Kompas.com - 16/12/2014, 15:14 WIB
Patung Bunda Maria di Puncak Wolowio, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. KOMPAS.COM/MARKUS MAKURPatung Bunda Maria di Puncak Wolowio, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
|
EditorI Made Asdhiana
ADA apa sesungguhnya di Bukit Wolowio, Kampung Wolowio, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur? Pertanyaan itu disampaikan sekelompok Komunitas Tritunggal Mahakudus, dari Paroki Santo Arnoldus dan Yoseph, Waelengga, Keuskupan Ruteng sebelum berwisata sambil berziarah ke Bukit Wolowio, Minggu (7/12/2014) lalu.

Berawal dari sebuah informasi bahwa ada bukit di Kabupaten Ngada yang sering dikunjungi dan menjadi tempat ziarah baru di Keuskupan Agung Ende. Setelah mengumpulkan informasi itu, komunitas doa ini berdiskusi untuk berziarah ke tempat itu. Mereka sepakat mengumpulkan uang masing-masing Rp 50.000 per orang untuk membiayai transportasi dari Kota Waelengga ke bukit tersebut.

Bahkan Kompas.com pun tertarik dengan informasi itu. Akhirnya wartawan Kompas.com bersama keluarga ikut dalam rombongan sambil dalam hati menulis tentang keindahan bukit tersebut.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Para peziarah naik kendaraan menuju Puncak Wolowio, di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Mulailah perjalanan dari Kota Waelengga dengan truk beratap kayu. Rombongan bergegas naik truk yang disopiri oleh Om Flori dengan kendaraannya, Credo. Sebanyak 30 orang rombongan bertanya-tanya dalam hati tentang Puncak Wolowio yang selalu dibicarakan warga masyarakat lainnya yang sudah pulang dari sana. Sebagian rombongan menggunakan sepeda motor.

Dari Kota Waelengga berjalan di pinggir pantai Aimere. Berjalan terus sampai di perjalanan berkelok-kelok dari Kota Aimere sampai di terminal Watu Jaji. Ada satu tikungan yang seperti ular merayap. Nama tikungan itu adalah Tikungan Kaju Ala. Semua sopir yang melintasi jalan negara itu baik dari arah Maumere menuju Labuan Bajo dan sebaliknya harus hati-hati mengendarai kendaraan karena ada beberapa kali kejadian kecelakaan di jalan tersebut. Beruntung penumpang tidak mabuk dan muntah.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Kota Bajawa dipotret dari Puncak Wolowio, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Selanjutnya, rombongan memasuki kota dingin Bajawa dan meneruskan perjalanan menuju ke Puncak Wolowio. Sebanyak dua kali, rombongan yang diantar Om Flori tersesat. Beruntung berbekal pepatah, "Malu Bertanya Sesat di Jalan", akhirnya sang sopir bertanya kepada warga di pinggir jalan di pedesaan Wolowio. Dengan keramahan sebagai orang Flores, warga memberikan petunjuk jalan menuju ke Puncak Wolowio.

Ada yang sangat menarik, sebelum tiba di Puncak Wolowio, rombongan melewati kebun kopi Arabika ratusan hektar milik petani di pedesaan tersebut. Untuk diketahui bahwa kopi Arabika Bajawa sudah diekspor ke luar negeri.

“Ah kita beruntung berwisata sekaligus berziarah ke Puncak Wolowio karena kita bisa melihat perkebunan kopi Arabika yang ditanami petani di Kabupaten Ngada. Selama ini kita hanya mendengarkan nama Kopi Arabika Bajawa. Nah, hari ini kita melihat sendiri betapa kekayaan kebun kopi Arabika dimiliki warga petani Bajawa," ujar Ibu Margaretha Bupu sekaligus Bendahara Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM), Minggu (7/12/2014), dalam perjalanan ziarah yang didampingi Pastor Paroki Santo Arnoldus dan Yoseph Waelengga, Romo Hieronimus Jelahu, Pr.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Pintu masuk Puncak Wolowio, di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.
Perjalanan melintasi perkebunan Kopi Arabika di pedesaan Wolowio penuh semangat dengan tujuan sampai di Puncak Wolowio. Rombongan perlahan-lahan menuju ke puncak dengan melihat tulisan di pintu masuk bertuliskan, "Selamat Datang di Taman Wisata Rohani Bunda Maria Ratu Semesta Alam".

Nah, mulai dari situ, kekaguman menyelimuti hati dan pikiran rombongan dengan melihat sebuah Patung Bunda Maria yang sangat tinggi. Sang sopir terus mengendarai kendaraan dengan membawa rombongan. Lalu, mata dari seluruh rombongan tertuju ke kemegahan Patung Bunda Maria yang dibangun oleh pekerja yang didatangkan khusus dari Pulau Jawa serta sebuah salib tinggi di sebelahnya. Di bawah salib itu ada Patung Bunda Maria sedang memangku Yesus.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X