Mampir di Rumah Rohana Kudus, Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia

Kompas.com - 05/12/2014, 12:08 WIB
KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Rumah Kerajinan Amai Setia yang didirikan Rohana Kudus di Koto Gadang, Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat.
CUACA gerimis saat Kompas.com menginjakkan kaki di Koto Gadang yang masuk wilayah Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, Minggu (30/11/2014). Gunung Singgalang dan Gunung Marapai menjulang tinggi dengan hamparan sawah yang hijau melengkapi gerimis yang turun sekitar jam 3 sore. "Kalau sudah di sini tidak lengkap kalau tidak datang ke tempat Rohana Kudus. Dia jurnalis perempuan pertama Indonesia. Dia kelahiran Koto Gadang," ucap Syahmad, salah seorang penjual kedai kopi kepada Kompas.com dengan rasa bangga.

Bukan hanya Rohana Kudus, Syahmad juga menceritakan jika banyak tokoh-tokoh nasional seperti KH Agus Salim, Sultan Shahrir, Emil Salim termasuk juga Boy Rafli Amar (Kabag Penerangan Umum Divisi Humas Mabes Polri) lahir di nagari (setingkat desa) tersebut. "Lihat ini saya sempat foto dengan Pak Boy saat dia berkunjung ke sini," katanya sambil memperlihatkan foto yang dipasang di depan kedainya.

Syahmad sudah tidak ingat lagi berapa banyak tokoh nasional yang lahir di Koto Gadang. "Termasuk Sjaiful Anwar yang namanya dijadikan nama rumah sakit di Malang Jawa Timur. Dia kelahiran sini," tambahnya.

Termasuk juga Tifatul Sembiring yang telah membangun jalan pintas dari Bukit Tinggi menuju Koto Gadang sehingga jaraknya lebih dekat. "Kalau memutar jaraknya sekitar 9 kilometer tapi lewat jalan pintas tangga dan jembatan ini lebih pendek jaraknya jika ke Bukittinggi. Jalan kaki sekitar 15 menit," jelasnya.

Syahmad menyarankan Kompas.com segera ke rumah Kerajinan Amai Setia milik Rohana Kudus karena biasanya rumah kerajinan tersebut tutup jam 5 sore. "Tidak begitu jauh. Rumah kerajinan tersebut peninggalan Rohana Kudus termasuk dekat dengan rumah pribadinya. Tapi rumahnya sudah kosong," katanya.

Mengikuti petunjuk arah dari Syahmad, Kompas.com akhirnya menemukan sebuah rumah panggung kuno dengan tulisan "Keradjinan Amai Setia 1915". Rumah tersebut tepat di tepi jalan utama Koto Gadang. Di dalam rumah panggung kuno tersebut terdapat hasil sulaman dan hiasan perak khas Koto Gadang.

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Rumah pribadi Rohana Kudus di Koto Gadang di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, dalam keadaan kosong karena keluarga besarnya tinggal di Jakarta.
Kompas.com di sambut Uni Ira, salah satu pengurus Yayasan Amai Setia. Perkumpulan yang didirikan Rohana Kudus yang kemudian berkembang menjadi institusi pendidikan dan tempat pemberdayaan ekonomi perempuan pertama di Minangkabau. "Tidak banyak yang mengenal Rohana Kudus. Tapi di luar Sumatera Barat namanya begitu terkenal terutama di luar negeri. Saya sering terkaget-kaget jika menerima tamu peneliti dari luar negeri. Ibu Rohana Kudus adalah perempuan yang hebat," jelas Uni Ira.

Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884. Ayahnya bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan yang berprofesi sebagai jurnalis. Sedangkan ibunya bernama Kiam yang bekerja sebagai ibu rumah tangga. Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga bibi dari penyair Chairil Anwar. Rohana Kudus juga merupakan sepupu dari KH Agus Salim.

Selain itu Rohana Kudus yang hidup di zaman yang sama dengan RA Kartini tersebut merupakan jurnalis perempuan pertama yang dimiliki Indonesia. Rohana yang menggeluti dunia tulis menulis menerbitkan surat kabar perempuan yang diberi nama "Sunting Melayu" pada 10 Juli 1912 dengan pemimpin redaksi, redaktur dan penulisnya semuanya adalah perempuan.

