak sekalipun.

Mereka menatap lurus seorang lelaki renta yang keluar dari dalam rumah panggung itu dengan seikat ranting dedaunan di tangan kanan. Ia didampingi seorang lelaki lebih muda dan seorang ibu tua. Si lelaki membawa baki berisi air yang ditabur dengan daun pandan. Sementara si ibu memegang piring berisi beras berwarna kuning.

Makko (52), si lelaki renta itu, mencelupkan ikatan dedaunan ke dalam baki. Ia lalu memercikkan air ke kerumunan di depannya. Para warga menunduk. Mereka yang kebagian percikan air itu membiarkan titiknya meresap. Air tak dilap.

Tiga kali Makko mengelilingi lingkaran kerumunan warga. Tak terhitung berapa kali ia memercikkan air ke para warga. Siraman air itu disempurnakan dengan siraman bulir beras kuning. Dua baki air dihabiskan dalam ritual itu. Dua piring beras berwarna kuning juga ludes.

Setelah ritual itu rampung, warga berteriak girang. Sebagian menyalami Makko. Lebih banyak lagi memeluk lelaki kurus itu. Makko meneteskan air mata. ”Saya senang mendapat tugas memercikkan air kepada mereka,” ujarnya sambil menunjuk kerumunan yang mulai lepas.

Pemercikan air tersebut dalam bahasa Kaili, suku dominan di Sulawesi Tengah, disebut wempa. Ini salah satu episode dari ritual tolak bala, tolak penyakit, atau semacam penyembuhan massal yang disebut pompaura posunu rumpu. Pompaura berarti ’mengembalikan’, posunu artinya ’menggeser, menyingkirkan atau membersihkan’, dan rumpu dalam bahasa Indonesia berarti ’rumput atau kotoran’. Secara etimologis, pompaura posunu rumpu dapat diartikan ’membersihkan atau menyingkirkan kotoran atau rumput dan mengembalikan kepada pemilik’.

Dibersihkan

Masyarakat Kaili yakin, segala macam bencana, wabah penyakit, atau hal-hal buruk lain yang dialami manusia tak lepas dari tindakannya. Hal-hal buruk tersebut dibersihkan melalui sebuah upacara penyembuhan massal.

”Upacara ini bisa mencegah hal-hal yang kurang baik agar jangan sampai terjadi di sebuah kampung. Bisa juga untuk mengusir atau membersihkan warga kampung yang menderita sebuah penyakit. Satu orang yang kena sakit, semua ikut upacara, supaya tidak kena penyakit yang sama,” tutur Baharudin (74), tokoh adat Kelurahan Lasoani yang memimpin upacara.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Sumber Antara
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.