Menelusuri Sejarah Suram Lobang Jepang di Bukittinggi

Kompas.com - 03/12/2014, 10:51 WIB
Salah satu ujung dari Lobang Jepang di Bukittinggi, Sumatera Barat. KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATISalah satu ujung dari Lobang Jepang di Bukittinggi, Sumatera Barat.
|
EditorI Made Asdhiana

Ia juga menunjukkan kontur dinding lubang yang dibuat tidak merata dan berceruk. Fungsi dari cerukan tersebut adalah agar suara dalam lubang tidak bergema. "Jadi jika ada tahanan yang disiksa maka suaranya ya hanya sebatas lorong ini saja. Lihat dindingnya. Jika terkena air maka akan semakin kuat," jelasnya.

Lantas Jimmy menunjukkan lubang penjara yang sudah ditutup bagian ujungnya. "Dulu di sini bukan hanya untuk memenjarakan mereka yang melawan dan tidak mau bekerja. Penjara ini juga berfungsi untuk memenjarakan perempuan-perempuan sebagai budak seks Jepang. Mereka tidak diberi makan berhari-hari sehingga banyak yang tewas," jelasnya.

Pada saat gempa pun, Lobang Jepang tersebut terbukti kuat. Ia mencontohkan saat terjadi gempa beberapa waktu yang lalu hanya lapisan semen yang rontok, sedangkan kontur dindingnya tetap utuh. "Di dalam sini sekarang ada alat khusus yang mendeteksi jika ada gempa maka sinyalnya akan menyala. Hal ini untuk mengantisipasi keamanan pengunjung agar bisa segera di evakuasi," katanya.

Jimmy juga bercerita saat belum dibuka untuk umum, masyarakat banyak menemukan tengkorak dan alat untuk membangun seperti cangkul. Termasuk juga peralatan makanan yang terbuat dari batok kelapa dan bambu. "Semuanya sudah dimuseumkan," ujar lelaki lajang yang mengaku menjadi guide atau pemandu wisata sejak berumur 7 tahun tersebut.

Pintu masuk Lobang Jepang berada di Taman Panorama yang memiliki pemandangan ngarai cukup indah. Biasanya wisatawan akan ditemani pemandu yang akan menarik biaya sekitar Rp 60.000 dan akan keluar melalui lubang di ujung lain. Namun jika Anda tidak ditemani oleh pemandu, biasanya Anda perlu memberikan sedikit tips kepada mereka untuk membuka jika tidak ingin kembali ke pintu masuk dan melewati tangga yang mencapai 132 anak tangga.

Jika Anda mengunjungi Bukittinggi, luangkan waktu mengunjungi Lobang Jepang untuk mengetahui bagian dari sejarah Indonesia. Seperti kata Presiden Soekarno, "Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah."

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X