Menelusuri Sejarah Suram Lobang Jepang di Bukittinggi

Kompas.com - 03/12/2014, 10:51 WIB
Untuk masuk ke dalam Lobang Jepang di Bukittinggi, Sumbar, pengunjung harus melewati tangga dengan kedalaman 64 meter. KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATIUntuk masuk ke dalam Lobang Jepang di Bukittinggi, Sumbar, pengunjung harus melewati tangga dengan kedalaman 64 meter.
|
EditorI Made Asdhiana
"TIDAK terhitung sudah ribuan orang tewas untuk membangun Lobang Jepang ini. Kami menyebutnya lubang, bukan goa. Karena lubang ini memang dibuat oleh Jepang pada masa penjajah dulu," jelas Jimmy salah satu pemadu wisata kepada Kompas.com, Minggu (30/11/2014).

Lobang Jepang sendiri berada di Taman Panorama yang berada di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Jam Gadang yang berada di pusat kota. Jika jalan kaki hanya membutuhkan waktu kurang dari 15 menit.

Menurut Jimmy, lubang tersebut di buat atas instruksi Letjen Moritake Tanabe Panglima Divisi ke 25 Angkatan Darat Balatentara Jepang. Lubang perlindungan tersebut, konon mampu menahan letusan bom seberat 500 kg. Konstruksi lubang ini dikerjakan sejak Maret 1944 dan selesai pada awal Juni 1944 dengan total pembuatan selama kurang lebih 3 tahun dengan kedalaman mencapai 49 meter di bawah permukaan tanah.

"Untuk membangun lubang ini, Jepang mempekerjakan secara paksa orang-orang yang berasal dari Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Tidak ada orang Bukittinggi yang mengerjakan lubang ini untuk menjaga kerahasiaan. Orang sini malah dikirim ke wilayah lain seperti Bandung dan Pulau Biak," jelas Jimmy.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Pintu masuk menuju Lobang Jepang di Taman Panorama Bukittinggi, Sumatera Barat.
Menurut Jimmy, Lobang Jepang di Bukittinggi merupakan salah satu lubang yang terpanjang di Asia mencapai lebih dari 6 kilometer dan beberapa tembus di sekitar kawasan Ngarai Sianok, Jam gadang yang terletak di samping Istana Bung Hatta, dan juga di Benteng Fort De Kock yang masuk di wilayah Kebun Binatang Bukittinggi.

Saat ditemukan pertama kali pada awal tahun 1950, pintu Lobang Jepang hanya 20 cm dengan kedalaman 64 meter. Lalu setelah dikelola dan dibuka secara umum oleh pemerintahan setempat pada tahun 1984, mulut lubang tersebut dibuat lebih nyaman untuk dilalui. Sayangnya dinding telah ditutup semen dan di bagian dalam juga banyak divariasikan untuk memasang panel listrik sehingga kehilangan bentuk aslinya.

Selain itu juga banyaknya coretan di dinding yang dilakukan oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab. "Pintu masuk utama melalui Taman Panorama dan untuk turun kita harus melewati ratusan anak tangga ke bawah yang nanti akan tembus di tepi jalan," jelasnya.

Sambi menelusuri tangga, Jimmy menceritakan untuk kebutuhan wisata, lorong Lobang Jepang yang dibuka hanya kurang dari 1,5 kilometer sehingga hanya membutuhkan paling lama 20 menit untuk sampai di ujung jalan. Sedangkan lubang yang mengarah ke Ngarai diberi teralis. "Ada 21 lorong kecil yang fungsinya bermacam-macam mulai sebagai ruang amunisi, ruang pertemuan, pintu pelarian, ruang penyergapan serta penjara. Namun yang menyeramkan adalah ruang dapur yang juga difungsikan untuk memotong-motong tahanan yang sudah tewas lalu dibuang melalui lubang air ke bawah," jelasnya.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Lobang Jepang di Bukittinggi, Sumatera Barat.
Ruang dapur sendiri berada tepat di sebelah ruang penjara. Jimmy menunjukkan lubang kecil yang berada di ujung bawah dapur. "Tahanan yang tewas akan dipotong-potong di meja itu lalu potongannya dibuang di lubang ini. Mengapa dipotong? Agar tidak nyangkut di lubang yang mengarah ke Ngarai Sianok sehingga jasadnya akan sulit ditemukan. Nah kalau bagian atas ini adalah menara pengintai, " jelasnya sambil mengarahkan senter ke bagian atas.

"Memang sengaja ditutup dengan trali besi," tambahnya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X