"Sekolah Kerajinan Amai Setia ini didirikan Ibu Rohana sebagai sekolah keterampilan khusus perempuan. Beliau banyak belajar menyulam, menjahit, merenda dan merajut dari istri pejabat Belanda yang menjadi tetangganya saat tinggal di Alahan Panjang. Dia juga banyak membaca majalah terbitan Belanda dan menularkan ilmunya pada perempuan-perempuan disini," jelasnya.

Rohana Kudus kembali ke Koto Gadang dan menikah pada usia 24 tahun dengan Abdul Kudus yang berprofesi sebagai notaris. Ia lalu mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia pada 11 Februari 1911. Di sekolah tersebut, ia mengajarkan perempuan di desanya mengelola keuangan, tulis baca, budi pekerti, pendidikan Agama Islam dan Bahasa Belanda. "Ibu Rohana juga mengumpulkan kerajinan milik muridnya seperti sulaman lalu dijual ke Eropa. Beliau juga mendirikan koperasi simpan pinjam dan jual beli yang semua anggotanya adalah perempuan," tambah Uni Ira.

WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA Suasana panorama obyek wisata Janjang Koto Gadang di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Sabtu (1/6/2013). Janjang Koto Gadang atau Tangga
Pada saat Belanda melakukan serangan, Rohana juga mendirikan dapur umum untuk para gerilyawan. Ia juga menyumbangkan ide penyelundupan senjata dari Koto Gadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan menyembunyikan dalam sayuran dan buah-buahan. Menurut keterangan Uni Ira, Rohana Kudus juga pernah memimpin surat kabar "Perempuan Bergerak" di Medan. Ia juga pernah menjadi redaktur surat kabar "Radio" yang diterbitkan Tionghoa Melayu di Padang serta surat kabar "Cahaya Sumatera".

"Selama hidup, Ibu Rohana Kudus terus memperjuangkan nasih perempuan lewat sekolah ini dan profesinya sebagai jurnalis," kata Uni Ira dengan suara pelan.

"Kami perempuan yang tinggal di sini bangga kepada beliau. Ibu Rohana Kudus bukan hanya milik Koto Gadang. Ia milik Indonesia walaupun generasi muda saat ini tidak pernah mengetahui sejarah tentang beliau. Bagi kami dia adalah panutan. Benar-benar Amai Setia. Ibu yang setia dengan pilihan hidupnya," sambung Uni Ira.

Senja mulai tiba dan kabut sudah turun menyelimuti Koto Gadang ketika Kompas.com berdiri di halaman rumah pribadi Rohana Kudus. Rumah pribadi Rohana Kudus tidak terlalu jauh dari rumah kerajinan yang hanya sekitar 300 meter. Rumah yang didominasi warna cokelat tersebut kosong. Tidak ada satu pun pengunjung yang ditemui oleh Kompas.com. Hanya ada papan nama yang bertuliskan nama Rohana Kudus di atas pintu.

WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA Warga berjalan melintasi tangga obyek wisata Janjang Koto Gadang di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Sabtu (1/6/2013). Janjang Koto Gadang atau Tangga
Namun Kompas.com dapat merasakan aroma perjuangan dari rumah tersebut. Membayangkan seorang perempuan yang sibuk mengajarkan sulaman dan membaca kepada kaumnya. Seorang perempuan gigih yang mengantarkannya mendapatkan perhargaan sebagai Jurnalis Perempuan pertama Indonesia pada hari Pers ke 3 tahun 1974. Seorang perempuan yang memperoleh penghargaan sebagai Perintis Pers Indonesia dari Menteri Penerangan Harmoko.

Rohana, merupakan seorang perempuan asal Koto Gadang yang telah mendapatkan anugerah Bintang Jasa Utama. Dia adalah perempuan yang dimiliki Indonesia walaupun namanya tidak begitu terkenal seperti RA Kartini atau Dewi Sartika. Perempuan pejuang “mande” urang awak ini, bernama Rohana Kudus. Sejarahnya tertinggal di dekat Ngarai Sianok. Namanya Nagari Koto Gadang.



EditorI Made Asdhiana

Close Ads X