Kompas.com - 30/11/2014, 09:25 WIB
|
EditorI Made Asdhiana
BENGKULU, KOMPAS.com - Delapan orang berpakaian serba hitam berbaris dua di atas sebuah panggung pertunjukkan, satu bubu sejenis alat perangkap ikan yang terbuat dari rautan bambu dijalin rotan tampak diselubungi pakaian berwarna hitam. Setelah memberi hormat kepada penonton, delapan pria ini duduk, satu orang memegang alat tangkap ikan itu, satu lagi memegang jalinan lidi kelapa yang dipukul ke sebuah triplik berukuran kecil dan menghasilkan bebunyian.

Si pemukul tersebut selain memukulkan lidi kelapa ke triplek menghasilkan bunyi tampak bernyanyi dengan bahasa "suku lembak delapan". Menakjubkan, saat triplek dipukul menghasilkan bunyi, alat tangkap ikan tersebut mendadak seperti menari melompat-lompat, seperti ada sesuatu yang tak terlihat mata menggerakkan bubu itu melompat-lompat.

Si pemegang bubu tampak berusaha memegang alat tangkap ikan itu, semakin keras lidi yang dijalin sedemikian rupa dengan benang tiga warna yakni, hitam, merah dan putih, memukul triplek menghasilkan bebunyian, maka semakin kencang pula bubu itu melompat. Saat si pemukul dan pemegang bubu lelah maka akan terus diganti dengan pria lain yang berpakaian serba hitam, mereka terus bernyanyi dan berputar-putar, ke mana pun si pemukul berlari maka bubu yang diselimuti pakaian hitam itu mengikuti sambil melompat. Permainan akan berhenti saat bubu tersebut terjatuh atau bubu rusak dan patah.

Inilah jenis permainan rakyat masyarakat Suku Lembak Delapan, salah satu suku yang menempati wilayah Provinsi Bengkulu. Permainan rakyat tradisional tersebut dinamakan "Luko Gilo" atau "bubu gila". Menyaksikan permainan khas rakyat tersebut sudah langka saat ini di tengah derasnya permainan berbasis teknologi tinggi dan individualistik.

Husni Thamrin, pemimpin kelompok permainan itu, saat dijumpai usai pertunjukan mengisahkan, permainan itu tercipta oleh leluhur mereka Suku Lembak Delapan. Menurut Husni, ada semacam mantera yang memang mereka ucapkan saat memainkan permainan rakyat itu. Mereka meyakini yang menggerakkan bubu tersebut adalah roh dari leluhur yang mereka panggil. "Yang menggerakkan bubu itu adalah roh leluhur kami," kata Husni Thamrin, Sabtu (29/11/2014).

Untuk mempelajari permainan tersebut dibutuhkan waktu sekitar satu bulan dan ada beberapa hafalan mantera yang harus diingat. Selebihnya tak ada syarat khusus. "Dahulu permainan ini dilakukan saat petani selesai panen, ada pesta pernikahan, sifatnya ini permainan menghibur masyarakat," katanya.

Memang dibutuhkan semacam pawang yang ditugaskan untuk mengantisipasi bila pemain mengalami kerasukan. Bahkan, tidak saja pemain, penonton pun bisa mengalami kerasukan. Permainan ini nyaris sama seperti kuda lumping. "Tak banyak generasi muda yang mau mempelajari permainan ini, kami khawatir permainan rakyat ini akan hilang jika tak dilestarikan," kata Husni.

Husni menjelaskan, bila durasi permainan panjang biasanya para penonton ikut dilibatkan untuk memegangi bubu yang melompat secara misterius itu, sekadar membuktikan jika melompatnya bubu tersebut bukan rekayasa pemain.

Sementara itu Edo, salah seorang penonton yang sudah 30 tahun tinggal di Bengkulu mengaku baru kali ini menyaksikan permainan Bubu Gila. "Ini pertama kali saya menyaksikannya. Menurut saya untuk kelestarian budaya permainan ini perlu terus dipelajari terutama generasi muda," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tarif BBM Naik, Kunjungan Wisata ke Gunungkidul Tetap Stabil

Tarif BBM Naik, Kunjungan Wisata ke Gunungkidul Tetap Stabil

Travel Update
3 Hotel Instagramable Dekat Universal Studios Singapura

3 Hotel Instagramable Dekat Universal Studios Singapura

Jalan Jalan
Potensi Wisata Jalur Pantai Selatan Flores, Tak Kalah dari Tengah dan Utara

Potensi Wisata Jalur Pantai Selatan Flores, Tak Kalah dari Tengah dan Utara

Travel Update
Garuda Indonesia Buka Lagi Rute Makassar-Denpasar, Per 7 Oktober 2022

Garuda Indonesia Buka Lagi Rute Makassar-Denpasar, Per 7 Oktober 2022

Travel Update
Jalan-jalan Tanpa Masker di Singapura, ke Merlion Park hingga Little India

Jalan-jalan Tanpa Masker di Singapura, ke Merlion Park hingga Little India

Travel Update
15 Wisata Air Terjun di NTT, Masih Asri untuk Dijelajahi

15 Wisata Air Terjun di NTT, Masih Asri untuk Dijelajahi

Jalan Jalan
Berencana Jalan-jalan di Jakarta? Ini 5 Tempat Wisata Terkini yang Wajib Dikunjungi

Berencana Jalan-jalan di Jakarta? Ini 5 Tempat Wisata Terkini yang Wajib Dikunjungi

BrandzView
Hindari Pakai Baju Putih Saat Bikin Paspor, Ini Alasannya

Hindari Pakai Baju Putih Saat Bikin Paspor, Ini Alasannya

Travel Tips
Cara Reservasi Kunjungan ke Wisata Baru Garut Antapura De Djati

Cara Reservasi Kunjungan ke Wisata Baru Garut Antapura De Djati

Travel Tips
Harga Tiket Masuk dan Jam Buka Telaga Cebong di Desa Tertinggi Pulau Jawa

Harga Tiket Masuk dan Jam Buka Telaga Cebong di Desa Tertinggi Pulau Jawa

Travel Tips
Antapura De Djati, Tempat Nikmati Suasana Ala Ubud di Garut

Antapura De Djati, Tempat Nikmati Suasana Ala Ubud di Garut

Travel Update
Lion Air Terbang Lagi dari Bandara Kertajati ke Arab Saudi, Layani Ibadah Umrah

Lion Air Terbang Lagi dari Bandara Kertajati ke Arab Saudi, Layani Ibadah Umrah

Travel Update
5 Tips Wisata ke Museum MACAN Jakarta, Jangan Bawa Kamera

5 Tips Wisata ke Museum MACAN Jakarta, Jangan Bawa Kamera

Travel Tips
4 Wisata di Desa Sembungan, Konon Ada Paku Pulau Jawa

4 Wisata di Desa Sembungan, Konon Ada Paku Pulau Jawa

Jalan Jalan
Vihara Tri Dharma Bumi Raya, Wisata Religi Baru di Singkawang

Vihara Tri Dharma Bumi Raya, Wisata Religi Baru di Singkawang

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.