Kompas.com - 22/11/2014, 09:17 WIB
|
EditorI Made Asdhiana

JAKARTA, KOMPAS.com – Rusmini sibuk mengaduk-aduk panci besar berisi kuah panas. Di depannya, beberapa orang mengantri untuk mencicipi seporsi bakso yang dijajakannya. Ya, nama Rusmini semakin melambung setelah warung makan dengan nama ‘Lontong Rusmini’ banyak dikenal orang. Kali ini berbeda, ia tak menjajakan lontong melainkan bakso. Tapi tetap dengan harapan yang sama, makanan yang dijajakannya laku dan diterima masyarakat.

“Bakso itu menjadi makanan bonus yang saya tawarkan tiap ada festival seperti ini,” ungkapnya yang ditemui di pergelaran Jakarta Street Food Festival 14-30 November 2014, La Piazza, Kelapa Gading.

Sehari-hari, Rusmini memang menjajakan lontong sayur tapi kalau ada festival jajanan, bakso yang pembuatannya lebih mudah dinilai lebih menguntungkan. “Seperti namanya ‘Radja’, bakso ini menjadi bakso dengan cita rasa yang seperti selera raja (paling enak) dengan begitu harapan saya ternyata tercapai. Masyarakat banyak yang suka dan laku sekali,” ungkap wanita kelahiran 1967 tersebut.

KOMPAS.com/SRI NOVIYANTI Rusmini sibuk melayani pembeli di Jakarta Street Food Festival.

Dalam pergelaran festival kuliner, Rusmini bisa menjual rata-rata hingga 400 porsi per hari. Satu porsi Bakso Radja berisi bakso besar pilihan urat dan isi telur, 4 bakso urat kecil dan satu tahu isi bakso dan bihun.

Sepiring bakso dijual seharga Rp 29.000. Harga ini cukup mahal dibanding dengan bakso yang dijajakan oleh penjual lainnya. Tapi Rusmini memberi garansi pada sajian bakso miliknya. Bila dikalkulasi untuk tiap pergelaran festival yang diadakan selama 1 sampai 2 minggu, Rusmini bahkan dapat mengantongi Rp 200 juta dari penjualan baksonya.

“Boleh diadu dengan rasa bakso lainnya. Saya garansi, rasa daging sapi lebih terasa. Ini kuncinya. Kelezatan bakso itu tentu dari rasa bakso sampai kuah yang nikmat. Pelanggan akan datang dengan sendirinya,” tambahnya.

Rusmini mengaku, bakso-bakso yang dibuat memiliki perbandingan daging sapi lebih banyak dibanding tepung yang dipakai sebagai adonan. Sedang untuk kuah kaldu, Rusmini memakai dengkul kaki sapi untuk menambah cita rasa. “Kaldu dari rebusan dengkul sapi itu sangat nikmat karena dalam dengkul itu ada sumsum, orang banyak sekali yang suka,” ulasnya sambil kembali melayani pembeli.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.