Kompas.com - 22/11/2014, 15:11 WIB
Wihara Dharmakaya di Jalan Siliwangi, kawasan pecinan Bogor. Awalnya merupakan tempat peristirahatan yang dibangun sebuah keluarga Tionghoa di Batavia. Dari puncak menara, yang bisa disetarakan dengan pagoda, tampak pemandangan Gunung Salak nan membiru. Agni MalaginaWihara Dharmakaya di Jalan Siliwangi, kawasan pecinan Bogor. Awalnya merupakan tempat peristirahatan yang dibangun sebuah keluarga Tionghoa di Batavia. Dari puncak menara, yang bisa disetarakan dengan pagoda, tampak pemandangan Gunung Salak nan membiru.
EditorNi Luh Made Pertiwi F

MEMASUKI halaman muka Wihara Dharmakaya, kita disuguhi pemandangan bangunan klenteng yang tak biasa. Gedung berarsitektur campuran gaya Eropa, Tiongkok, Indonesia berpadu dengan warna merah simbol kebahagiaan. Awalnya bangunan ini merupakan wihara Buddha yang dikenal sebagai Kwan Im Bio.

Saya lebih suka menjulukinya “Si Klenteng Cina Rasa Eropa”. Bangunan ini memiliki menara di sisi kanannya yang berjendela gaya gotik. Tampaknya, menara ini disetarakan dengan pagoda. Pagoda yang dalam bahasa Sansekerta disebut stupa, yang merupakan langgam bangunan asli India, dikenal dengan nama “dhagoba”—berasal dari “dhatu-garbha”. Artinya, tempat penyimpanan keramat yang dalam agama Buddha merupakan simbol ketaatan yang tak tertandingi.

Orde baru telah mengganti nama klenteng ini dari Kwan Im Bio menjadi wihara Dewi Chandra Naga Sari, dan sekarang berubah menjadi vihara Dharmakaya. Wihara ini dikelola oleh Wihara Vajra Bodhi yang bertempat di Tajur, Bogor. Rupanya, bangunan ini merupakan bekas bangunan langgam arsitektur Eropa yang pernah disebut warga sebagai “Gredja Boeloloe”.

Istilah “klenteng” merupakan adaptasi hasil pendengaran penduduk lokal terhadap bunyi dari “Guan Yin Ting” (kediaman Dewi Kwan Im atau Kwan Im Teng dalam bahasa Hokkian). Sepanjang pecinan Bogor di Jalan Suryakencana hingga Jalan Siliwangi terdapat tiga buah klenteng: Hok Tek Bio (Wihara Dhanagun), Klenteng Phanko (Pan Ku), dan Wihara Dharmakaya yang terletak di Jalan Siliwangi.

Konon, bangunan tersebut merupakan vila keluarga Tionghoa asal Kwitang, Batavia—kini Jakarta Pusat—pada awal abad ke-20. Kemudian didarmakan untuk biara, dan pada awal 1940-an, klenteng ini dikelola oleh seorang biarawati atau suhu wanita yang bernama Tan Eng Nio.

Bubungan pada atap sisi depan bergaya atap ekor walet yang merupakan bangunan dengan arsitektur khas daerah selatan Tiongkok. Dua naga saling berhadapan, dengan imaji bulat dengan rambut api yang berada di antara keduanya. Inilah ciri khas atap klenteng.
 
Dalam tradisi Tiongkok, naga merupakan simbol kekuatan “Yang” dan simbol kesuburan. Naga pun dapat dimaknai sebagai lambang supremasi kekuatan tertinggi dalam dunia mitologi Tiongkok. Sementara, imaji bulatan berambut api dapat diinterpretasikan sebagai mutiara, matahari, atau bulan.

Tidak seperti klenteng lain, tak ada ukiran dan pahatan motif poenix, naga atau bunga dedaunan pada bubungan atap vihara Dharmakaya.

Dua singa penjaga gerbang pun menyambut kadatangan setiap tamu. Kedua patung singa ini biasa diletakkan di muka bangunan pemerintahan dan wihara/klenteng. Singa yang terletak di sebelah kanan biasanya lengkap dengan ornamen bola di kaki kanannya. Simbol laki-laki atau kekuatan maskulin. Sementara singa di sebelah kiri dengan anak singa di kaki kirinya merupakan simbol kekuatan feminin. Keduanya merupakan penjaga bangunan penting dan simbol harmoni Yin dan Yang.

Agni Malagina Ruangan dalam Wihara Dharmakaya yang memadukan beragam budaya: tradisi Tiongkok dan arsitektur indis. Tampak hiasan pintu bergaya neoklasik dengan balutan art-deco khas awal abad ke-20 yang menghubungkan dua ruangan.

Teras bangunan indis ini memiliki pintu dengan ornamen pada papan jati berupa ukiran ular naga dan burung phoenix. Satwa bersayap itu merupakan mahkluk supranatural dalam kepercayaan tradisional Tiongkok yang merupakan simbol kekuatan Yin, pelengkap Yang yang dimiliki oleh Naga. Keduanya merupkan simbol harmoni.

Pada sisi lain terdapat gambar kelelawar sebagai simbol kemakmuran. Keindahan bangunan ini pun disempurnakan oleh lengkung-lengkung bingkai pintu dan jendela khas bangunan Indis. Tak ketinggalan lantai keramik djadoel bercorak dekoratif kuning kunyit dan coklat yang menambah kesan antik bangunan tersebut.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.